Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
CALON anggota legislatif (Caleg) DPRD Sleman, Ferdi Setiawan semakin giat menggelar kampanye dialogis dan blusukan mendengarkan keluhan masyarakat, bahkan aktivitas itu dilakukan politisi Partai NasDem itu sepanjang waktu.
Dalam kampanyenya, Ferdi mengusung program BERMORAL atau Bermasyarakat, Modifikasi, Restrukturisasi, Agama dan Lingkungan.
“Bagi saya sangat penting bisa kembali berguna dan bermanfaat untuk masyarakat Sleman khususnya di dapil saya yaitu Turi, Tempel dan Sleman, mengingat saya dulu juga bagian dari mereka saat saya masih aktif di beberapa organisasi seperti karang taruna, kegiatan keagamaan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Nah setelah 20 tahun merantau ke Jakarta, kini saatnya saya kembali berkontribusi nyata untuk masyarakat, apapun wujudnya salah satunya saya namakan Program BERMORA," ujar Ferdi.
Baca juga : Pentingnya Selisik Rekam Jejak Calon di Pileg dan Pilpres
Ferdi menjelaskan, program BERMORAL adalah sebuah gagasan baru tentang sistem kerja anggota dewan yang harus lebih aktif dan tidak monoton dalam mengabdi (Bermasyarakat) yaitu langsung memberikan solusi untuk publik.
Melalui program itu, setiap minggu sekali setiap anggota DPRD Sleman harus bertemu masyarakat guna mengkolaborasikan program warga (Modifikasi) dan mengkondisikan langsung aspirasi warga (Restrukturisasi) guna memaksimalkan aspirasi dan program program kerakyatan.
Baca juga ; Laporan Transaksi Mencurigakan dari PPATK Tak Terkait Politik Uang
Setiap anggota dewan harus menggelar pertemuan dengan sejumlah elemen masyarakat Sleman khususnya di dapil masing masing.
Selain itu, dengan program tersebut, setiap anggota legislatif harus hadir dalam kegiatan atau kajian religi (agama) serta harus ikut terlibat langsung dalam kegiatan gotong royong (lingkungan) agar lebih dekat dengan masyarakat dan merasakan langsung aktivitas rakyat (wong cilik).
Perebutan kursi DPRD kabupaten Sleman di dapil 1 Sleman yang meliputi kapanewon Turi, Tempel, dan Sleman memang sangat keras, bahkan di kalangan politisi Sleman sering menyebutnya “Dapil Neraka” karena banyak sekali calon petahana yang sudah lebih dari satu periode kembali mencalonkan diri sebagai caleg.
Meski sadar banyak sekali kompetitor di dapil 1 Sleman, namun bukan halangan bagi Ferdi yang saat ini tengah menempuh studi S2 magister Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Paramadina Jakarta.
Ferdi menyebut semua caleg punya program bagus karena berjuang untuk masyarakat kecil, hanya saja Ferdi meminta agar para Caleg jangan memaksa masyarakat untuk memilih dengan diiming-imingi imbalan baik uang maupun barang, karena justru akan melukai hati masyarakat.
“Sekarang banyak fenomena masyarakat di dapil saya, dimana masyarakat tidak berkutik alias terkunci atas pemberian bantuan baik uang maupun fisik (barang atau bangunan) dari caleg incumbent, sehingga bisa jadi mereka (masyarakat) tak memilih sesuai hati nurani. Tentu butuh ikhtiar (usaha sungguh sungguh) bagi saya untuk mewujudkan semua aspirasi masyarakat, terutama bersaing dengan sejumlah caleg lain, khususnya caleg incumbent (petahana) yang memiliki dana besar baik seperti Dana Reses dan Dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD yang esensinya adalah uang memang seharusnya untuk rakyat. Namun saya menyakini Insyaa Allah sebagai Caleg Milenial akan menjadi Harapan Baru dapil 1 Sleman, untuk perubahan dan perbaikan untuk masyarakat Turi, Tempel dan Sleman,” imbuh warga Gabugan Donokerto Turi tersebut.
Di daerah pemilihan 1 Sleman (Turi, Tempel & Sleman) tercatat sebanyak 85 calon anggota legislatif (caleg) dari semua partai politik bertarung untuk merebutkan 7 kursi DPRD kabupaten Sleman. Caleg dari Partai NasSem yang salah satunya diwakili oleh alumni SMPN 1 Turi Ferdi Setiawan menjadi harapan baru bagi masyarakat Turi, Tempel & Sleman.
Kekuatan jaringan kerja dan aktivis skala Nasional yang dimiliki oleh Caleg nomer urut terakhir (nomor 7) tersebut diharapkan bisa membawa perubahan dan perbaikan nasib bagi wong Cilik di Sleman baik kalangan petani, peternak, pegiat UKM, pegiat wisata hingga kalangan milenial dan anak anak muda.
“Nomor urut paling bawah alias nomor 7 (pitu) adalah pitulungan alias pertolongan. Insyaa Allah saya akan selalu menolong masyarakat yang membutuhkan. Angka 7 (pitu) juga mengandung arti pitutur alias nasehat, Insyaa Allah sebagai anggota DPRD kabupaten Sleman akan selalu mendengarkan nasehat, keluhan dan aspirasi dari seluruh masyarakat Sleman pada umumnya dan masyarakat Turi, Tempel & Sleman pada khususnya” tutur Sarjana Teknologi Pertanian alumni UMBY.
Di era keterbukaan informasi, masyarakat lebih mudah dalam mengenal sosok sosok calon anggota legislatif yang kelak akan membawa amanah rakyat di gedung parlemen. Tak hanya di media massa, kini media sosial juga diramaikan dengan profil profil Sang Caleg, dengan demikian masyarakat tidak salah pilih wakil rakyat yang akan duduk di kursi DPRD kabupaten Sleman.
Sebagai caleg Harapan Sleman, Ferdi juga membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk sekedar mengenal bahkan berinteraksi langsung melalui Instagram ferdi.setiawans, atau Youtube dengan akun Ferdi.Setiawan atau The Blangkon TV termasuk nama yang sama dengan akun TikToknya. (RO/Z-5)
Kecelakaan yang melibatkan dua armada bus Transjakarta di jalur layang Koridor 13, ruas Swadarma arah Cipulir, pada Senin (23/2), mengakibatkan 23 penumpang mengalami luka ringan.
Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti penting, mulai dari proyektil peluru hingga rekaman CCTV guna mengidentifikasi pelaku penembakan di rumah anggota DPRD Jateng.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
SISTEM pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung yang telah berjalan dua dekade dinilai gagal mewujudkan demokrasi substansial.
Sidang pemeriksaan pendahuluan perkara tersebut digelar Kamis (4/2) dan dipimpin Ketua MK Suhartoyo, didampingi Hakim Konstitusi Daniel Yusmic P. Foekh dan M. Guntur Hamzah.
Langkah ini bertujuan untuk melakukan studi komparasi guna memperkaya referensi dalam penyusunan regulasi baru.
Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum, Dhahana Putra, menanggapi polemik kasus salah tangkap yang menimpa Hogi Minaya di Sleman.
Meski menyampaikan permohonan maaf, Kapolres Sleman menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya bekerja secara profesional sejak awal penanganan perkara.
SETELAH mendapatkan dua alat bukti yang cukup kuat, Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta akhirnya menahan Dukuh Candirejo, Kalurahan Tegaltirto, Berbah, Sleman, berinisial SAR.
Secara rata-rata usia harapan hidup di Sleman baik laki-laki maupun perempuan mencapai 75,26 tahun.
MENTERI Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengapresiasi Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, khususnya Pemkab Sleman, karena telah berhasil 100% membentuk Koperasi Merah Putih
Siti Fatimah, pengusaha wanita asal Sleman, sukses membangun usaha kuliner lokal berbasis daun kelor bernama Pawon Teges. Berkat inovasi dan dukungan KUR BRI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved