Rabu 20 Oktober 2021, 11:00 WIB

Diskon Bertabur dan Transparan Alasan Transaksi Digital Disukai di Banyumas

Lilik Darmawan | Nusantara
Diskon Bertabur dan Transparan Alasan Transaksi Digital Disukai di Banyumas

MI/Lilik Darmawan
Penggunaan pembayaran digital mulai marak di Banyumas, Selasa (19/10)

 

SUATU siang, remaja asal Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto
Timur, Banyumas, Jawa Tengah, Falayesa, 17, mengirimkan pesan WA kepada
orang tuanya. Isi pesannya meminta uang supaya dikirimkan ke salah satu
aplikasi pembayaran digital. Tak perlu waktu lama, uang secara digital
telah terkirim.

"Kalau membayar dengan aplikasi digital, biasanya banyak diskon.
Misalnya di kafe sana, diskonnya dengan aplikasi pembayaran digital A,
sementara untuk kafe di sini pakai B. Tergantung lah, yang penting sudah
siap dengan pembayaran digital. Lumayan kok diskonnya. Tidak hanya itu,
kalau naik ojek online juga lebih mudah membayarnya. Biasanya juga lebih
murah dibanding dengan tunai," jelas Falayesa kepada Media Indonesia, Selasa (19/10).

Sebagai generasi pascamilenial atau generasi Z, Falayesa memiliki gaya
hidup yang berbeda. Tidak banyak uang tunai yang ada di dompetnya.
Sebab, hampir seluruh transaksi mulai dari ke kafe, supermarket sampai
naik angkutan daring semuanya dengan menggunakan aplikasi.

"Semuanya kan  ada di sini, jadi akan lebih mudah," kata dia sambil menunjukkan telepon pintarnya.

Sementara mahasiswi S2 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Fitria, mengakui lebih memilih transaksi secara digital.  "Saya mengawali dari ATM. Jadi kalau belanja begitu lebih praktis menggunakan ATM. Kemudian jika transaksi lainnya dengan m-banking.  Sekarang, sudah memakai keuangan digital, karena lebih praktis," katanya.

Alasan lainnya, lanjut Fitria, adalah ada cashback yang ditawarkan.  Kalau dengan uang tunai, malah tidak ada. "Transaksi dengan aplikasi digital tidak hanya mudah, namun juga memiliki benefit. Saya memiliki beberapa aplikasi keuangan digital. Nah, kalau ke toko atau kafe, saya akan lihat, kira-kira cashback yang paling besar mana," ungkapnya.

Peluang ini ditangkap oleh pemilik kafe, usaha, warung makan, pasar, tempat wisata dan lainnya.  Bahkan, warung makan di pelosok pun juga memasang peralatan untuk  transaksi digital. Sebab, kalau tidak, nantinya akan kerepotan.

"Warung saya di Cilongok, jauh dari kota. Tetapi karena di sini sinyal bagus,
maka transaksi digital dapat dilayani. Tamu-tamu kami kebanyakan dari
kota, sehingga mau tidak mau, saya harus beradaptasi,�ujar Ainun, salah
seorang pemilik warung makan di Cilongok, Banyumas.

Ainun mengatakan keberhasilan warung makan, tidak hanya ditentukan oleh
rasa dan suasana semata, melainkan tidak merepotkan pengunjung.  "Tentu
saja, rasa menjadi hal utama dengan suasana warung yang nyaman. Ini
pasti akan dicari orang, meski berada di pelosok. Namun, yang tidak  kalah penting adalah memberikan pelayanan lengkap kepada para tamu,  salah satunya adalah menyediakan pembayaran non tunai. Tamu-tamu saya juga senang, bahkan agak heran juga sudah melayani transaksi digital," ungkapnya.

Baginya, layanan digital memang lebih praktis, tetapi juga memberikan keuntungan bagi pemilik warung. "Saya tidak lagi dipusingkan dengan
adanya uang palsu. Jadi, lebih aman dan saya tidak rugi," tandasnya.

Pemda Diwajibkan

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Wakhyono mengatakan bahwa wisata yang dikelola oleh Pemkab Banyumas sudah harus cashless, sehingga menggunakan transaksi digital.

"Kalau pemkab, sekarang hukumnya wajib. Sebab, hal ini untuk transparansi dan akuntabilitas. Dengan transaksi digital, dibuatlah sistem agar langsung masuk ke rekening keuangan umum daerah (RKUD). Jadi, kami tidak lagi memegang uang, semuanya langsung masuk kas daerah. Tidak ada lagi KKN," tegasnya.

Wakhyono juga mengatakan dengan adanya transaksi digital, bakal memudahkan masyarakat. “Masyarakat akan lebih mudah, apalagi saat ini transaksi digital semakin menjadi gaya hidup masyarakat, terutama milenial. Dan pada era pandemi seperti sekarang, dengan transaksi non tunai akan mengurangi risiko penularan," ungkapnya.

Bahkan, lanjutnya, hampir 90% dari 109 objek wisata yang ada di Banyumas sudah menggunakan cashless. "Yang penting ada sinyal, maka pengelola wisata dapat melayani transaksi digital. Tetapi pengelola juga masih melayani secara tunai. Ada dua metode pembayaran," katanya.

Kantor Bank Indonesia (BI) Purwokerto juga terus mendorong Banyumas go digital, salah satunya dengan memasyarakatkan transaksi pembayaran non tunai melalui implementasi Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS).

"QRIS resmi diluncurkan 17 Agustus 2019 dan efektif diimplementasikan secara nasional pada 1 Januari 2020. Dengan adanya QRIS ini, diharapkan akan memudahkan bagi masyarakat untuk bertransaksi," kata Kepala BI Purwokerto Samsun Hadi.

Hal ini sesuai dengan tagline QRIS, yakni Unggul. Kepanjangannya adalah
Universal karena dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, Gampang karena transaksi mudah dan aman, Untung karena satu QR untuk semua aplikasi serta Langsung sebab transaksinya cepat dan seketika.

Samsun mengatakan sebagai regulator di bidang sistem pembayaran, BI telah menavigasi sistem pembayaran melalui blue print sistem pembayaran 2025 (BSPI 2025), yang menjadi salah satu fondasi transformasi bagi bank sentral. Agar eksistensi dan kebijakannya selalu relevan dengan  perubahan lingkungan strategis sebagai dampak perkembangan digital ekonomi dan sistem pembayaran.
"Hingga 1 oktober 2021 total merchant QRIS wilayah Eks Karesidenan Banyumas tercatat 122 ribu menchant,." ujarnya.

Dengan adanya QRIS, maka ada standarisasi standarisasi berbagai macam QR code yang telah diterbitkan oleh beragam penyelenggara jasa sistem yaitu pembayaran menjadi satu jenis QR code. "Sehingga transaksi digital menggunakan lebih QRIS menjadi lebih cepat, aman dan mudah karena dapat diakses oleh berbagai macam platform pembayaran baik mobile banking dan dompet digital yang telah berkembang saat ini. BI menargetkan transaksi menggunakan QRIS 2%-3% dari total transaksi uang elektronik,"tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: 

Baca Juga

MI/Heri Susetyo.

SMPN 2 Tanggulangin Terendam Banjir, Siswa Belajar dalam Genangan

👤Heri Susetyo 🕔Kamis 09 Desember 2021, 16:44 WIB
Ada 10 ruangan yang tergenang air setinggi sekitar lima sentimeter atau semata...
ANTARA/Oky Lukmansyah

Penyidik Kejati Sulawesi Selatan Geledah Kantor PDAM Makassar

👤Lina Herlina 🕔Kamis 09 Desember 2021, 16:29 WIB
Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat, Kamis (9/12) menggeledah Kantor PDAM Kota Makassar hampir...
Antara/Dedhez Anggara.

Banjir Rob Berhenti Menerjang Pesisir Indramayu Hari Ini

👤Nurul Hidayah 🕔Kamis 09 Desember 2021, 15:45 WIB
Biasanya banjir pasang air laut menerjang rumah warga dari pagi dan berangsur-angsur surut menjelang sore dan malam...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya