Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
REALISASI penerimaan pendapatan dari sektor pajak daerah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjelang akhir tahun sudah mencapai Rp235.007.239.979 atau 99,08% dari target Rp237.248.060.043. Rata-rata realisasi penerimaan di setiap sektor pajak melebihi target.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bappeda) Komarudin melalui Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan Ardian Athoillah, menyebut dari 11 jenis pajak daerah, mayoritas pencapaiannya di atas target. Ardian pun menyebut realisasi penerimaan beberapa jenis pajak daerah itu sebagai pecah rekor.
"Ada sembilan jenis sektor pajak daerah yang pecah rekor tahun ini," kata Ardian ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/12).
Sebelas jenis pajak daerah itu terdiri dari pajak hotel yang ditargetkan sebesar Rp10.107.163.200 realisasinya tercapai Rp11.619.003.524 (114,96%), pajak restoran yang ditargetkan Rp21.609.063.800 realisasinya tercapai Rp24.553.208.990 (113,62%), pajak hiburan yang ditargetkan sebesar Rp1.739.696.900 realisasinya tercapai Rp1.749.536.879 (100,57%), pajak reklame dari target Rp5.356.750.000 realisasinya tercapai Rp6.005.954.546 (112,12%), pajak penerangan jalan dari target Rp48.000.000.000 tercapai Rp48.834.549.975 (101,74%), pajak mineral bukan logam dan batuan dari target Rp823.262.900 tercapai Rp973.761.147 (118,28%), pajak parkir dari target Rp548.557.700 realisasinya tercapai Rp602.538.517 (109,84%), pajak air tanah dari target Rp12.521.672.400 terealisasi Rp13.193.127.772 (105,36%), pajak sarang burung walet dari target Rp12.360.000 tercapai Rp25.204.500 (203,92%), BHPTB dari target Rp73.850.740.925 terealisasi Rp62.599.837.008 (84,77%), dan PBB dari target sebesar Rp62.678.792.218 tercapai Rp64.920.517.371 (103,58%).
"Realisasi beberapa jenis pajak daerah tahun meningkat. Contoh pajak restoran, tahun lalu Rp14,7 miliar, tahun ini Rp24,5 miliar. Pajak hiburan juga pecah rekor, reklame juga pecah rekor. Pajak penerangan jalan, parkir, kemudian air tanah, pajak sarang burung walet, termasuk PBB," terang Ardian.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan penerimaan sektor pajak daerah. Misalnya pajak air tanah, kata Ardian, tahun ada ada formulasi penghitungan baru mengikuti Peraturan Gubernur Jawa Barat.
"Kita hitung ulang mengikuti panduan dari Pergub itu. Ternyata ada peningkatan cukup signifikan. Di kita (Cianjur) itu ada tiga perusahaan air minum dalam kemasan. Dari situ paling besar setelah kita formulasi ulang penghitungannya," jelas Ardian.
Untuk BPHTB, kata Ardian, dari segi penerimaan sebetulnya naik cukup signifikan. Namun karena tahun ini targetnya meningkat, maka dari sisi persentase masih di bawah 100%.
"Sebetulnya kalau tidak ada musibah bencana gempa, target realisasi penerimaan bisa mencapai kisaran Rp240 miliar. Capaian target juga tinggal sedikit lagi. Kita sudah berupaya maksimal. Kalau secara global, tingkat kesadaran masyarakat Cianjur menbayar pajak sudah relatif tinggi. Sudah bagus, terutama didorong juga berbagai upaya kami seperti optimalisasi perpajakan serta kebijakan-kebijakan yang tepat, kemudian digitalisasi perpajakan," pungkasnya. (OL-15)
Pendapatan normal Jawa Barat di angka Rp26,9 triliun.
Bapenda Cianjur perlu melakukan berbagai langkah strategis agar penerimaan pajak dan retribusi daerah bisa lebih optimal.
Bapenda Kabupaten Cianjur harus memperkuat strategi agar bisa berinovasi mendongkrak pendapatan daerah.
Bapenda melakukan berbagai koordinasi dengan OPD-OPD terkait yang cukup berpengaruh terhadap pencapaian pendapatan daerah
Kebijakan tersebut merupakan bentuk pelayanan pajak terhadap masyarakat dalam rangka memperingati Hari Jadi Cianjur (HJC) ke-348.
Digitalisasi bertujuan mempercepat dan mempermudah berkaitan dengan pajak atau retribusi daerah.
Berdasarkan hasil laboratorium dari Balai Veteriner Kementerian Pertanian di Kabupate Subang hasilnya negatif. Insya Allah aman dan negatif rabies
Penambahan alokasi didasari pertimbangan karena Kabupaten Cianjur yang merupakan salah satu daerah lumbung pangan di Jawa Barat.
Jumlah pelajar yang menjadi korban pada peristiwa itu mencapai 273 orang.
Sebelumnya, kasus dugaan keracunan dialami puluhan pelajar SD di Kecamatan Kadupandak pada Selasa (27/1)
Puluhan pelajar di salah satu sekolah itu mengalami mual, muntah, pusing, demam, hingga buang air besar. Melihat gejalanya seperti yang keracunan.
Pelaku mengincar harta benda milik korban yang merupakan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved