Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Inflasi Ekstrem Hantam Nias meski Tanpa Bencana, Harga Bahan Pangan Melonjak

Yoseph Pencawan
06/1/2026 16:22
Inflasi Ekstrem Hantam Nias meski Tanpa Bencana, Harga Bahan Pangan Melonjak
Ilustrasi(ANTARA)

WILAYAH Kepulauan Nias tercatat mengalami tekanan inflasi paling ekstrem di Sumut meski tidak terdampak langsung bencana banjir akhir November 2025. Inflasi bulanan Kota Gunungsitoli mencapai 6,94%, menjadi yang tertinggi di antara seluruh daerah Indeks Harga Konsumen di Sumut.

Lonjakan harga di Nias terjadi ketika sejumlah wilayah lain justru dilanda banjir. Inflasi bulanan Gunungsitoli jauh melampaui rata-rata inflasi Sumut yang sebesar 1,66% dan melampaui inflasi kumulatif Sumut sepanjang 2025 yang tercatat 4,66%.

Tekanan harga di Nias dipicu terputusnya jalur distribusi barang dan jasa akibat bencana di kawasan Tapanuli, termasuk Kota Sibolga. Gangguan distribusi dari daratan Sumatra langsung berdampak pada ketersediaan dan harga bahan pokok di wilayah kepulauan tersebut.

Ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari luar daerah membuat struktur ketahanan pangan Nias rapuh. Wilayah ini belum mampu memenuhi kebutuhan pangan hariannya secara mandiri sehingga sangat rentan terhadap gangguan logistik.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai inflasi ekstrem di Nias menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah.

"Ketergantungan pasokan dari luar membuat Nias selalu paling terpukul setiap kali distribusi terganggu," katanya, Selasa (6/1).

Menurut dia, situasi ini menunjukkan perlunya terobosan kebijakan yang lebih mendasar untuk membangun kemandirian pangan. Pemerintah daerah dinilai perlu membuka ruang investasi sektor pangan.

Mulai dari peternakan ayam, telur, sapi hingga komoditas strategis lain yang selama ini didatangkan dari luar. Selain investasi, masyarakat juga perlu didorong terlibat langsung dalam produksi pangan.

Misalnya gerakan tanam mandiri di tingkat rumah tangga yang dinilai bisa menjadi bantalan awal saat terjadi lonjakan harga. Terutama untuk komoditas sensitif seperti cabai.

Pengembangan teknologi pertanian juga dianggap mendesak agar produksi pangan lokal mampu menggantikan pasokan dari luar daerah. Begitu juga dengan penyediaan industri pendukung, seperti pupuk, pestisida dan sarana produksi pertanian, perlu diprioritaskan.

Gunawan memperingatkan tekanan inflasi saat ini telah menekan daya beli masyarakat Nias secara ekstrem. Kondisi itu berisiko menambah jumlah penduduk miskin dan membuka ancaman yang lebih serius jika tidak segera dibenahi. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya