Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena angin kencang dengan kecepatan maksimal 37 kilometer per jam masih dirasakan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah dampak dari eks Siklon Tropis Luana.
"Kami melihat pengaruh angin kencang saat ini masih ada kaitan dari eks Siklon Tropis Luana," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi, Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Ari Wibianto dalam Siniar Gerbang Mendengar di Mataram, Senin.
Selain itu, lanjutnya, ada pula gangguan siklonik di lapisan angin atas akibat kemunculan pusat tekanan rendah baru di wilayah Australia sebelah timur.
Sirkulasi angin dari sistem tekanan rendah tersebut, menurutnya, masih cukup kuat untuk memicu hembusan angin kencang di wilayah NTB, meski tidak sebesar dampak Bibit Siklon Tropis 97S sebelumnya.
Pada 21 Januari 2025, BMKG menyampaikan kecepatan maksimum angin permukaan yang berhembus di wilayah NTB mencapai 55 kilometer per jam akibat Bibit Siklon Tropis 97S.
Angin kencang tersebut menyebabkan perairan Samudera Hindia sebelah selatan NTB menjadi zona merah pelayaran akibat gelombang laut setinggi empat sampai enam meter.
"Angin kencang di atas 40 kilometer per jam cukup berbahaya karena bisa mengakibatkan ranting-ranting pohon jatuh," kata Ari.
BMKG memprakirakan hembusan angin kencang masih berpotensi terjadi tiga hari ke depan di wilayah NTB akibat dampak dari sistem siklonik di Australia.
Ari mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menghindari area yang banyak terdapat pohon besar, dan berhenti sejenak saat berkendara jika terjadi angin kencang.
"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca BMKG agar mengetahui kondisi cuaca ke depan apakah masih ada potensi angin kencang atau tidak," ucapnya. (Ant/Z-4))
PERGANTIAN bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia berpotensi memicu cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT).
BMKG memberikan peringatan dini cuaca berupa potensi cuaca ekstrem hingga akhir Januari 2026 mendatang. Dalam prakiraan cuaca BMKG dijabarkan analisis mengenai pemicu cuaca ekstrem.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya Bibit Siklon Tropis 97S di barat daya Teluk Carpentaria, Australia, memicu cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berdasarkan pantauan terbaru, Bibit Siklon Tropis 97S tercatat memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot dengan tekanan udara minimum sebesar 1003 hektopaskal (hPa).
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi cuaca signifikan masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Operasi ini bertujuan untuk memitigasi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.
Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi dasar utama dalam setiap kebijakan operasional penyeberangan.
BMKG menyebutkan, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami cuaca berawan hingga berawan tebal pada hari ini.
Cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir berpotensi di 17 daerah, sehingga diminta warga untuk waspada terhadap bencana hidrometeorologi.
Keputusan ini tidak terlepas dari prakiraan cuaca BMKG yang masih memprediksi intensitas hujan cukup tinggi dalam seminggu ke depan akibat cuaca ekstrem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved