Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
JUARA dua kali Francesco Bagnaia mengakui kesulitan pada sesi sprint MotoGP Thailand di Sirkuit Buriram, Sabtu (1/3). Dia menyebut ada penjelasan ilmiah untuk masalah yang dialaminya pada sesi sprint.
Bagnaia harus puas finis ketiga pada sesi sprint. Pembalap Italia itu mengidentifikasi penyebab utamanya ialah perubahan terkait tangki bahan bakar yang berdampak pada dinamika motor.
“Ada alasan ilmiah mengapa saya kesulitan dalam sprint. Kami mencoba memahaminya dan sejujurnya satu-satunya hal yang mereka ubah dari balapan panjang adalah tangki bahan bakar yang lebih kecil menurut regulasi," kata Bagnaia seperti dilansir Motorsport.
“Itu sedikit mengubah dinamika motor dan saya lebih kesulitan dalam pengereman dan masuk. Namun, kami sedang mengerjakannya, kami mencoba menyelesaikannya," ucapnya.
Bagnaia finis ketiga dalam kontes sprint. Dia berjuang keras menangkis agresivitas pendatang baru Ai Ogura (Trackhouse) selama 13 lap.
Bagnaia menjelaskan bahwa tangki bahan bakar yang lebih kecil mengubah dinamika Ducati-nya. Hal itu menyebabkannya lebih kesulitan dalam pengereman dan ketika masuk tikungan.
“Hari ini kami hanya melakukannya dengan cara standar, tetapi lain kali kami akan mencoba sesuatu yang berbeda," ujarnya. (M-3)
Masalah utama Francesco Bagnaia sepanjang musim MotoGP 2025 lalu berakar pada ketidakcocokan antara gaya balapnya dengan karakteristik Desmosedici GP25.
Kecepatan Francesco Bagnaia sebenarnya masih terlihat di beberapa sesi latihan dan balapan, meski performanya inkonsisten sepanjang musim 2025.
Berbeda dengan Formula 1 yang memiliki serikat resmi pebalap, MotoGP hingga kini belum memiliki wadah tersebut.
Pembalap Ducati Lenovo Francesco Bagnaia menyelesaikan sesi tes ini dengan berada di posisi 10 dalam waktu 1 menit 29,731.
Bagnaia musim ini memang lebih banyak berkutat menghadapi problem keseimbangan dari motor Desmosedici GP25.
Manajer tim Ducati Davide Tardozzi menegaskan tim sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki koneksi Francesco Bagnaia terhadap motornya.
Inspirasi desainnya diambil dari model-model legendaris seperti Ducati 60 (1949) hingga Gran Sport Marianna (1955), motor balap pertama karya insinyur legendaris Fabio Taglioni.
Kecepatan Francesco Bagnaia sebenarnya masih terlihat di beberapa sesi latihan dan balapan, meski performanya inkonsisten sepanjang musim 2025.
Aprillia menebar ancaman di sisa seri akhir musim ini. Pembalap mereka, Marco Bezzecchi, berada di performa tertinggi untuk bersaing memperebutkan gelar juara di setiap balapan.
Bagnaia musim ini memang lebih banyak berkutat menghadapi problem keseimbangan dari motor Desmosedici GP25.
Manajer tim Ducati Davide Tardozzi menegaskan tim sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaiki koneksi Francesco Bagnaia terhadap motornya.
Bagnaia, gagal menunjukkan performa konsisten seperti dua musim sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved