Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA DPR Provinsi Papua Apeniel Sani mengeritik keras rencana pemindahan 4.212 ASN ke Empat DOB Papua untuk mengisi kebutuhan pemerintahan di Provinsi Baru. Hal tersebut dinilai terlalu berlebihan dan cenderung menimbulkan gejolak sosial baru karena tidak melihat ketersediaan ASN dari putra-putri asli Papua terlebih dahulu.
"Ini rencana sangat ngawur. Padahal anak-anak OAP ini banyak yang siap untuk diangkat atau dimutasi mengisi kebutuhan ASN yang ada di wilayah DOB. Mereka harus diutamakan dulu. Jadi pemerintah jangan bikin masalah baru lagi dengan import ASN dari luar Papua. Ini sangat berbahaya," ungkap Apeniel dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (24/2).
Menurut dia saat ini bahkan banyak sekali pegawai kontrak dari Orang Asli Papua yang siap diangkat sebagai ASN. Ketersediaan SDM menurut dia tidak ada masalah sejauh pemerintah memberi anak-anak Papua kesempatan.
"Tinggal niat dan kemauan pemerintah untuk berpihak pada mereka atau tidak. Di beberapa Kabupaten kami temukan ada banyak pegawai honor Orang Asli Papua yang nasibnya tidak jelas. Harusnya mereka diberi prioritas, bukan malah didatangkan dari luar," kata Apeniel.
Kader Partai Gerindra tersebut menegaskan tujuan adanya pemekaran adalah untuk memberdayakan Orang Asli Papua. Maka jika pemerintah membuat kebijakan sebaliknya maka sebenarnya tujuan DOB ini bukan memberdayakan tetapi malah menjajah.
Baca juga : Polresta Manado Gagalkan Peredaran 1.133 Butir Obat Thrihexyphenidyl
"Artinya kalau rencana ribuan ASN itu didrop ke Papua melalui mekanisme mutasi maka itu jelas bentuk penjajahan yang baru karena anak-anak Papua tersingkir di daerahnya sendiri. Ini sangat berbahaya," tukas Apeniel.
Dia berharap agar kebijakan ini dikaji ulang secara serius karena akibat isu perpindahan ribuan ASN ke DOB Papua ini timbul gejolak di masyarakat.
"Intinya masyarakat tolak. Bukan apa-apa, di Papua ini banyak SDM dari Orang Asli Papua yang siap. Jangan alasan karena kepangkatan, toh itu pemerintah bisa buat, tinggal diangkat untuk jabatan yang sesuai dengan kebutuhan," katanya.
Apeniel juga menduga kebijakan ini hanya jalan pintas supaya Kemendagri tidak direpotkan dengan seleksi ASN.
"Kami titip agar tarik kembali kebijakan ini karena pasti membuat gejolak baru. Papua dengan DOB itu punya tujuan pemberdayaan anak-anak Papua. Maka beri mereka kesempatan," pungkasnya.
Selama ini, sektor pertanian di Papua terbebani oleh ongkos pengiriman pupuk yang sangat mahal.
POLRES Mamberamo Raya menangani peristiwa kecelakaan lalu lintas sungai yang terjadi di Sungai Mamberamo dan mengakibatkan tiga orang warga dilaporkan hilang terbawa arus, Jumat (16/1).
Ia menilai tidak adanya kecocokan antara kebijakan pusat dan aspirasi lokal membuat masyarakat merasa diabaikan.
Kondisi ini dipicu oleh aktivitas Bibit Siklon Tropis 91W dan penguatan Monsun Asia yang meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di jalur Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Sepanjang tahun 2025, Kepolisian Daerah Papua mencatat 104 aksi kekerasan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dengan korban 94 orang meninggal dunia.
Papua merupakan tanah yang sarat dengan nilai-nilai kedamaian
Kemendagri sedang membuat desain besar otonomi daerah. Nantinya akan dilihat berapa formasi ideal suatu daerah.
Anies-Muhaimin menjanjikan pembentukan dua Daerah Otonom Baru (DOB) di Jawa Barat, yakni Bogor Barat dan Bogor Timur, bila memenangi Pilpres 2024.
Dikatakan Boy penempatan pegawai atau pejabat di lingkungan Provinsi DOB baru membuat warga asli Papua bingung dan bertanya-tanya
Tiga daerah otonomi baru (DOB) hasil pemekaran dari provinsi induk Papua tersebut ialah Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan.
Usai RUU Papua Barat Disahkan, dipastikan Perppu Pemilu segera dibuat guna bisa menjadi dasar pelaksanaan pemilihan di empat daerah otonom baru di Papua
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved