Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Perang AS-Israel vs Iran, DPR Ingatkan Ancaman Inflasi dan Beban Subsidi BBM

Rahmatul Fajri
03/3/2026 22:47
Perang AS-Israel vs Iran, DPR Ingatkan Ancaman Inflasi dan Beban Subsidi BBM
ANGGOTA Komisi II DPR RI Azis Subekti.(Dok. DPR RI)

ANGGOTA Komisi II DPR RI Azis Subekti memperingatkan pemerintah akan adanya risiko sistemik terhadap ekonomi Indonesia akibat memanasnya konflik Timur Tengah. Ia mengatakan eskalasi militer antara Iran dengan pihak Amerika Serikat dan Israel, terutama ancaman penutupan Selat Hormuz, berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada ketahanan fiskal nasional.

Azis menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan arteri energi global yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan pada jalur ini akan menciptakan efek domino, mulai dari kenaikan premi asuransi pelayaran hingga guncangan rantai pasok global.

"Krisis di Selat Hormuz bukan hanya soal geografi, ini soal risiko sistemik. Begitu jalur ini terganggu, harga minyak melonjak dan inflasi akan menjalar ke biaya transportasi hingga harga pangan di dalam negeri," ujar Azis melalui keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Azis menyoroti dilema berat yang dihadapi pemerintah, yakni mempertahankan harga BBM domestik melalui subsidi yang membengkak atau menyesuaikan harga dengan risiko penurunan daya beli masyarakat. Kenaikan harga minyak dunia juga diprediksi akan meningkatkan permintaan dolar AS, yang pada gilirannya menekan nilai tukar Rupiah.

"Subsidi yang terlalu besar menggerus ruang fiskal yang seharusnya untuk pendidikan dan kesehatan. Namun, penyesuaian harga yang tajam bisa melemahkan konsumsi domestik. Indonesia bisa menghadapi tekanan simultan pada fiskal, nilai tukar, dan pertumbuhan jika konflik berkepanjangan," jelas legislator Gerindra tersebut.

Menghadapi situasi ini, Azis mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah strategis di dua jalur utama. Pertama, diplomasi aktif. Ia mengatakan Indonesia sebagai pemimpin di kawasan dan anggota G20 harus mendorong de-eskalasi melalui forum internasional dan memperkuat suara Global South untuk menjaga stabilitas jalur energi.

Kedua, penguatan struktural dalam negeri dengan mempercepat diversifikasi energi, memperkuat cadangan strategis nasional, serta memastikan subsidi energi tepat sasaran.

"Transisi energi bukan lagi agenda jangka panjang yang bisa ditunda; ini adalah strategi ketahanan nasional. Kita harus memastikan guncangan eksternal tidak berubah menjadi krisis domestik melalui koordinasi fiskal dan moneter yang disiplin," ujarnya.

Meski secara geografis jauh dari Nusantara, Azis mengingatkan bahwa ketika jalur energi global bergetar, ekonomi rumah tangga di Indonesia akan ikut merasakan dampaknya. Ia berharap Indonesia mampu berdiri sebagai kekuatan menengah yang tangguh dan bermoral dalam mendorong stabilitas dunia.

"Pilihan yang kita ambil di dalam negeri, baik dalam diplomasi maupun pembenahan struktur ekonomi, akan menentukan apakah kita hanya menjadi korban dampak atau mampu bertahan di tengah ketidakpastian global," pungkas Azis. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya