Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Lembaga pemeringkat utang global Fitch Ratings memangkas outlook atau proyeksi peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Rabu, 4 Maret 2026. Fitch memproyeksikan rasio utang pemerintah Indonesia akan meningkat menjadi 41% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Angka tersebut naik dibandingkan rasio utang pemerintah Indonesia tahun lalu yang sebesar Rp9.637,9 triliun atau 40,46% terhadap PDB. Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB atau kategori layak investasi (investment grade).
Fitch menyoroti beban pembayaran bunga utang pemerintah Indonesia yang tergolong tinggi. Pada 2025, pembayaran bunga diperkirakan mencapai 17% dari total pendapatan pemerintah, termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara dengan peringkat BBB.
"Revisi outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas potensi erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia," tulis Fitch Ratings dalam keterangan resmi, Rabu (4/3).
Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menggerus sentimen investor, serta menekan penyangga eksternal.
Di sisi lain, penegasan peringkat BBB mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang relatif baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat, serta penyangga eksternal yang dinilai memadai.
Meski begitu, Fitch menilai langkah tersebut masih dibatasi oleh lemahnya penerimaan pendapatan negara, tingginya biaya layanan utang, serta sejumlah faktor struktural yang tertinggal, termasuk indikator tata kelola dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat BBB.
Fitch juga menyoroti tekanan pada sisi penerimaan negara. Lembaga tersebut memperkirakan rasio pendapatan pemerintah Indonesia terhadap PDB rata-rata hanya sebesar 13,3% pada 2026-2027, jauh di bawah median negara BBB sebesar 25,5%. Kondisi ini terjadi di tengah belum adanya langkah signifikan untuk meningkatkan mobilisasi pendapatan.
Pendapatan pemerintah tercatat melemah pada 2025 akibat lemahnya pemungutan pajak, pembatalan hampir seluruh rencana kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 1 poin persentase, serta pengalihan permanen dividen BUMN sekitar 0,4% dari PDB ke dana kekayaan negara (sovereign wealth fund/SWF) yang baru dibentuk, yakni Danantara.
Meski terdapat upaya berkelanjutan untuk memperkuat kepatuhan pajak, Fitch menilai langkah tersebut belum akan menghasilkan peningkatan pendapatan yang material dalam jangka pendek, sehingga ruang fiskal pemerintah tetap terbatas. (E-3)
MOODY'S Investors Service menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, tetapi tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2.
Memasuki Juni 2025, rasio utang naik tipis menjadi 39,86 persen, dengan komposisi pinjaman Rp1.157,18 triliun dan SBN Rp7.980,87 triliun.
Pemerintah memutuskan belum menaikkan PPh 21 karyawan meski ada usulan dari IMF. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
EKONOM Bright Institute Awalil Rizky menyoroti keterbukaan informasi keuangan negara. Rilis APBN Kita sepanjang 2025 tidak lagi menyajikan posisi utang pemerintah secara bulanan.
Esensi dari pengelolaan utang bukan pada besarnya rasio, melainkan pada sejauh mana utang tersebut mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.
Sampai kuartal II 2025 atau per akhir Juni 2025, utang pemerintah mencapai Rp9.138,05 triliun. Angka itu setara dengan 39,86% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Rencana pemerintah menambah utang sebesar Rp781,87 pada APBN 2026 mendatang dinilai sebagai penarikan utang terbesar yang dilakukan pemerintah pascapandemi covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved