Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

UKSW, Studi Islam, dan Relasi Kristiani-Muslim

Sumanto Al Qurtuby Dosen Pascasarjana Sosiologi Agama Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana; Direktur Nusantara Institute; memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University
05/12/2025 05:00

TAHUN ini saya memutuskan untuk bergabung sebagai tenaga pengajar di Program Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, Jawa Tengah, setelah sekitar 20 tahun berkelana di beberapa negara untuk mengajar atau meneliti di sejumlah universitas: University of Notre Dame, King Fahd University of Petroleum & Minerals, National University of Singapore, dan Kyoto University. UKSW bukan tempat asing buat saya karena seperempat abad silam saya pernah belajar program magister di kampus itu.

Alasan mendasar memilih UKSW sebagai tempat berlabuh, antara lain, (1) kultur akademik yang relatif akademis, misalnya ditunjukkan dengan banyaknya mahasiswa yang bergairah belajar dan mendalami pengetahuan; (2) komposisi dan persebaran demografi kampus yang majemuk dari aspek etnis, suku, agama, dan daerah, dan karena itu disebut sebagai 'Indonesia mini'; dan (3) spirit mewujudkan toleransi dan pluralisme agama yang sangat kuat.

Meskipun tentu saja umat kristiani yang dominan di kampus (baik dosen, tendik, maupun mahasiswa), populasi muslim juga sangat signifikan. Ada lebih dari 30% mahasiswa UKSW ialah muslim. Para dosen muslim juga ada di berbagai fakultas.

 

SPIRIT PAK NOTO DAN BU INTIYAS

Spirit dan kultur pendidikan UKSW yang agamais, akademis, dan pluralis itu tidak lepas dari visi pendiri dan sekaligus Rektor Pertama UKSW, Oeripan Notohamidjojo (1915-1985), yang akrab disapa Pak Noto, seorang edukator, ahli hukum, dan tokoh Kristen ternama, yang dilahirkan dari keluarga muslim terhormat. Ayahnya, Abdullah Fatah, ialah seorang tokoh muslim terkemuka di Blora di zaman Hindia Belanda, yang merelakan anaknya memilih keimanan yang berbeda dengannya. Meskipun mendapat tawaran menggiurkan dari gurunya, Prof GJ Resink, untuk menjadi dosen di Universitas Indonesia, Pak Noto lebih memilih tinggal di kota kecil-terpencil Salatiga untuk 'babat alas' membangun 'Satya Wacana'.

Kini, perkembangan kultur akademik dan spirit kebinekaan itu bertambah pesat, bukan hanya di level nasional, melainkan juga internasional, di bawah sentuhan manajemen dan kepemimpinan Prof Dr Intiyas Utami (Bu Intiyas), rektor perempuan pertama dan guru besar perempuan pertama di UKSW.

Sejak terpilih menjadi rektor pada 2022, Bu Intiyas gigih memperjuangkan dan memajukan salah satu kampus Kristen tertua di Indonesia itu (berdiri 1956) melalui berbagai program kreatifnya di bawah payung motto Progressive and Outstanding (Proud), termasuk Tugas Talenta Unggul yang memberikan kebebasan akademik kepada mahasiswa (khususnya S-1) untuk berkarya dan berkreativitas sesuai dengan talenta intrinsik mereka yang melampaui batas-batas tugas konvensional mahasiswa seperti pembuatan skripsi yang menjadi momok bagi banyak peserta didik serta 'biang kerok' lamanya kuliah di kampus.

Seperti Restorasi Meiji (Meiji Ishin) di Jepang di abad ke-19 yang memadukan tradisi dan modernitas dalam konsep pembaruan, visi kepemimpinan dan reformasi pendidikan Bu Intiyas juga bukan hanya berbasis pada modernitas, intelektualisme, sains, dan kemajuan teknologi modern (termasuk smart technology), melainkan juga berjangkar kuat pada nilai-nilai spiritualisme, kekristenan (iman kristiani), tradisi lokal (misalnya, 'kejawaan'), dan budaya Nusantara. Harapannya, alumni nanti bukan hanya memiliki etos intelektualisme dan berkemajuan, tetapi juga spiritualisme dan kenusantaraan.

 

STUDI ISLAM DAN MASYARAKAT MUSLIM

Salah satu program akademik yang menarik perhatian saya di kampus yang mengusung konsep Fostering creative minority itu ialah diperkenalkannya mata kuliah Islam dan muslim di Indonesia (IMI) bagi mahasiswa kristiani. Lebih menarik lagi karena mata kuliah itu diajarkan dan diwajibkan bagi mahasiswa S-1 Fakultas Teologi (yang kini di bawah pimpinan Pdt Izak Lattu) yang semuanya ialah calon pendeta.

Semester ini saya mengajar mata kuliah IMI dengan pendaftar lebih dari 300 mahasiswa. Kelas biasanya dimulai dan ditutup dengan doa ala kristiani yang menjadi ciri khas UKSW.

Saya menikmati mengajar mata kuliah itu, dan senang sekali melihat antusiasme mahasiswa selama proses belajar, termasuk saat mengerjakan tugas-tugas dan presentasi mengenai aneka ragam aspek keislaman dan kemusliman. Respek dan toleran menjadi kunci dalam proses belajar tanpa mengurangi kritisisme (critical thinking) dalam menganalisis diskursus keislaman dan fenomena sosial yang menimpa umat Islam.

Berbagai dimensi keislaman dan kemusliman saya perkenalkan dengan tujuan untuk memperluas cakrawala mahasiswa tentang dunia Islam dan muslim yang sangat plural dan kompleks sehingga mereka terhindar dari kesalahpahaman, negative stereotyping, etnosentrisme, dan pobhia Islam yang berlebihan. Tak lupa berbagai kekayaan khazanah keislaman Nusantara, termasuk aneka ragam tradisi dan adat keislaman, varian Islam lokal, dan tokoh-tokoh muslim positif-inspiratif juga saya perkenalkan.

Memperkenalkan mata kuliah itu di Fakultas Teologi sangat strategis karena kelak mahasiswa akan menjadi pendeta dan tokoh agama yang, suka tidak suka, pasti akan bersinggungan dengan umat Islam yang menjadi kelompok agama mayoritas di Indonesia.

 

RELASI KRISTIANI-MUSLIM

Selain memperkenalkan mata kuliah IMI, pimpinan dan stakeholder UKSW, termasuk Bapak Willi Toisuta, mantan rektor dan tokoh senior pendidikan nasional, mendukung dan antusias dengan pendirian center of excellence bernama Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations, sebuah lembaga di tingkat universitas yang akan memadukan riset, pengajaran, dan pengabdian mengenai agama-agama (baik agama global maupun agama lokal) dan relasi kristiani-muslim.

Sama seperti dibukanya mata kuliah IMI, disetujuinya center itu juga cermin dari spirit pluralisme, toleransi, dan keterbukaan UKSW. Center itu nantinya akan menjadi 'kawah candradimuka' UKSW yang tidak hanya untuk meneliti, mengkaji, dan mengajarkan persoalan keagamaan dan kaitannya dengan isu-isu nasional dan global, tetapi juga mempraktikkan dan memajukan spirit, habit, dan kultur kehidupan beragama yang toleran, inklusif, dan pluralis.

Selain itu, melalui berbagai program akademik dan nonakademik, center itu akan turut berperan aktif menjembatani kebuntuan dan kecanggungan dialog dan hubungan antara umat muslim dan kristiani di tingkat lokal maupun nasional, yang selama ini seolah membeku dan saling curiga karena sejumlah faktor fundamental: dari masalah kesejarahan dan kolonialisme diskriminatif masa silam hingga isu-isu sosial, politik, dan keagamaan kontemporer.

 

REFLEKSI KRITIS UNTUK UMAT ISLAM

Sejumlah terobosan yang dilakukan UKSW penting untuk dijadikan sebagai bahan refleksi kritis untuk kampus-kampus yang didirikan umat Islam. Selama puluhan tahun mengajar di luar negeri, saya perhatikan kampus-kampus berbasis non-Islam, baik itu Kristen (Protestan, Katolik, Ababaptis, Mormon, dll), Yahudi, maupun lainnya, tampak lebih inklusif ketimbang kampus-kampus berbasis Islam (yang didirikan dan dikelola kaum muslim).

Di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) dan Eropa banyak sekali universitas nonmuslim yang memiliki program akademik, termasuk riset, mengenai studi keislaman. Tren itu juga berkembang di negara-negara Asia Timur, termasuk Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, yang kini juga banyak memiliki program studi keislaman.

Pada waktu saya menghadiri sebuah konferensi internasional tentang studi Islam dan Timur Tengah di Universitas Tokyo belum lama ini, saya melihat ada banyak sekali mahasiswa pascasarjana dari berbagai kampus di Jepang yang memajang dan mempresentasikan 'makalah poster' di area konferensi mengenai beragam topik keislaman dan fenomena sosial masyarakat muslim di berbagai negara. Dengan sigap, mereka menjelaskan dan menjawab berbagai pertanyaan dari pengunjung mengenai topik yang dipajang di poster tersebut.

Bukan hanya kampus, lembaga-lembaga nonkampus pun (misalnya, ormas atau institusi keagamaan lainnya seperti gereja) banyak yang memiliki divisi keislaman dan mempunyai ahli di bidang studi keislaman. Sudah menjadi 'rahasia umum' kalau banyak pendeta atau pastor, termasuk dari Indonesia, yang belajar Islam (dan bahasa Arab) bahkan hingga ke kampus-kampus atau seminari di Timur Tengah (misalnya, Mesir, Libanon, Yordania, dan Palestina). Bahkan Vatikan juga mempunyai pastor-pastor yang ahli di bidang studi Islam.

Sementara itu di Timur Tengah, Afrika Utara, atau kawasan umat Islam lainnya (misalnya, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Malaysia, atau negara-negara di Asia Tengah) nyaris sulit ditemukan sebuah kampus yang menawarkan program studi kekristenan, keyahudian, dan lainnya, atau studi agama secara umum.

Kampus-kampus muslim lebih suka mengkaji keislaman ketimbang meneliti dan mempelajari agama lain. Menariknya, berbeda dengan kampus-kampus Arab, kampus-kampus Yahudi di Israel justru banyak mengembangkan program studi Islam, biasanya digabung dengan studi bahasa Arab. Kampus-kampus Arab mana ada yang membuka program studi Yahudi dan bahasa Ibrani.

Karena spirit dan etos yang berbeda itulah, jangan heran jika ada banyak sekali sarjana nonmuslim yang ahli di bidang studi keislaman, sementara sulit sekali mencari sarjana muslim yang ahli di bidang studi kekristenan, keyahudian, kehinduan, kebuddhaan, dan seterusnya.

 

TELADAN UKSW BAGI KAMPUS MUSLIM DAN KRISTIANI DI INDONESIA

Kecenderungan yang kurang lebih sama juga terjadi di Indonesia. Banyak kampus Kristen yang menawarkan mata kuliah Islamologi dan diajar para sarjana muslim. Sementara itu, hampir tidak ada kampus muslim yang membuka mata kuliah Kristologi dan diajar para sarjana Kristen.

Memang ada sejumlah kampus muslim yang membuka program studi agama-agama, tetapi pengajarnya kebanyakan sarjana muslim serta, dengan sejumlah pengecualian, dilakukan dalam bingkai atau semangat apologetik untuk 'mengadili' atau 'menghakimi' agama lain dan mengunggulkan agama Islam, bukan dibangun di atas fondasi intelektual-spiritual egaliter untuk saling belajar dan memahami keunikan tiap tradisi agama.

Pula, banyak pastor Katolik dan pendeta Kristen yang belajar agama Islam di kampus-kampus muslim, tetapi mana ada ustaz, kiai, atau dai yang belajar agama Kristen atau teologi Kristen di kampus-kampus Kristen.

Kemudian, banyak pula lembaga kekristenan (misalnya, gereja, sinode, seminari, dan ormas) yang memiliki divisi keislaman (atau keagamaan), lagi-lagi mana ada institusi keislaman atau ormas keulamaan (misalnya, Majelis Ulama Indonesia) yang memiliki divisi kekristenan dan/atau agama-agama lain.

Apa yang menimpa umat Islam dewasa ini, khususnya kalangan terpelajar, agak bertolak belakang dengan etos intelektualisme kaum muslim di Abad Pertengahan yang bergairah berkelana (rihlah) ke berbagai belahan dunia guna mencari kebijakan dan mempelajari ilmu pengetahuan dari mana pun sumbernya, siapa pun gurunya, seperti Abu Rayhan al-Biruni (973-1052), seorang ulama polymath yang belasan tahun tinggal di India dan berguru dengan para brahmin dan yogi guna mempelajari bahasa Sansekerta serta kompleksitas struktur sosial masyarakat India dan agama Hindu.

Apa makna semua ini? Apakah umat Islam klasik jauh lebih bersikap modern dan berpikiran maju daripada umat Islam modern saat ini? Apakah itu artinya umat nonmuslim lebih toleran, terbuka, open minded, dan pluralis? Dengan kata lain, apakah itu pertanda kalau umat Islam dewasa ini cenderung lebih intoleran, tertutup, close minded, dan antipluralisme?

Biarlah daun ilalang yang bergoyang yang menjawabnya. Namun, yang jelas, UKSW bisa menjadi teladan bagi kampus berbasis agama lainnya di Indonesia, termasuk kampus Kristen, untuk lebih bersikap inklusif-pluralis dalam menyikapi kebinekaan yang merupakan fitrah alam semesta sekaligus fondasi beragama, berbangsa, dan bernegara Republik Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya