Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

UEA Bantah Laporan Bloomberg soal Pertahanan Udara Menipis Usai Serangan Iran

Putri Rosmalia Octaviyani
03/3/2026 15:32
UEA Bantah Laporan Bloomberg soal Pertahanan Udara Menipis Usai Serangan Iran
Peta wilayah Uni Emirat Arab (UEA)(Dok. Google Maps)

KEMENTERIAN Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menepis laporan media Bloomberg yang menyebutkan bahwa kemampuan pertahanan udara negara tersebut mulai menipis akibat eskalasi konflik Timur Tengah. UEA menegaskan bahwa kesiapan militer mereka tetap berada di level tertinggi di tengah situasi perang AS-Israel vs Iran..

“Kementerian Luar Negeri dengan tegas menolak klaim palsu dan menyesatkan yang dipublikasikan oleh Bloomberg terkait kemampuan pertahanan canggih Uni Emirat Arab,” tulis pernyataan resmi kementerian tersebut pada Selasa (3/3/2026).

Bantahan Terhadap Laporan Stok Amunisi

Sebelumnya, laporan Bloomberg mengutip sumber yang mengeklaim bahwa UEA telah meminta bantuan sekutunya untuk menyediakan rudal jarak menengah tambahan. Laporan tersebut juga menyinggung kondisi Qatar yang disebut membutuhkan bantuan serupa untuk menangkal serangan pesawat tanpa awak (drone).

Bahkan, laporan itu menyebutkan bahwa persediaan rudal Patriot milik Qatar diprediksi hanya akan bertahan selama empat hari jika tingkat penggunaan saat ini terus berlanjut di tengah konflik yang memanas.

Kesiapan Operasional Penuh UEA

Menanggapi hal tersebut, otoritas UEA menjelaskan bahwa arsitektur keamanan udara mereka dibangun dengan sistem yang sangat kompleks. UEA memiliki sistem pertahanan udara yang beragam, terintegrasi, dan berlapis-lapis yang mampu menangkal spektrum penuh ancaman udara dengan efisiensi tinggi.

“Sistem jarak jauh, menengah, dan pendek ini memberikan perlindungan menyeluruh terhadap wilayah udara negara,” tambah pihak kementerian.

Lebih lanjut, UEA memastikan bahwa mereka mempertahankan cadangan amunisi strategis yang signifikan. Hal ini menjamin kemampuan cegat dan respons yang berkelanjutan dalam jangka waktu lama untuk melindungi keamanan dan kedaulatan nasional dari ancaman luar.

Eskalasi di kawasan ini dipicu oleh serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai titik di Timur Tengah.

Hingga saat ini, situasi konflik Timur Tengah tetap berada dalam pengawasan ketat internasional seiring dengan meningkatnya aktivitas militer di wilayah Teluk. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya