Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Konflik Timur Tengah Uji Ketahanan Energi RI, Akademisi Unsoed: Waspada Beban APBN

Putri Rosmalia Octaviyani
03/3/2026 15:38
Konflik Timur Tengah Uji Ketahanan Energi RI, Akademisi Unsoed: Waspada Beban APBN
Selat Hormuz,(Dok. Google Maps)

ESKALASI konflik Timur Tengah kini menjadi ujian serius bagi ketahanan energi Indonesia. Ketergantungan yang masih tinggi terhadap impor minyak mentah serta volatilitas harga energi global menempatkan ekonomi nasional dalam posisi yang rentan.

Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Muhammad Yamin, menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah, yakni perang AS-Israel vs Iran yang semakin meluas ke negara-negara teluk bukan sekadar isu geopolitik regional, melainkan ancaman langsung terhadap struktur ketahanan energi domestik.

"Konflik di Timur Tengah bukan hanya persoalan geopolitik regional, tetapi langsung menguji ketahanan energi Indonesia karena struktur impor kita masih sangat besar," ujar Dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unsoed tersebut di Purwokerto, Selasa (3/3/2026).

Risiko Gangguan di Selat Hormuz

Yamin menyoroti bahwa keterlibatan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam konflik tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi energi paling strategis di dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Setiap hambatan distribusi di kawasan tersebut hampir dipastikan akan mendorong lonjakan harga minyak mentah. Bagi Indonesia, yang saat ini masih harus mengimpor sekitar 50 persen kebutuhan minyaknya, kondisi ini merupakan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi.

Dilema APBN dan Beban Subsidi

Lonjakan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika harga pasar melampaui asumsi yang telah ditetapkan pemerintah, maka beban subsidi dan kompensasi energi akan membengkak secara signifikan.

"Pemerintah berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas harga dalam negeri atau mengendalikan defisit fiskal," tambah Yamin.

Selain tekanan fiskal, kenaikan harga energi juga memiliki efek domino terhadap inflasi. Meningkatnya biaya transportasi dan logistik akan memicu kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat luas.

Tekanan Terhadap Mata Uang Rupiah

Gejolak energi global biasanya diikuti oleh ketidakpastian pasar keuangan. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman (safe haven), yang berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

Yamin menilai situasi kritis ini harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan langkah konkret dalam memperkuat kedaulatan energi nasional, di antaranya:

  • Percepatan Transisi Energi: Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan beralih ke energi terbarukan.
  • Diversifikasi Sumber Impor: Mencari alternatif negara eksportir minyak untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.
  • Penguatan Cadangan Penyangga Energi: Memastikan stok nasional dalam kondisi aman menghadapi krisis jangka pendek.

"Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan ekonomi. Selama ketergantungan impor masih tinggi, setiap gejolak geopolitik global akan langsung terasa di dalam negeri," tegasnya.

Berdasarkan data terbaru, pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus dipantau secara ketat oleh otoritas moneter dan fiskal guna mengantisipasi dampak lebih lanjut dari konflik Timur Tengah. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya