Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH ibu terlihat berkumpul di sebuah ruang dengan ukuran sekitar 7 x 5 meter dari keseluruhan bangunan dengan luas sekitar 63 meter persegi. Di ruangan itu, terlihat wahana permainan anak berwarna cerah. Itulah bangunan Rumah Anak Sigap (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) yang bertransformasi menjadi Bina Keluarga Balita (BKB) Kartini. Lokasinya berada di Desa Sokawera, sebuah desa terakhir yang langsung berbatasan dengan hutan di lereng selatan Gunung Slamet di Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah.
Pembina BKB, Kartini Fenti Uliviana atau akrab disapa Bidan Uli, terlihat bersama sejumlah fasilitator tengah mempersiapkan pembelajaran. “Pekan ini masih belum masuk. BKB mulai ada aktivitasnya pekan depan,” ungkap Bidan Uli saat ditemui Media Indonesia pada Selasa (6/12).
Bidan Uli mengatakan saat ini BKB membina sekitar 96 ibu hamil dan yang memiliki anak balita. Program pembelajarannya adalah mengubah pola pikir ibu-ibu di kampung sehingga mengerti pola asuh anak-anaknya guna menghindari tengkes atau stunting.
“Tahun 2021 atau tepat pascapandemi, kasus stunting di Desa Sokawera tinggi, bahkan di Kabupaten Banyumas. Jumlah kasusnya cukup tinggi, ada 190 kasus stunting dari sekitar 600 balita. Artinya, prevalensinya mencapai 31%. Angka yang sangat tinggi,” jelas Bidan Uli.
Sebagai seorang bidan desa, dia kemudian terpanggil bersama para ibu-ibu untuk mencari cara bagaimana menurunkan angka tengkes di desa setempat. Gayung bersambut, pada tahun 2023, Tanoto Foundation membangun Rumah Anak Sigap yang berlokasi di desa setempat.
“Latar belakangnya adalah karena angka tengkes di desa setempat salah satu yang tertinggi, selain di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang. Namun, pada akhirnya Rumah Sigap dibangun di Desa Sokawera,” katanya.
Salah seorang fasilitator Rumah Sigap, Parsini, mengatakan pada awalnya dirinya merupakan guru TK. Kemudian karena ada program di Rumah Sigap, dirinya ikut serta di dalamnya.
“Ada sejumlah fasilitator yang direkrut Tanoto Foundation untuk diberikan bekal bagi pengelolaan Rumah Anak Sigap. Intinya adalah bagaimana kami bisa memberikan edukasi kepada para ibu, khususnya di Desa Sokawera, agar anaknya tidak mengalami stunting,” jelas Parsini.
Program Sigap digelar guna memastikan tumbuh kembang anak secara optimal sesuai tahapan usianya dan siap bersekolah.
“Saat kami diberikan bekal, ada tiga program pengembangan dan pendidikan anak usia dini yang terintegrasi. Yakni penurunan angka stunting, peningkatan kualitas pengasuhan anak usia dini, dan meningkatkan akses ke layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas,” jelasnya.
Tanoto Foundation dalam pernyataannya menjelaskan bahwa ketiga program Sigap selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya mengenai prevalensi stunting anak balita, pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai tahapan usianya, dan akses ke pendidikan prasekolah dasar.
Menurut Parsini, program Rumah Anak Sigap yang didanai Tanoto Foundation hanya berhenti. Tetapi, fasilitas dan programnya terus dijalankan oleh para pendekar perempuan dari Desa Sokawera tersebut.
“Rumah Anak Sigap berganti nama menjadi BKB Kartini. Karena memang program Rumah Anak Sigap terbatas. Tetapi, program baiknya kami lanjutkan secara mandiri, biar ada keberlanjutan,” katanya.
Dia menjelaskan saat sekarang, para ibu yang mengikuti edukasi di BKB Kartini secara sukarela mengeluarkan biaya Rp15 ribu setiap bulannya. “Biaya ini untuk operasional saja termasuk mengelola program. Keputusan itu juga melalui musyawarah mufakat atas sepengetahuan kepala desa dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” jelas Parsini.
Langkah pertama tak pernah mudah, begitu juga yang dialami oleh Bidan Uli dan para fasilitator. Tantangannya cukup kompleks, termasuk mitos-mitos yang telah dipegang selama puluhan tahun yang ternyata kerap tidak sesuai dengan ilmu kesehatan.
Bidan Uli mengatakan ada beberapa mitos itu di antaranya adalah para ibu habis melahirkan tidak boleh makan yang 'amis-amis' atau terjemahannya daging. Padahal, justru gizi berasal dari yang 'amis-amis' itu mulai ayam, daging sapi, dan ikan. Kemudian ada juga warga yang setiap menjelang magrib harus bakar-bakaran sabut kelapa serta setiap anak setelah lahir dikasih gelang putih dari benang.
“Memang ada hal-hal yang kemudian harus kami pahami dan secara pelan-pelan mengubah mitos tersebut. Mungkin saja, bakar-bakaran sabut kelapa yang dikatakan sebagai penolak bala sebetulnya bagian dari sterilisasi bagi yang datang. Karena panas, maka bisa mensterilkan tangan. Namun, karena sekarang sudah ada tempat cuci tangan, maka kebiasaan itu harus ditinggalkan. Begitu juga dengan gelang, barangkali maksudnya jika gelangnya sempit, maka ada pertumbuhan berat badan. Nah, sekarang kan sudah ada timbangan, jadi bisa ditinggalkan. Termasuk juga ibu yang habis melahirkan tidak boleh tidur siang. Mungkin saja pesannya, biasanya kalau siang ada tamu,” paparnya.
Dikatakan oleh Bidan Uli, untuk menghapus mitos-mitos itu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. “Biasanya, ibu muda langsung dapat menerima, namun yang sulit biasanya nenek dan kakeknya. Karena itu, butuh pendekatan dan memberikan pengertian,” ujar dia.
Parsini sebagai fasilitator kerap juga menerima pertanyaan-pertanyaan terkait dengan apa yang disampaikan oleh para ibu-ibu di Desa Sokawera. “Di sinilah tempatnya kami memberikan berbagai macam kegiatan stimulasi di sini. Kami memulai dari ibu hamil yang diedukasi. Ada beberapa kelas yang kami gelar. Yakni kelas ibu hamil, dimulai 0–6 bulan, kemudian 6–12 bulan, 12–24 bulan, 24–36 bulan, dan 36–48 bulan. Jadi edukasinya mulai dari ibu-ibu hamil sampai pada tumbuh kembang anak hingga usia balita,” ungkap Parsini.
Para kader bersama bidan memberikan pemahaman mengenai pola asuh. Sebab, faktor utama tengkes di desa setempat terjadi akibat pola asuh dengan pemberian makan yang tidak tepat. Sehingga anak-anaknya akhirnya mengalami stunting.
“Ini soal pemberian makanan. Karena sekarang banyak sekali makanan instan, maka ibunya memberikan itu. Salah satu akibat yang terjadi adalah stunting,” katanya.
Fasilitator lainnya, Surati, di BKB para ibu diberikan pengetahuan supaya anaknya tidak mengalami stunting. Sedangkan untuk ibu-ibu yang anaknya stunting, maka ada intervensi khusus, termasuk dari Puskesmas.
“Misalnya dengan adanya program makan tambahan (PMT). Kami secara khusus setiap akhir bulan ada kunjungan ke rumah-rumah yang memiliki balita. Upaya ini tidak lain adalah bagaimana mengedukasi para ibu agar anaknya bisa tumbuh kembang dengan baik,” ujar Surati.
Setelah adanya Rumah Anak Sigap yang bertransformasi menjadi BKB Kartini, angka stunting di Desa Sokawera mengalami penurunan. Jika tahun 2021 prevalensi stunting tercatat masih 31% atau 190 balita dari 600-an balita, pada 2025 tercatat 93 dari 500 balita atau prevalensinya sekitar 18%. Meski cukup signifikan turun hingga 13%, tetapi para ibu tersebut tetap berikhtiar semakin menurunkan lagi. Karena targetnya adalah di bawah 14%.
“Kami masih punya PR besar, menurunkan angka stunting hingga di bawah 14%. Tidak mudah, namun terus kami ikhtiarkan,” tambahnya.
Transformasi dari Rumah Anak Sigap ke BKB Kartini juga tidak lepas dari peran alumnus SDG Academy Indonesia angkatan ke-3, Imanudin. Ia yang mendorong agar transformasi dari Rumah Anak Sigap ke BKB.
“Kalau ke PAUD, maka sumber daya masih terbatas. Karena ini harus dilanjutkan, saya mendorong menjadi BKB saja. Intinya sama, bagaimana BKB menjadi pusat edukasi yang muaranya mengedukasi para ibu untuk menciptakan pola asuh dan lingkungan yang optimal bagi tumbuh kembang anak,” jelas Imanudin yang menjadi The Most Agile Leaders tahun 2022 lalu.
Menurut Imanudin yang kini menjadi pendamping desa Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, dia terus berkeliling untuk mendorong desa-desa mencapai tujuan SDGs atau pembangunan berkelanjutan.
“Saya menjadi pendamping desa harus memberikan edukasi dan pendampingan yang mengacu pada pencapaian SDGs. Jadi ilmu yang saya dapatkan ke SDG Academy Indonesia saya praktikan langsung ke desa-desa. Contohnya adalah mendampingi teman-teman Rumah Sigap yang kini telah bertransformasi menjadi BKB tersebut. Itu kan tujuannya menyangkut salah satu item SDGs yakni menghilangkan kelaparan dengan menurunkan angka stunting. Selain itu juga menekan angka kemiskinan,” jelas dia.
Diakui bahwa angka stunting di Banyumas masih cukup tinggi. Karena berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Banyumas tercatat sebesar 19,6%, lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang berada di angka 17,1%. Meski angka stunting turun jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang tercatat 21,6%.
“Namun angka tersebut masih tinggi, sehingga butuh intervensi yang serius. Intervensi dapat dilakukan dengan sensitif dan spesifik. Intervensi spesifik dapat dilakukan ketika anak sudah stunting. Nah, sebetulnya intervensi sensitif ini yang perlu lebih diperkuat, karena sebagai bentuk pencegahan. Yang utama adalah bagaimana membangun lingkungan yang optimal bagi tumbuh kembang anak,” tandasnya.
Pada bagian lain, untuk mencapai target SDGs, Pemkab Banyumas memperpanjang kerja sama dengan Tanoto Foundation, khususnya dalam upaya penanganan stunting. Kerja sama resmi diperpanjang hingga tahun 2028. Ada tiga fokus garapan, yakni peningkatan kapasitas SDM, efektivitas dan efisiensi anggaran serta penguatan pengelolaan data.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan bahwa penanganan stunting membutuhkan partisipasi lintas sektor. “Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga nonpemerintah, sangat penting. Stunting bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga tanggung jawab sosial dalam menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas,” jelasnya.
Bupati juga menekankan Genting yakni Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, sebuah gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, dan individu untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak berisiko stunting.
“Mulai dari edukasi, bantuan nutrisi, akses air bersih, hingga pendampingan psikososial. Ini bukan sekadar memberi, tapi wujud kepedulian aktif dalam membentuk generasi unggul,” tandasnya. (LD/E-4)
Tidak banyak kepala desa yang mau melanjutkan program setelah masa pendampingan berakhir. Namun kondisi itu tidak berlaku bagi Saeful Muslimin, Kepala Desa Tuwel, Tegal, Jateng.
Di SDN 015 Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pembelajaran numerasi tidak selalu dimulai dari buku dan papan tulis.
Di sebuah rumah sederhana di Kota Jambi, 7 Mei 1980, Zulva Fadhil tumbuh sebagai anak perempuan yang gemar membaca.
Program tersebut nantinya jika memang memberikan dampak yang nyata akan dibuatkan sebagai program nasional oleh pemerintah.
Ruang sederhana di SDN 015 Marang kayu, yang dulu penuh debu dan dinding retak, kini telah bertransformasi menjadi perpustakaan ramah anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved