Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

IHSG Tertekan di Tengah Konflik Global, Pengamat Sebut Harga Minyak Jadi Risiko Baru

 Gana Buana
04/3/2026 13:23
IHSG Tertekan di Tengah Konflik Global, Pengamat Sebut Harga Minyak Jadi Risiko Baru
IHSG mengalami penurunan tajam setelah sempat menembus level 7.500 dan kini bergerak di bawah 8.000.(MI/Usman Iskandar)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam setelah sempat menembus level 7.500 dan kini bergerak di bawah 8.000. Pelemahan ini dinilai sebagai dampak akumulasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardanal menjelaskan, dari sisi eksternal, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Harga minyak mentah Brent yang telah menembus US$80 per barel menjadi perhatian bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

“Sebagai net oil importer, setiap kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga berpotensi memperlebar beban subsidi dan menambah tekanan terhadap APBN,” ujarnya pada Media Indonesia, Rabu (4/2).

Menurut dia, meningkatnya risiko fiskal tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif. Sentimen negatif pasar semakin menguat setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap berada di level investment grade BBB.

Hendra menilai perubahan outlook tersebut memang bukan penurunan rating, namun pasar mengartikannya sebagai sinyal meningkatnya risiko ekonomi ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan.

“Dalam situasi global yang sudah dipenuhi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro,” katanya.

Selain faktor eksternal, kata Hendra, koreksi IHSG juga dipengaruhi faktor teknikal di pasar. Setelah reli panjang sejak awal tahun, sebagian investor melakukan aksi ambil untung. Pada saat yang sama, pelemahan rupiah akibat arus keluar modal jangka pendek serta kekhawatiran lonjakan inflasi energi turut menambah tekanan.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga dan membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dalam waktu singkat.

Ke depan, hingga akhir Maret, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan sangat dipengaruhi dua faktor utama, yakni harga minyak dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selama harga Brent bertahan di bawah US$90 per barel, tekanan pasar diperkirakan masih terbatas pada volatilitas jangka pendek.

Namun, jika harga minyak mendekati US$100 per barel dan disertai gangguan distribusi di Selat Hormuz, pasar berpotensi memasuki fase risk off yang lebih dalam.

Secara teknikal, area 7.500-7.600 dinilai menjadi zona penopang psikologis penting bagi IHSG. Jika ketegangan geopolitik mereda dan rupiah kembali stabil, indeks berpeluang rebound secara bertahap ke kisaran 7.900-8.100 pada akhir Maret.

Sebaliknya, apabila eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, IHSG masih berpotensi menguji kembali level 7.400.

Meski demikian, pengamat menilai kondisi saat ini lebih mencerminkan fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi, bukan perubahan tren jangka panjang, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya