Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Antisipasi Mudik 2026, Polda Jabar Petakan Titik Rawan Macet dan Kecelakaan

Bayu Anggoro
20/2/2026 12:14
Antisipasi Mudik 2026, Polda Jabar Petakan Titik Rawan Macet dan Kecelakaan
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Barat Kombes Raydian Kokrosono .(MI/Bayu Anggoro-HO)

DIREKTORAT Lalu Lintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah Jawa Barat mulai memetakan titik-titik rawan kemacetan dan kecelakaan di seluruh jalur utama menjelang arus mudik Lebaran 2026. Langkah mitigasi dini ini dilakukan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas di wilayah tumpuan pemudik tersebut.

Pengecekan meliputi jalur Pantai Utara (Pantura), Tol Trans-Jawa, jalur arteri selatan di wilayah Priangan Timur, hingga jalur Pantai Selatan (Pansela).

Mitigasi Dini Operasi Ketupat
Direktur Lalu Lintas Polda Jabar Kombes Raydian Kokrosono, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kapolda Jawa Barat telah menyusuri berbagai jalur utama. Upaya ini merupakan bagian dari persiapan Operasi Ketupat 2026.

"Bersama Bapak Kapolda, kami sudah mengecek beberapa jalur di Jawa Barat yang menjadi tumpuan jalur mudik, mulai dari arus pemudik dari Jakarta, Sumatera, menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk arus balik," ujar Raydian di Bandung, Jumat (20/2).

Dari hasil pengecekan tersebut, polisi telah mengantongi data mengenai trouble spot (titik kemacetan) dan black spot (titik rawan kecelakaan) di masing-masing wilayah.

"Pada saat pengecekan itu, sudah kita mapping potensi kerawanan-kerawanan, trouble spot dan black spot di area masing-masing. Sudah kami perintahkan kepada para kasat lantas untuk berkoordinasi dengan instansi terkait agar bisa dikelola sebelum operasi ketupat nanti," tambahnya.

Tantangan Kendaraan Tradisional
Selain volume kendaraan, keberadaan moda transportasi tradisional seperti andong dan becak di jalur utama masih menjadi perhatian serius. Raydian menilai perbedaan kecepatan antara kendaraan bermotor dan kendaraan tradisional kerap memicu hambatan arus.

"Kalau ditanya detailnya satu per satu, masing-masing wilayah ada," ungkapnya mengenai keberadaan kendaraan tradisional tersebut.

Pihaknya mendorong adanya skema kompensasi agar para penarik andong dan becak tidak beroperasi selama masa puncak mudik. Hal ini bertujuan agar kecepatan kendaraan di jalur utama tetap terjaga.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin tahun ini lebih masif dan itu menggembirakan menurut kami, untuk bisa memitigasi tukang-tukang andong, tukang-tukang becak, supaya bisa diakomodir oleh pemerintah, sehingga bisa liburan dan tidak beroperasi," jelas Raydian.

Ia menegaskan bahwa kelancaran arus sangat bergantung pada konsistensi kecepatan pengguna jalan. "Karena kecepatan yang tadi kami sampaikan itu mengganggu terhadap pengguna jalan lain yang ingin cepat kembali ke tempat tujuan," pungkasnya.

Polda Jabar berharap melalui mitigasi sejak dini, pelaksanaan mudik tahun ini dapat berjalan lebih kondusif. "Kita berharap pelaksanaan Operasi Ketupat nanti bisa lebih lancar dibanding tahun-tahun sebelumnya," tutupnya. (BY/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya