Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Bulog Serap 30 Ton Gabah Terdampak Banjir Grobogan, Petani Diminta Ayak dan Kering Anginkan

Haryanto Mega
27/2/2026 15:53
Bulog Serap 30 Ton Gabah Terdampak Banjir Grobogan, Petani Diminta Ayak dan Kering Anginkan
Ilustrasi(MI/HARYANTO)

PERUM  Bulog menyerap sekitar 30 ton gabah dari daerah terdampak banjir di Jawa Tengah dalam satu hari penyerapan, Kamis (26/2). Gabah tersebut tetap dibeli sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram meski kualitasnya menurun akibat terendam lumpur.

Direktur Pengadaan Perum  Bulog, Prihasto Setyanto, mengatakan pihaknya turun langsung meninjau proses penyerapan di lokasi terdampak banjir. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga di tingkat petani tetap stabil di tengah panen dan cuaca ekstrem. “Kemarin saja kurang lebih sekitar 30 ton yang kita serap dari daerah yang terkena banjir,” ujarnya di sela Rakor Pangan di Semarang, Rabu (27/2/2026).

Secara fisik, gabah tampak lebih kotor dan berwarna agak kehitaman karena tercampur lumpur serta jerami. Namun, karena banjir tidak berlangsung lama, kondisi buliran dinilai masih cukup baik dan layak diproses menjadi beras. “Kalau dilihat secara buliran, gabahnya besar-besar karena memang sudah mendekati masa panen. Hanya saja warnanya agak kehitaman karena lumpur dan banyak tercampur jerami,” jelasnya.

Prihasto menegaskan,  Bulog tetap melakukan pembelian sesuai HPP Rp6.500 per kilogram. Jika terdapat daerah lain dengan kondisi serupa,  Bulog siap melakukan penyerapan sepanjang ada informasi resmi dari dinas pertanian setempat.
“Kita siap melakukan penyerapan asalkan diinfokan oleh dinas pertanian. Bulog pasti hadir,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya penanganan awal sebelum gabah dijual ke  Bulog atau mitra penggilingan. Gabah yang terlalu basah dan terlalu banyak kotoran berisiko merusak mesin pengering. “Kalau gabah terlalu basah atau terlalu banyak jerami dan kotoran, yang kasihan mitra penggilingan karena mesin pengeringnya bisa rusak,” katanya.

Petani di wilayah terdampak banjir disarankan untuk mengayak gabah terlebih dahulu guna mengurangi kotoran dan jerami. Selain itu, gabah perlu dikering-anginkan agar kadar air tidak terlalu tinggi saat memasuki proses pengeringan. “Diayak dulu, dikering-anginkan dulu supaya waktu diproses lebih mudah dan tidak merusak alat pengering,” terangnya.

Selain gabah, BulogJawa Tengah mencatat penyerapan jagung periode Januari–Februari 2026 mencapai 4.700 ton. Target penyerapan jagung Jawa Tengah hingga Desember 2026 ditetapkan sebesar 70.000 ton dan diharapkan dapat tercapai melalui optimalisasi serapan di lapangan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya