Kamis 05 November 2020, 03:00 WIB

Produksi Padi 2020 dan Peluang Peningkatannya ke Depan

Hasil Sembiring Kepala Perwakilan International Rice Research Institute (IRRI) untuk Indonesia, mantan Dirjen Tanaman Pangan | Opini
Produksi Padi 2020 dan Peluang Peningkatannya ke Depan

MI/MOHAMAD IRFAN

UPAYA pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam meningkatkan produksi pangan pokok strategis, yakni beras, menuai hasil yang menggembirakan. Hal ini dibuktikan dengan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), angka sementara produksi padi 2020 sebesar 55,16 juta ton GKG (gabah kering giling), atau setara dengan 31,63 juta ton beras. Produksi padi pada 2020 ini lebih tinggi 1,02% daripada produksi padi 2019.

Peningkatan produksi padi 2020 ini disebabkan peningkatan luas panen sebesar 108.930 hektare atau naik 1,02% menjadi 10,79 juta hektare. Sebaliknya, produktivitas padi relatif sama dengan tahun lalu sekitar 5,1 ton/hektare (ha).

Produksi itu dicapai berkat semangat 14 juta keluarga petani padi yang terus giat berusaha padi di tengah pandemi. Ini merupakan berita baik di tengah anggaran Kementerian Pertanian yang dipotong Rp7 triliun, untuk mengatasi pandemi covid-19, dan juga tantangan kondisi covid-19 itu sendiri.

Pada laporan BPS, juga diuraikan bahwa ada 22 provinsi yang pertumbuhan produksinya positif dan bahkan 10 di antaranya mengalami pertumbuhan di atas 7% jika dibandingkan dengan 2019.

Lima provinsi yang tambahan produksi padinya terbesar pada 2020 ialah Jawa Timur, Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan. Lima provinsi yang mengalami penurunan produksi padi yang relatif besar ialah Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah. Penelitian penyebab penurunan produksi di provinsi ini perlu dipelajari.


Balance beras--tidak perlu impor

Keberhasilan peningkatan produksi beras ini secara nyata menekankan bahwa ketersediaan beras dalam negeri tercukupi bahkan surplus sehingga Indonesia tidak perlu melakukan impor beras. Kenaikan produksi beras sebesar 1,02% ini akan menambah jumlah stok beras di 2020.

Berdasarkan tambahan produksi ini, dan ketersedian beras yang ada di Bulog serta sumber-sumber lainnya, diprediksi stok beras akan mencapai sekitar 7 juta ton pada akhir 2020 sehingga cukup untuk persediaan beras selama lebih dari dua bulan.

Untuk itu, Indonesia tak perlu impor. Antisipasi pemerintah dan kerja keras petani di tengah pandemi ini telah mematahkan kekhawatiran FAO atas penurunan produksi pertanian akibat pandemi ini.

Untuk menjamin produksi padi angka sementara ini, penyelamatan dan pemeliharaan tanaman yang masih ada di lapangan perlu dikawal ketat agar tidak terjadi gagal panen, baik akibat organisme pengganggu tanaman (OPT) maupun faktor lainnya. Luas pertanaman yang akan dipanen pada November dan Desember ini masih ada sekitar 1 juta ha.

Penambahan ketersediaan pupuk subsidi sebesar Rp1 triliun baru-baru ini sangat membantu peningkatan produksi padi 2020 dan juga untuk produksi 2021. Untuk itu, pemberdayaan penyuluh dan petugas pertanian di lapangan dalam wadah konstratani menjadi sangat penting.


Peluang produksi padi 2021 dan ke depan

Kondisi La Nina merupakan peluang menambah luas tanam padi pada daerah lahan kering dan tadah hujan yang masih sangat luas untuk menambah produksi 2021. Untuk itu, perencanaan penyediaan input enam tepat khususnya benih varietas spesifi k lokasi, dan pupuk menjadi sangat penting.

Usaha peningkatan produksi beras yang dicanangkan pemerintah perlu didukung semua pihak untuk mengimbangi kenaikan kebutuhan penduduk Indonesia yang terus bertambah.

Di samping peningkatan luas tanam, peningkatan produktivitas perlu menjadi perhatian serius. Berdasarkan data BPS, produktivitas padi di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini cenderung menurun, yaitu 5,34; 5,24; 5,16; 5,19; dan 5,11 ton/ha berturut-turut mulai 2015 sampai dengan 2019. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas padi di beberapa daerah jauh lebih tinggi dan bahkan mencapai 7-8 ton/ha.

Penutupan senjang hasil ini mendesak dilakukan mengingat luas lahan yang cenderung terbatas. Pencanangan peningkatan produktivitas 0,5 ton/ha saja pada 2021 akan memberikan tambahan produksi sekitar 5 juta ton GKG lebih per tahun. Untuk itu, penerapan teknologi spesifi k lokasi mendesak dilakukan.

Untuk jangka menengah panjang, peningkatan produksi padi harus diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi. Penambahan luas lahan untuk padi dan juga penyediaan air dengan memperbaiki infrastruktur dan menambah bangunan air seperti dam yang sudah dicanangkan perlu direalisasikan.

Penerapan inovasi dan rekayasa kelembagaan diharapkan dapat menekan biaya produksi beras lebih murah jika dibandingkan dengan negara lainnya. Usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi beras dalam menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakat harus didukung semua pihak.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Cegah Stunting untuk Indonesia Emas

👤Sumarjati Arjoso Dewan Kehormatan DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Kamis 21 Januari 2021, 05:10 WIB
25 tahun jelang 100 tahun Indonesia Emas pada 2045. Pada saat itu diharapkan telah tercapai cita-cita dan amanat pendiri bangsa: Indonesia...
MI/Seno

Menakar Kemanjuran Bintang Iklan Vaksin

👤Mohammad Eko Fitrianto Dosen FE Universitas Sriwijaya Kandidat Doktor Ilmu Manajemen UGM 🕔Kamis 21 Januari 2021, 05:05 WIB
Pemerintah diharapkan selain fokus pada efikasi atau kemanjuran vaksin, juga memperhatikan efikasi atau kemanjuran dari penggunaan bintang...
MI/SUSANTO

Dinamika Timur Tengah di Bawah Biden

👤Smith Alhadar Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE) 🕔Rabu 20 Januari 2021, 00:50 WIB
KEMENANGAN Joe Biden akan mengubah dinamika politik Timur...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya