Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR telah meluluhlantakkan wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hingga lebih dari sepekan sejak bencana terjadi, puluhan ribu korban banjir yang selamat masih belum tertangani maksimal.
Banyak dari mereka yang belum tersentuh bantuan sambil berupaya bertahan hidup. Begitupun korban yang meninggal dunia, jenazah mereka banyak yang belum dievakuasi sehingga bencana ini makin terasa mengerikan.
Semakin hari terus terungkap kondisi di balik sendimen sampah banjir, lumpur yang terbawa dan tumpukan kayu gelondongan menyisakan beban berat.
Ditambah lagi harga barang meroket, ketersediaan bahan pokok sulit didapati hingga elpiji langka dan bahan bakar kendaraan raib.
Kekhawatiran kondisi darurat itu membuat kepala daerah setingkat pimpinan kabupaten di Aceh pusing, galau, panik hingga blak-blakan mengaku tidak sanggup menangani bencana. Mereka pun menyurati Presiden Pranowo Subianto. Menurut perkiraan para bupati di Aceh itu, penangan harus cepat, menyeluruh dan menghadirkan kekuatan besar.
Mereka meminta penanganan banjir dahsyat segera ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional. Melalui kerangka status nasional penangan lebih besar, efektif, kuat dan bisa melibatkan semua kementerian dan lembaga negara tingkat nasional.
Sesuai pengamatan Media Indonesia, Rabu (3/12) sedikitnya ada lima bupati di Provinsi Aceh itu mengaku tidak sanggup menangani dampak bencana banjir besar itu. Mereka masing-masing adalah Bupati Aceh Tengah Halili Yoga, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, Bupati Aceh Selatan Mirwan MS, Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan, dan Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil.
Bukan saja membuat pernyataan tidak sanggup menghadapi darurat banjir, mereka juga membuat surat resmi untuk diirim kepada kepala negara. Itu terpaksa dilakukan agar para lokasi terdampak segera tertangani dengan baik agar tidak bertambah korban jiwa dan tidak melahirkan persoalan baru.
Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Aceh Utara misalnya, pada Selasa (2/12) mengumumkan dengan resmi ketidakmampuan mereka menangani banjir sejak Rabu (26/11) pekan lalu. Pernyataan resmi itu tertuang dalam surat bernomor 400/1832/ 2035 ditandatangani oleh Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, pada Selasa (2/12) kemarin. Surat bersifat penting itu menguraikan situasi kritis yang meluluh lantakkan kawasan Aceh Utara. Bahkan disebutkan daya rusak banjir itu melebihi kedahsyatan tsunami Aceh 26 Desember 2004 lalu.
Sedangkan Bupati Aceh Timur Iskandar Al-Farlaky dalam rapat dengan forkopimda setempat pada Minggu (30/11) mengatakan, wilayah kabupaten di bawah pimpinannya itu lumpuh total. Dari 24 kecamatan yang diterjang air bah, 2 di antaranya paling parah kerusakannya, yaitu Kecamatan Simpang Jernih dan Kecamatan Serbajadi.
Iskandar Usman juga mengaku kerusakan wilayah tersebut seperti hantaman gelombang besar tsunami 25 Desember 2004. Dengan uraian air mata dalam forum rapat pimpinan daerah itu Iskandar menjelaskan dua hari dua malam warga di lokasi banjir lapar tidak ada makanan. Pelayanan publik berhenti total, seperti listrik mati, telekomunikasi putus dan pasokan bahan logistik atau makanan gagal.
"Saya kerahkan semua kekuatan di Aceh Timur. Namun mohon maaf, belum bisa terjangkau seluruhnya, karena longsor dan banjir terparah di Madat, Simpang Ulim, Pante Bidari belum bisa terjangkau," tutur Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky kala itu. (MR/E-4)
Perusahaan pertambangan didorong untuk mengadopsi standar internasional yang memiliki kriteria lebih ketat guna meminimalkan risiko kerusakan lingkungan, termasuk potensi bencana.
ANGGOTA Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mendukung langkah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang menggugat enam perusahaan besar atas dugaan keterlibatan bencana banjir Sumatra
Tidak ada lagi seragam sekolah yang tersisa di Jamat. Siswa mengenakan pakaian warna-warni seadanya hasil pemberian donatur.
PERAN dunia usaha dalam penanganan bencana semakin terlihat melalui kolaborasi lintas sektor yang mengedepankan kecepatan distribusi dan skala bantuan.
Pascabanjir Batang Toru, warga Desa Garoga berharap pemulihan lahan pertanian. Simak kisah haru para pengungsi yang menanti hari ceria di tengah lumpur.
SUNGGUH lama dan sangat perih penderitaan ribuan warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Perusahaan pertambangan didorong untuk mengadopsi standar internasional yang memiliki kriteria lebih ketat guna meminimalkan risiko kerusakan lingkungan, termasuk potensi bencana.
Karena itu jutaan korban banjir di lebih separuh kawasan Provinsi Aceh dan tetangga Sumatra Utara serta Sumatra Barat untuk yakin di balik cobaan Allah ada rahasia luar biasa bagi mereka.
BULAN Sabit Merah Indonesia (BSMI) melakukan soft launching Klinik Pusat Pelayanan Kesehatan dan Rehabilitasi (PPKR) Aceh Tamiang pada Minggu (18/1).
SUASANA konser Slank x HS Berani Kita Beda di PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Lampung, Sabtu malam (17/1), tak hanya dipenuhi euforia musik, tetapi juga semangat solidaritas.
WARGA terdampak banjir di wilayah pedalaman Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, hingga kini masih membutuhkan kejelasan terkait tempat tinggal.
Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved