Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK bencana banjir bercampur lumpur selama hampur dua pekan merendam 3.931. hektare sawah, sebanyak 2.807 hektare tanaman padi di 14 kecamatan di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dipastikan puso (gagal panen).
Pemantauan Media Indonesia Selasa (27/1) hujan ringan-sedang kembali mengguyur sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah, hal ini membuat warga di sejumlah daerah terutama yang masih terendam banjir seperti Pati, Kudus, Jepara, Demak dan Pekalongan khawatir banjir akan kembali meninggi, apalagi beberapa diantaranya diguyur hujan lebat.
Tidak hanya itu, ribuan petani di daerah tersebut hanya dapat merenungi nasibnya, bahkan di Jepara akibat ada ribuan hektare sawah di 14 kecamatan dipastikan mengalami gagal panen. Karena tanaman padi yang rata-rata:berusia satu bulan tidak hanya terendam air dengan ketinggian 1 meter, tetapi juga lumpur hingga menyebabkan tanaman mati.
"Jika sesuai perhitungan harusnya panen jejang puasa Ramadhan, tetapi melihat kondisi saat ini dipastikan puso dan harus melakukan penanganan ulang dan baru dapat panen setelah lebaran," ujar Purwanto,58, seorang petani di Basri, Jepara.
Hal serupa juga diungkapkan Dahlan,55, petani di Pecangaan, Jepara akibat terendam banjir bercampur lumpur selama lebih dari dua pekan ini, tanaman padi sudah tidak dapat diharapkan panen lagi, karena sudah mati hingga tidak hanya menanggung kerugian waktu, tetapi juga benih, pupuk hingga tenaga kerja yang rata-rata Rp12 juta per hektare.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara Mudhofir membenarkan kondisi gagal panen atau puso ribuan hektare tanaman padi di daerah berada di Pantura Jawa Tengah ini, katebacakibat banjir bercampur lumpur tangctejsh dya pekan menenggelamkan tanaman padi tersebut sudah dipastikan mati dan dipastikan gagal panen hingga berdampak terganggunya produksi gabah musim ini.
Berdasarkan data inventarisasi dilakukan, ungkap Mudhofir, jumlah lahan persawahan di Kabupaten Jepara terendam banjir pada pertengahan Januari lalu mencapai 3.931 hektare yang tersebar di 14 kecamatan, dari lahan persawahan tersebut dipastikan mengalami puso mencapai 2.807 hektare berada di 13 kecamatan."Akibatnya target swasembada pangan juga terganggu" tambahnya.
Lahan persawahan di Jepara mengalami puso terparah, menurut Mudhofir, yakni di Kecamatan Kalinyamatan seluas 742 hektare dan Kecamatan Pecangaan sektas 350 hektare sedangkan sisanya di sejumlah kecamatan lain. "Ada 1.054 hektare yang masih dapat diselamatkan karena tidak terendam lumpur dan usia tanaman berkisar 2 bulan" tambahnya.
Akibat bencana banjir ini, demikian Mudhofir, target swasembada pangan dipastikan terganggu, dari target tahun ini di lberikan Kementerian Pertanian seluas 10.957 hektare sebenarnya sudah tercapai 10.589 hektare, namun akibat dilanda banjir ini maka luas area tanaman padi berkurang lagi dan masih diupayakan untuk dikejar.
Mengatasi kondisi dan nasib petani, lanjut Mudhofir, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Divas Pertanian teoah mengajukan bantuan benih dan pupuk ubt um petani terdampak, sehingga langkah ini diharapkan dapat meringankan beban petani menghadapi musim tanam mendatang. (H-2)
Banjir di Kabupaten Kudus hingga Minggu (25/1) juga masih merendam 9 desa di 4 kecamatan antara lain Desa Karangrowo, Ngemplak, Tanjungkarang, Jetiskapuan, Jati Wetan, Payaman.
Perpanjangan dilakukan karena masih adanya wilayah terdampak banjir serta tingginya potensi bencana susulan.
Kerugian ditimbulkan akibat bencana banjir di Kabupaten Pati sejak Jumat (9/1) hingga Minggu (18/1) mencapai Rp637,5 miliar,
Akibat intensitas hujan yang masih tinggi dan belum teratasinya sejumlah tanggul sungai yang jebol serta luapan sungai, banjir di daerah ini kembali meninggi.
Banjir di Pati, Jawa Tengah, yang telah berlangsung selama 8 hari, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved