Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada Desember 2025 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,65% (mtm), lebih tinggi dibandingkan realisasi November 2025 yang mengalami inflasi sebesar 0,27% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo menyampaikan, secara tahunan, DIY mengalami inflasi yang terkendali sebesar 3,11% (yoy) pada Desember 2025 dan berada dalam rentang target sasaran inflasi Nasional 2025, meski lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan bulan November 2025 sebesar 2,92% (yoy).
Berdasarkan kota IHK, Kota Yogyakarta pada Desember 2025 mengalami inflasi bulanan sebesar 0,53% (mtm) atau secara tahunan mencapai 3,33% (yoy). Sedangkan Kab.Gunungkidul tercatat mengalami inflasi sebesar 0,74% (mtm) sehingga inflasi tahunan mencapai 2,93% (yoy).
Sesuai dengan siklusnya, meningkatnya kunjungan wisatawan pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mendorong peningkatan konsumsi sehingga memicu inflasi terutama pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang tercatat mengalami inflasi sebesar 1,66% (mtm) pada Desember 2025 dengan andil inflasi sebesar 0,47% (mtm).
Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh naiknya harga komoditas cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah dengan masing-masing andil inflasi sebesar 0,14% (mtm), 0,06% (mtm), dan 0,04% (mtm). Harga cabai rawit dan cabai merah meningkat akibat curah hujan yang tinggi pada Desember 2025 sehingga menyebabkan penurunan produksi yang berdampak pada terbatasnya pasokan.
"Sementara itu, harga daging ayam ras naik seiring meningkatnya permintaan masyarakat pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026," ungkap dia, Senin (5/12).
Selain itu, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya tercatat mengalami inflasi sebesar 1,83% (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,13% (mtm). Penyebab utama inflasi pada kelompok ini adalah kenaikan harga emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,13% (mtm). Kenaikan harga emas dipengaruhi harga emas global seiring ketidakpastian global yang tercermin dari meningkatnya Global Risk Index dan Geopolitical Risk Index. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya permintaan konsumen untuk komoditas emas sebagai aset safe-haven.
Selanjutnya, Kelompok Transportasi tercatat mengalami inflasi sebesar 0,38% (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,05% (mtm). Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya harga bensin sejalan dengan berlakunya kebijakan pemerintah terkait peningkatan harga BBM nonsubsidi yang berlaku pada 1 Desember 2025 di seluruh wilayah Indonesia, termasuk DIY.
Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh turunnya harga pada beberapa komoditas pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yaitu pada komoditas kelapa, buncis, dan ketimun dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02% (mtm); 0,01% (mtm); 0,01% (mtm). Penurunan harga kelapa disebabkan oleh ketersediaan pasokan yang terjaga di tengah permintaan yang masih terbatas.
Selain itu, harga buncis dan ketimun mengalami deflasi akibat normalisasi dari kenaikan harga bulan sebelumnya, didukung dengan jumlah pasokan yang mulai stabil.
Dalam upaya pengendalian inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY mengapresiasi kontribusi aktif berbagai pihak yang telah membangun sinergi dan kolaborasi.
Upaya tersebut memberikan hasil DIY sebagai Juara II TPID Provinsi Berkinerja Terbaik se-Kawasan Jawa Bali pada ajang TPID Award 2025.
Selanjutnya, Bank Indonesia memprakirakan inflasi DIY tahun 2026 tetap terjaga pada kisaran target 2,5%+1% (yoy). Kondisi tersebut didukung oleh komitmen TPID DIY untuk melanjutkan langkah pengendalian inflasi melalui program GNPIP dalam kerangka 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif).
Program yang telah dilakukan, di antaranya pelaksanaan operasi pasar/pasar murah yang diperkuat dengan optimalisasi Kios Segoro Amarto serta Warung MRANTASI sebagai price reference store untuk menjaga daya beli, kampanye belanja bijak, dan penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) baik antar provinsi maupun intra provinsi dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan strategis serta maraknya berbagai gerakan sosial masyarakat yang bertujuan untuk stabilitas harga dan pasokan melalui efisiensi distribusi komoditas.
Pengawasan pergerakan harga dilakukan secara koordinasi lintas sektor. Salah satunya mengawasi harga komoditas yang bisa memengaruhi inflasi.
Harga beras kelas medium masih berkisar Rp13.500-Rp14.500 per kilogram, harga bawang putih Rp40.000-Rp45.000 per kilogram, bawang merah Rp30.000-Rp35.000 per kilogram.
Para pelaku usaha di sektor pangan diminta untuk semakin taat menjalankan harga acuan pemerintah jelang Ramadan.
Memasuki minggu ketiga Januari 2026, seluruh komoditas cabai di Kota Padang Panjang tercatat mengalami penurunan harga.
Harga cabai merah di Sumatra Utara diproyeksikan bakal merangkak naik pada pekan depan.
Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga harian di pasar-pasar tradisional untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sejak dini.
Memasuki minggu ketiga Januari 2026, seluruh komoditas cabai di Kota Padang Panjang tercatat mengalami penurunan harga.
Kabar gembira! Harga cabai rawit merah "terjun bebas" ke angka Rp53.000-an pasca Nataru. Simak rincian harga pangan terbaru per 8 Januari 2026 di sini.
Angin segar bagi ibu rumah tangga, harga cabai rawit merah dan bawang merah kompak turun drastis per 6 Januari 2026. Simak rincian harga sembako terbaru di sini.
DUA pekan pascahari raya Idul Fitri atau Lebaran 2025 yakni pada Senin (14/4) harga cabai di Purwokerto, Jawa Tengah masih bertahan di angka yang tinggi.
Kendati sudah mengalami penurunan, konsumen masih menganggap harga tersebut masih terbilang mahal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved