Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Kuningan melakukan upaya untuk mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di wilayah mereka.
Kepala Disnakan Kabupaten Kuningan, Wawan Setiawan, menjelaskan pihaknya tengah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran PMK di wilayah Kabupaten Kuningan.
“Pekan lalu kami telah melakukan vaksinasi massal,” tutur Wawan, Senin (13/1). Total ada 500 dosis vaksin yang disuntikkan untuk sapi potong, terutama milik peternak kecil. Vaksinasi ini melibatkan seluruh petugas Puskeswan yang ada di Kabupaten Kuningan bersama tim petugas Balai Veteriner Subang.
Selanjutnya untuk sapi potong milik perusahaan besar menurut Wawan pihaknya sudah menginstruksikan untuk melakukan vaksinasi secara mandiri. Selain itu, lanjut Wawan, petugas di enam Puskeswan saat ini juga tengah bersiaga untuk melakukan pengawasan mobilisasi ternak dari luar daerah yang akan masuk ke Kabupaten Kuningan.
“Termasuk juga mengawasi keberadaan di pasar-pasar hewan,” tutur Wawan.
Jika ditemukan ada sapi atau kerbau yang mengalami gejala PMK, seperti mulut keluar liur berlebih, nafsu makan berkurang dan lainnya segera diarahkan untuk dikarantina dan melakukan pengobatan.
“Kami juga menggandeng komunitas Eco Enzym Kabupaten Kuningan untuk menyiapkan cairan eco enzyme yang diyakini sangat ampuh untuk mengobati sapi yang terkena PMK,” tutur Wawan.
Saat wabah PMK lalu, menurut Wawan mereka juga menggunakan cairan eco enzyme dan banyak sapi yang terpapar bisa sembuh.
“Kami juga telah membuat surat edaran kepada pemilik ternak sapi untuk bersiaga dan melakukan pencegahan terhadap wabah PMK,” tutur Wawan.
Surat edaran itu diantaranya berisi imbauan untuk tidak dulu mendatangkan sapi dari luar daerah, melakukan vaksinasi mandiri, menjaga kebersihan kandang, menjaga sanitasi yang baik dan hewan ternak agar terhindar dari PMK.
Saat disinggung mengenai hewan yang terpapar PMK di Kabupaten Kuningan, Wawan menjelaskan ada 28 ekor sapi yang sudah terpapar.
“Tersebar di Kecamatan Maleber dan Subang. Semuanya sapi potong dan kiriman dari Jawa Tengah yang dibeli peternak untuk penggemukan persiapan lebaran nanti,” tutur Wawan.
Semuanya, lanjut Wawan, masih dan kondisi hidup dan sedang dalam penanganan. Sementara untuk di Kecamatan Cigugur yang merupakan sentra peternakan sapi perah kondisinya menurut Wawan masih aman dan belum ada laporan sapi perah yang terpapar PMK. “Mudah-mudahan PMK tidak sampai masuk ke sana,” tutur Wawan. (Z-9)
Program vaksinasi PMK juga dilakukan secara serentak dalam dua periode secara nasional.
WABAH penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali melanda Jawa Timur pada awal tahun, bahkan cenderung meningkat drastis. Tercatat sebanyak 839 kasus ditemukan di 19 kabupaten di Jawa Timur.
PETERNAK sapi di Jawa Timur perlu waspada menyusul ditemukannya 30 ekor sapi di Kabupaten Ngawi terjangkit virus penyakit mulut dan kuku (PMK).
Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta telah menyiapkan sebanyak 300 orang juru sembelih halal (juleha) dalam pelaksanaan kurban.
PASAR hewan di Jawa Timur (Jatim) yang dinilai masih rawan munculnya Penyakit Mulut Kuku (PMK), jelang Hari Raya Idul Adha diimbau untuk ditutup sementara.
Menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 M, Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban.
Dari 3 GPM yang telah digelar beras, telur ayam dan minyak goreng menjadi komoditas yang paling banyak dibeli oleh masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Pasar Kepuh, Kecamatan/Kabupaten Kuningan, harga cabai merah kini sudah mencapai Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram tergantung jenis
Pemkab Kuningan terbitkan SE Ramadan 2026. Larangan petasan, penutupan hiburan malam, hingga aturan tirai rumah makan diberlakukan.
Banjir terjadi pada Rabu (11/2) di empat dusun di Desa Andamui, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan
Kematian ikan mulai terpantau sejak 29 Januari 2026 dan terus meningkat hingga hari ketujuh.
Hasil identifikasi yang diakukan, kematian ikan disebabkan adanya parasit jenis cacing yang hidup di tubuh ikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved