Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Harga Beras di Klaten Bertahan Tinggi, Pedagang Abaikan Ketetapan HET 

Djoko Sardjono
16/11/2025 19:42
Harga Beras di Klaten Bertahan Tinggi, Pedagang Abaikan Ketetapan HET 
Pedagang menyiapkan beras di salah satu toko beras di pasar tradisional.(Dok. Antara)

KENAIKAN harga beras lokal di Pasar Gedhe Klaten, Jawa Tengah, hingga pekan ini masih bertahan tinggi. Penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) pun belum mampu menekan kenaikan harga beras di pasar.

Pantauan Media Indonesia di Pasar Gedhe Klaten, Minggu (16/11), harga beras lokal kualitas medium di pedagang bervariasi Rp14.000-Rp15.000 per kilogram dan beras premium (khusus) harga Rp16.000-Rp16.500 per kilogram.

Sementara, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium zona Jawa Rp13.500 dan premium Rp14.900 per kilogram. Keputusan Bapanas No 299 Tahun 2025 ini berlaku mulai 22 Agustus 2025.

Penetapan HET beras medium dan premium tersebut, tidak serta-merta dipatuhi para pedagang Pasar Gedhe Klaten. Argumentasi mereka kuat, yaitu harga pengambilan beras dari perusahaan penggilingan padi sekarang juga sudah mahal.

Salah satu pedagang beras, Sunarti, saat ditemui mengungkapkan bahwa pedagang beras di pasar tradisional ini sangat tidak mungkin mematuhi keputusan pemerintah tentang HET beras medium Rp13.500 dan premium Rp14.900 per kilogram.

“Kami jual beras kualitas medium IR-64 Rp14.500 per kilogram ini harga pengambilan dari penggilingan padi (rice mill) sudah Rp13.800 per kilogram. Jadi, kami hanya mengambil untuk sedikit, belum termasuk biaya plastik dan angkutan,” katanya.

Sedangkan untuk beras khusus, istilah beras harga mahal Mentik Wangi dan Rojolele di Pasar Gedhe Klaten, Sunarti menjualnya dengan harga Rp16.000-Rp16.500 per kilogram. Tetapi, banyak pelanggannya yang membeli beras asli Klaten ini.

Senada disampaikan oleh Suzana, pedagang sembako di lantai dasar Pasar Gedhe Klaten, seraya menambahkan bahwa pedagang sulit untuk menerapkan HET beras medium dan premium sesuai dengan keputusan pemerintah tersebut. 

“Sulit dan berat bagi pedagang pasar untuk menjual beras sesuai HET. Beras medium sesuai HET Rp13.500 per kilogram, padahal pembelian atau pasokan dari penggilingan sudah Rp13.700 per kilogram. Kita bangkrut jika jual beras sesuai HET,” ujarnya. 

Berbagai upaya untuk menekan kenaikan harga bahan pangan khususnya beras, pemerintah menyalurkan beras SPHP. Namun, penyaluran beras harga murah itu belum mampu menekan harga beras di pasar yang hingga sekarang masih bertahan tinggi.

Pedagang Pasar Gedhe Klaten membenarkan, bahwa Bulog masih menyalurkan beras SPHP ke pedagang pasar, namun dalam jumlah yang terbatas. Pun, tidak banyak pedagang yang ambil karena harga jual kalah bersaing dengan beras SPHP di luar pasar.

“Sekarang warga mencari beras SPHP di luar pasar, harga lebih murah. Di pasar, SPHP kita jual Rp60.000 per pak 5 kilogram, sedangkan di luar Rp55.000 per pak. Karena, harga kalah bersaing beras SPHP di pasar tidak laku,” kata Sunarti. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya