Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan utara, ribuan nelayan di pantura Jawa Tengah tidak dapat melaut. Kondisi ini mengakibatkan produksi ikan tangkap menurun dan membuat harga ikan melambung di pasaran.
Pemantauan Media Indonesia, Minggu (2/2) ribuan kapal ikan dengan berbagai ukuran dan jenis disandarkan di sejumlah pelabuhan perikanan di daerah sepanjang pantura Jawa Tengah, sejak beberapa hari ini seperti, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, Pelabuhan Klidang Lor dan Gringsing (Batang), Bandengan (Kendal), Tambaklorok (Semarang), Moro dan Wedung (Demak) Kartini (Jepara), Juwana (Pati) dan Gisikagung (Rembang).
Cuaca buruk di perairan dan gelombang tinggi di Laut Jawa tersebut menjadi alasan utama ratusan ribu nelayan tidak dapat melaut. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para nelayan di sejumlah daerah di pantura Jawa Tengah tersebut memilih bekerja di luar profesinya.
"Sudah hampir sebulan tidak melaut karena lagi musim baratan, gelombang tinggi dan badai," ujar Prayitno, 46, nelayan di Jepara.
Hal serupa juga diungkapkan Kuswandi, 36, nelayan di Wedung, Kabupaten Demak, bahkan untuk dapat bertahan memenuhi kebutuhan hidup, nelayan memilih bekerja serabutan menjadi kuli bangunan di beberapa proyek sekitar maupun luar daerah. Namun bagi nelayan yang sudah berusia tua lebih banyak menganggur dan membenahi jaring alat tangkap.
Nelayan lain Ahmad Choirul, 30, nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kota Pekalongan, mengaku tidak dapat berbuat banyak menghadapi cuaca buruk di perairan utara, guna memenuhi kebutuhan para nelayan hanya dapat bekerja serabutan karena banyak kapal berhenti melaut.
"Kami biasanya berlayar mencari ikan di Indonesia bagian timur, jika cuaca seperti ini menganggur, sedangkan nelayan yang terlanjur sudah di tengah bersembunyi di pulau-pulau kecil menghindari badai dan gelombang tinggi," ujarnya.
Menurut Koordinator Nelayan Kabupaten Pati Ahmad Fikri Nasrullah, kondisi gelombang laut dan badai saat ini tidak mendukung pelayaran dan para nelayan tidak berani berlayar. Bahkan, kondisi ini juga dialami nelayan sungai karena arus sungai juga cukup kuat mengakibatkan kegiatan mencari ikan tidak dilakukan, sehingga secara otomatis mereka mengalami kesulitan ekonomi.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batang Teguh Tarmujo mengatakan, gelombang tinggi dan badai masih terjadi hingga nelayan diimbau untuk tidak melaut. Sebelumnya, para nelayan juga telah mendapat informasi mengenai tingginya gelombang dan cuaca buruk yang diperkirakan berlangsung sampai akhir 2024. Namun memasuki akhir Januari, gelombang kembali meningkat.
"Cuaca di perairan utara masih tidak baik, apalagi untuk kapal nelayan berukuran kecil hingga sedang sangat berisiko dan berbahaya, meskipun di pinggiran pantai," imbuhnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya juga meminta agar para nelayan di daerah Pantura ini untuk sementara berhenti melaut, karena cuaca buruk yakni gelombang tinggi dan badai di Laut Jawa masih tinggi serta membahayakan aktivitas pelayaran.
Sebelumnya, Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Usman Effendi mengungkapkan, gelombang di perairan utara Jawa Tengah masih tinggi yakni 1,25-2,5 meter. Kondisi ini cukup membahayakan dan berisiko untuk kegiatan pelayaran seperti kapal nelayan, tongkang maupun penyeberangan antarpulau.
Selain itu, guyuran hujan di perairan ditambah kecepatan angin berkisar 2-20 knot di perairan utara Jawa Tengah ini berisiko dan dapat menimbulkan kecelakaan. "Waspada terhadap gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi hingga beberapa hari ke depan," tambahnya. (AS/J-3)
BMKG menetapkan status zona merah untuk sejumlah wilayah perairan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (5/3).
BBMKG Denpasar rilis peringatan dini gelombang 5 meter dan angin kencang 40 knot di Bali akibat bibit siklon 90S. Cek wilayah terdampak di sini.
BMKG pantau 3 bibit siklon tropis (90S, 93S, 92P) yang picu cuaca ekstrem di Indonesia. Waspada hujan lebat, angin kencang, dan gelombang hingga 4 meter.
BALAI Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III mengeluarkan peringatan dini potensi peningkatan air laut maksimum di sejumlah wilayah pesisir Bali.
PRAKIRAAN cuaca Jawa Tengah hari ini 1 Maret 2026 menunjukkan adanya potensi cuaca ekstrem disertai gelombang tinggi hingga mencapai 4 meter di perairan selatan dan air laut pasang
Daerah di Jawa Tengah berpotensi cuaca ekstrem, ungkap Farita Rachmawati, yakni Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Mungkid, Boyolali, Klaten
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved