Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah meminta rekayasa cuaca dilakukan kembali, karena cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir masih berpotensi di Jawa Tengah terutama di daerah Pantura Jawa Tengah hingga menyebabkan bencana banjir dan longsor.
Pemantauan Media Indonesia Rabu (14/1) banjir dengan ketinggian bervariasi 29-100 centimeter masih merendam sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah seperti Demak, Kudus, Jepara dan Pati, hujan ringan-sedang juga masih mengguyur sejak pagi hingga membuat warga di daerah tersebut semakin khawatir bencana hidrometeorologi semakin meningkat.
Sementara itu di berbagai titik, ratusan keluarga di Kudus, Jepara dan Pati masih bertahan di lokasi pengungsian karena banjir masih tinggi merendam rumah hingga tidak dapat ditempati, meskipun sebagian besar warga terdampak tetap bertahan di rumah masing-masing meskipun terkepung banjir.
"Intensitas hujan masih sangat tinggi dan banjir juga belum surut, kami meminta kembali dilakukan rekayasa cuaca untuk mengurangi hujan terutama di daerah Kudus, Jepara dan Pati," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen Rabu (14/1).
Rekayasa cuaca dalam kondisi sekarang, lanjut Taj Yasin Maimoen, sangat diharapkan apalagi BMKG juga telah menginformasikan bahwa potensi cuaca ekstrem masih Ajan berlangsung hingga beberapa bulan kedepan. "Selana 4 hari hujan lebat dengan durasi panjang, bagian pada siang matahari tidak terlihat," tambahnya.
Kondisi cuaca ekstrem inilah, menurut Taj Yasin Maimoen, mengakibat terjadinya bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir dan angin puting beliung terutama di tiga daerah di Pantura Jawa Tengah tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah daerah berupaya untuk melakukan penanganan cepat terhadap bencana yang telah terjadi.
Selain penanganan cepat terutama terhadap warga terdampak dan pemulihan infrastruktur yang rusak, ungkap Taj Yasin Maimoen, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menurunkan bantuan dan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana meminta spot-spot yang perlu dibantu dengan pompa.
Pemantau Media Indonesia, hingga Rabu (14/1) akibat banjir yang masih tinggi merendam Kudus dan Pati, jumlah pengungsi terus bertambah bahkan hingga malam petugas gabungan BPBD, TNI, Polri, Dinas Kesehatan bersama relawan melakukanbevakyadi ratusan warga karena banjir tersebut.
Berdasarkan data dihimpun sementara, di Kabupaten Kudus tercatat 40 warga Desa Temulus mengungsi di MI Hidayatus Shibyan, 24 warga mengungsi di TPQ Khurriyatul Fikri. 30 warga Desa Ngembalrejo mengungsi di Masjid Al Huda dan Ponpes dan 50 jiwa mengungsi di Posko TPQ.
Sementara itu di Kabupaten Pati ratusan warga di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, kini mulai mengungsi di tiga lokasi dan salah satunya di Aula Balai Desa Doropayung. "Sudah beberapa hari kita bertahan di sini, karena banjir masih setinggi dada," ujar Maryamah,58, saksh seorang warga.
Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, banjir mulai meluas ke wilayah timur Pati, khususnya Kecamatan Juwana. “Awalnya di Desa Doropayung, sekarang banjir pelan-pelan naik dan meluas ke Desa Bumirejo dan Tluwah dan sejumlah desavKecamatan Jakenan," tambahnya.
Menanggapi hal ini, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengungkapkan bahwa sebagian besar warga terdampak banjir di tiga daerah tersebut masih bertahan di rumah masing-masing, sehingga diminta Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk segera melakukan evakuasi ke tempat lebih aman.
"Dinas kesehatan baik daerah dan provinsi, diminta terus aktif melakukan pemeriksaan tidak hanya di pusko dan lokasi pengungsian, tetapi juga mendatangi rumah warga terdampak yang masih bertahan di rumah masing-masing," ujar Taj Yasin Maimoen. (H-2)
Banjir di Kabupaten Kudus hingga Minggu (25/1) juga masih merendam 9 desa di 4 kecamatan antara lain Desa Karangrowo, Ngemplak, Tanjungkarang, Jetiskapuan, Jati Wetan, Payaman.
Dengan margin yang sudah tipis, kenaikan biaya logistik berpotensi memaksa pengusaha kecil menaikkan harga jual agar tetap bertahan.
Akibat intensitas hujan yang masih tinggi dan belum teratasinya sejumlah tanggul sungai yang jebol serta luapan sungai, banjir di daerah ini kembali meninggi.
Langkah darurat yang segera dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca dengan mengerahkan tiga pesawat guna mengurangi intensitas hujan.
SEORANG nenek pengungsi banjir di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, tak kuasa menahan air mata karena memikirkan tujuh ekor kucing peliharaannya yang tertinggal di rumah.
Jumlah warga terdampak banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus bertambah.
Berdasar catatan BPBD Pati, akibat banjir tersebut sebanyak 2.921 rumah warga terdampak dan 432 keluarga (1.060 jiwa) hingga saat ini masih mengungsi.
Hujan lebat mengguyur kawasan Gunung Muria sejak Selasa (27/1) mengakibatkan 50 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Pati kembali dilanda banjir dengan ketinggian 50-100 sentimeter.
Lahan persawahan di Jepara mengalami puso terparah yakni di Kecamatan Kalinyamatan seluas 742 hektare dan Kecamatan Pecangaan sektas 350 hektare.
Banjir di Kabupaten Kudus hingga Minggu (25/1) juga masih merendam 9 desa di 4 kecamatan antara lain Desa Karangrowo, Ngemplak, Tanjungkarang, Jetiskapuan, Jati Wetan, Payaman.
Perpanjangan dilakukan karena masih adanya wilayah terdampak banjir serta tingginya potensi bencana susulan.
Kerugian ditimbulkan akibat bencana banjir di Kabupaten Pati sejak Jumat (9/1) hingga Minggu (18/1) mencapai Rp637,5 miliar,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved