Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Christian Horner Buka Suara Soal Kepergiannya dari Red Bull: Bukan Karena Max Verstappen

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 10:16
Christian Horner Buka Suara Soal Kepergiannya dari Red Bull: Bukan Karena Max Verstappen
Chrisian Horner (kiri) bersama Max Verstappen kala sama-sama berada di tim Red Bull.(AFP/Toshifumi KITAMURA)

SETELAH bungkam cukup lama, mantan kepala tim Red Bull Racing, Christian Horner, akhirnya angkat bicara mengenai kepergiannya yang mengejutkan pada musim panas lalu. 

Dalam penampilannya di serial dokumenter Netflix, Formula 1: Drive to Survive, Horner membantah keras spekulasi yang menyebut bahwa Max Verstappen dan pihak manajemennya menjadi dalang di balik pemecatannya.

Selama 18 bulan terakhir sebelum kepergiannya, Horner berada di pusaran kontroversi menyusul tuduhan pelecehan seksual dari seorang karyawan perempuan pada Februari 2024. 

Meski telah dinyatakan bersih melalui dua kali investigasi independen, posisi Horner di tim tetap tidak stabil. Banyak pihak menduga bahwa kepergiannya adalah langkah strategis Red Bull untuk mengamankan komitmen Max Verstappen, yang kini terikat kontrak hingga 2028.

Terkait hubungan yang kerap memanas dengan ayah Max, Jos Verstappen, Horner mengakui adanya ketegangan, namun ia menolak tudingan bahwa hal tersebut memicu pemecatannya.

"Ayah [Max Verstappen] tidak pernah menjadi penggemar terbesar saya. Dia memang vokal mengkritik saya, tapi saya tidak percaya bahwa pihak Verstappen bertanggung jawab dengan cara apa pun," ujar Horner.

Horner, yang telah memimpin Red Bull sejak 2005 dan mempersembahkan delapan gelar juara dunia pembalap serta enam gelar juara konstruktor, mengaku merasa kehilangan atas situasi tersebut. 

Ia mengungkapkan bahwa keputusan pemecatannya diambil secara tiba-tiba tanpa memberikan kesempatan baginya untuk berpamitan secara layak.

Secara spesifik, pria asal Inggris ini menunjuk Direktur Pelaksana Red Bull, Oliver Mintzlaff, serta penasihat tim, Helmut Marko, sebagai pihak yang berada di balik keputusannya hengkang. 

Menurut Horner, dinamika kekuasaan di internal perusahaan berubah drastis pasca wafatnya pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz.

"Keputusan ini diambil oleh Oliver Mintzlaff dengan Helmut yang memberi masukan dari pinggir lapangan. Saya rasa ada perubahan besar dalam bisnis dan grup ini. Setelah Dietrich meninggal, kemungkinan saya dianggap memiliki kontrol yang terlalu besar," tambahnya.

Kini, setelah menerima pesangon sebesar 52 juta poundsterling, Horner telah meninggalkan kursi kepemimpinan yang ia duduki selama 20 tahun. 

Kepergian sosok sentral ini menandai berakhirnya era dominasi yang telah dibangun sejak 2005, sekaligus membuka babak baru dalam struktur manajemen Red Bull di tengah persaingan ketat musim 2026. (bbc/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya