Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Banjir Masih Rendam 45 Desa di Pati, 35 Warga Terserang Leptospirosis 4 di Antaranya Meninggal Dunia

Akhmad Safuan
01/2/2026 13:51
Banjir Masih Rendam 45 Desa di Pati, 35 Warga Terserang Leptospirosis 4 di Antaranya Meninggal Dunia
Banjir masih merendam 45:desa di 7 kecamatan di Kabupaten Pati Minggu (1/2) mengakibatkan ribuan jiwa warga masih bertahan di pengungsian.(MI/Akhmad Safuan)

DAMPAK banjir melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang tidak kunjung surut setelah hampir 3 pekan, selain mengakibatkan ribuan warga terdampak, juga 35 warga terjangkit leptospirosis dan 4 orang di antaranya meninggal dunia.

Pemantauan Media Indonesia Minggu (1/2) hingga saat ini, banjir masih merendam 45 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Pati yakni Kecamatan Pati (4 desa), Juwana (8 desa), Kayen (5 desa), Jakenan (7 desa), Sukolilo (3 desa), Gabus (13 desa) dan Dukuhseti (5) dengan ketinggian air 20-80 centimeter.

Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, akibat banjir tersebut sebanyak  2.921 rumah warga yang dihuni 3.988 keluarga (10.939 jiwa) yang terdampak dan 432 keluarga (1.060 jiwa) hingga saat ini masih mengungsi, sehingga pemerintah daerah terus berupaya melakukan penanganan cepat.

"Banjir masih merendam, selain intensitas hujan yang masih tinggi terutama di kawasan Gunung Muria, juga air laut pasang (rob) masih berlangsung," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati Martinus Budi Prasetya.

Tidak hanya ribuan warga yang masih mengalami kesulitan dan terganggu aktivitasnya akibat banjir ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati juga melaporkan lonjakan kasus penyakit leptospirosis sebagai dampak bencana banjir yang terjadi sejak 9 Januari 2026 lalu, bahkan penyakit berasal dari bakteri yang ditularkan melalui urin hewan tikus mengakibatkan kematian.

Berdasar catatan Dinkes Pati, pada periode Januari 2026 lalu, 35 orang tersebar di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Juwana, Jaken, Margoyoso, Trangkil, Dukuhseti, Batangan, hingga Wedarijaksa dinyatakan terjangkit leptospirosis, sebagian besar merupakan warga berusia lanjut (lansia) dan 4 orang diantaranya meninggal dunia.

Ketua Tim Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Yanti mengatakan jumlah warga terjangkit leptospirosis akibat banjir melanda daerah ini, sudah lebih dari separuh total kasus sepanjang 2025 yakni  61 kasus leptospirosis dengan 17 orang meninggal dunia. "Pada tahun lalu terbanyak terjadi pada Februari-Maret," tambahnya.

Keterlambatan penanganan menjadi faktor utama penyebab fatalitas penyakit ini, ungkap Yanti, hal ini karena gejala leptospirosis sering kali dianggap remeh oleh masyarakat karena menyerupai penyakit biasa akibat ketidaktahuan warga terhadap penyakit berasal dari bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urin atau darah hewan, antara lain tikus, anjing, kucing, babi, kambing, sapi dan kuda.

"Bakteri itu biasanya mencemari tanah dan umum terjadi di wilayah tropis, terutama saat terjadi banjir dalam waktu yang cukup lama," ujar Yanti.

Para penderita leptospirosis, lanjut Yanti, pada umumnya memiliki gejala demam, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, lemas hingga kulit kekuningan, bahkan dampak terparahnya adalah gagal ginjal yang bisa berujung pada kematian, sehingga jika tidak segera ditangani dengan antibiotik, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada organ tubuh.

Sebagai langkah preventif, demikian Yanti, Dinkes Pati telah menginstruksikan petugas di seluruh Puskesmas untuk melakukan desinfeksi pada area genangan air pascabanjir, dengan salah satu media yang digunakan adalah deterjen pembersih rumah tangga yang dinilai efektif membasmi bakteri namun tetap aman bagi lingkungan.

"Selain itu Dinkes Pati juga meminta warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala penyakit akibat banjir tersebut," imbuhnya. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya