Kamis 17 November 2022, 15:55 WIB

Gaya Hidup Orangtua Salah Satu Penyebab Stunting di Palembang

Dwi Apriani | Nusantara
Gaya Hidup Orangtua Salah Satu Penyebab Stunting di Palembang

MI/Seno
Ilustrasi stunting

 

TIM Penanganan Percepatan Stunting (TPPS) Kota Palembang mendata adanya penambahan kasus stunting di wilayah tersebut. Tercatat sejak September hingga November, ada 21 kasus baru stunting.

"Hasil audit yang kami lakukan pada bulan November 2022 ini kasus anak stunting bertambah sebanyak 21 orang. Pada bulan Maret-Agustus 2022 juga terdapat temuan sebanyak 66 kasus," kata Sekretaris TPPS Kota Palembang Artur Febriyansah, Kamis (17/11).

Ia menjelaskan, salah satu penyebab kasus stunting pada anak yakni gaya hidup orangtua utamanya kebiasaan orangtua yang merokok. Selain itu juga karena pernikahan dini. Oleh karena itu pemerintah Kota Palembang menerbitkan peraturan daerah (Perda) kawasan anti merokok sehingga diharapkan dapat mengurangi jumlah perokok yang menjadi penyebab tingginya kasus anak stunting.

"TPPS dari Dinas Kesehatan Kota Palembang melalui Puskesmas juga melakukan inovasi dalam penanganan dan intervensi pencegahan," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang Fenty Aprina menjelaskan ada sejumlah intervensi dalam penanganan stunting untuk menekan kasus tersebut.

"Intervensi yang dilakukan TPPS Kota Palembang yaitu konseling gizi seimbang, pemberian tambahan makanan bergizi untuk bayi dan anak seperti pemberian biskuit dan susu," jelasnya.

Selain itu, memberikan bantuan makanan yang disalurkan melalui Puskesmas. TPPS dan Dinkes Palembang  juga terus melakukan pemantauan tumbuh kembang balita di setiap Posyandu.

Untuk menekan jumlah kasus stunting ini, Kantor Kementerian Agama Kota Palembang memberdayakan lebih dari 150 penyuluh agama untuk menyosialisasikan pencegahan dan penanganan stunting atau kekerdilan anak.

Baca juga: Diperlukan Inovasi Percepat Penurunan Stunting di Tanah Air

Kepala Kemenag Kota Palembang Abdul Rosyid mengatakan pemberdayaann ratusan penyuluh agama ini penting untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat guna menekan angka stunting terutama dalam mencegah usia pernikahan dini.

Sebab, usia pernikahan dini atau usia di bawah umur ini tentu sangat mempengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan, sehingga para penyuluh agama dalam sosialisasi ke masyarakat selalu menekankan agar menghindari perkawinan muda karena itu juga sudah diatur dalam Undang-Undang perkawinan.

"Dalam UU Perkawinan, pernikahan hanya diperbolehkan dalam usia 19 tahun baik itu perempuan maupun laki-laki," ujarnya.

Kemenag mendukung penuh program Pemerintah Kota Palembang dalam menekan angka stunting. Dia menjelaskan para penyuluh agama di lapangan akan lebih efektif menyosialisasikan program ini karena secara rutin bersentuhan langsung dengan masyarakat guna mengedukasi tentang pencegahan perkawinan dini.

"Sosialisasi masalah keagamaan akan lebih baik menyandingkan program stunting, dengan mencegah perkawinan dini yang menjadi salah satu penyebab stunting atau kekerdilan anak ini," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

DOK MI.

BNPB: Satu Warga Luka Ringan akibat Gempa Garut

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 20:04 WIB
Gempa itu dirasakan cukup kuat selama 4-5 detik di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten...
DOK MI

Pemkab Cianjur Terima Donasi Rp10,9 M Untuk Korban Gempa

👤Benny Bastiandy/Budi Kansil 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 20:01 WIB
HINGGA Sabtu (3/12) pukul 15.00 WIB, donasi dalam bentuk uang yang diterima Pemkab Cianjur, Jawa Barat untuk korban gempa telah mencapai...
dok.ist

Relawan #SayaKejar Bangun MCK untuk Penyintas Gempa Cianjur

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 19:51 WIB
TIM Relawan Sayap Kencana Ganjar (#SayaKejar) kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk penyintas Gempa Cianjur. Kali ini membangun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya