Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dari Lokus Stunting, Desa Tuwel Berhasil Jadi Harapan Anak Usia Dini

Media Indonesia
24/12/2025 15:47
Dari Lokus Stunting, Desa Tuwel Berhasil Jadi Harapan Anak Usia Dini
Kepala Desa Tuwel, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Saeful Muslimin.(Dok Tanoto Foundation)

TIDAK banyak kepala desa yang mau melanjutkan program setelah masa pendampingan berakhir. Namun kondisi itu tidak berlaku bagi Saeful Muslimin, Kepala Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ia justru memilih mengambil langkah yang berbeda dengan memastikan Rumah Anak SIGAP tetap berjalan dan didukung penuh oleh Dana Desa.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Saeful tampak antusias menjelaskan bagaimana Rumah Anak SIGAP memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting. Ia mengaku tidak ingin menghentikan ruang belajar tersebut meskipun pendampingan dari Tanoto Foundation resmi selesai pada akhir 2024.

“Kalau sudah terbukti membawa manfaat, kenapa harus dihentikan. Ini menyangkut masa depan anak-anak kami,” ujar Saeful.

Komitmen itu bukan tanpa alasan. Pada 2021, Desa Tuwel menyandang status sebagai lokus stunting karena prevalensinya mencapai 28 persen.

Berkat Rumah Anak SIGAP, angka tersebut perlahan turun hingga berada pada angka 13,3 persen pada September 2025. Penurunan ini membuat Desa Tuwel berada di bawah rata-rata nasional.

Dari total 673 balita, terdapat 90 anak yang tercatat stunting pada September 2025. Angka ini menurun dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 91 anak.

“Dari 13,5 persen turun ke 13,3 persen. Sebelum ada Tanoto Foundation tinggi sekali, sampai 28 persen. Makanya Tuwel dulu menjadi lokus stunting. Sekarang alhamdulillah sudah jauh lebih baik,” jelasnya.

Melalui musyawarah desa, Saeful mengalokasikan dana sebesar Rp108 juta dari Dana Desa 2025 untuk memperkuat sektor kesehatan.

Anggaran tersebut digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan seperti operasional Rumah Anak SIGAP, penyediaan PMT, kegiatan Bina Keluarga Balita, serta Kafetaria Sehat atau Kafeta.

Kafeta merupakan layanan bagi balita gizi kurang yang membutuhkan tambahan nutrisi harian, dan fasilitas ini sudah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi.

“Anak-anak kategori gizi kurang kita beri makanan sehat setiap hari. Kita cek apakah dimakan atau tidak. Kalau tidak dimakan, kita cari penyebabnya dan melakukan konseling kepada orang tua,” tutur Saeful.

Ia menjelaskan bahwa program ini berfokus pada balita di bawah usia dua tahun yang masuk kategori berisiko stunting. Saat ini terdapat 26 balita yang menjadi penerima manfaat Kafeta dan semuanya dipantau bersama Puskesmas Bojong.

“Kami prioritaskan anak dengan gizi kurang karena itu sangat mungkin berkembang menjadi stunting. Tujuannya pemulihan,” tambahnya.

Rumah Anak SIGAP saat ini diikuti oleh 51 anak yang terbagi ke dalam lima kelas. Setiap anak mendapat stimulasi sesuai tahap usianya mulai dari bahasa, motorik halus, motorik kasar, hingga kemampuan kognitif. Orang tua juga menerima edukasi mengenai pola asuh dan gizi yang tepat.

Dok Tanoto Foundation - Kepala Desa Tuwel, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Saeful Muslimin bersama fasilitator Rumah Anak SIGAP.

“Anak-anak yang ikut Rumah Anak SIGAP perkembangannya terlihat. Banyak yang dulu pemalu atau sering menangis saat datang, sekarang sudah berani beraktivitas dan bicara dengan lancar,” jelasnya.

Kegiatan kuliah umum untuk orang tua yang digelar setiap tiga bulan juga selalu ramai. Narasumber dari berbagai dinas hadir untuk memberikan materi tentang gizi, kesehatan, dan pengasuhan anak.

“Saya senang melihat kemajuan anak-anak. Yang dulu hanya digendong, kini banyak yang sudah mandiri. Orang tua juga semakin terbuka setelah ikut kuliah umum,” ujarnya.

Saeful juga bercerita tentang salah satu anak yang lahir prematur dan mengalami kenaikan berat badan yang lambat. Setelah dianjurkan menjalani tes Mantoux, diketahui anak tersebut positif TBC.

Setelah menjalani pengobatan selama enam bulan dan mengikuti kegiatan di Rumah Anak SIGAP, berat badannya mulai meningkat. Sumber penularan ternyata berasal dari nenek yang tinggal serumah.

Ada juga kisah keluarga yang awalnya menolak kunjungan kader. Namun setelah melihat perkembangan anak mereka, keluarga tersebut kini justru menunggu kunjungan para kader dan rutin melakukan konsultasi.

“Yang dulu menolak sekarang sangat menerima. Mereka mau ke puskesmas, ikut kegiatan, dan anaknya yang dulu gizi buruk kini sudah sehat,” ungkapnya.

Di usianya yang ke 61 tahun, Saeful telah menjabat tiga periode. Motivasinya memimpin desa sejak pertama kali terpilih pada 1998 bukanlah materi, tetapi pengabdian. Dua periode awal bahkan ia jalani tanpa menerima bayaran apa pun.

“Yang terpenting bagi saya adalah pelayanan kepada masyarakat. Itu yang saya pegang sejak awal,” kenangnya.

Perhatian Saeful terhadap kesehatan bukan berarti mengabaikan sektor lain. Ia tetap menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan pemberdayaan masyarakat. Namun baginya, kesehatan, terutama penurunan stunting, harus berada pada prioritas utama karena berkaitan langsung dengan masa depan desa.

“Tidak semua kepala desa peduli pada stunting. Bagi saya ini program pemerintah dan masa depan anak-anak. Kita harus menjaga itu,” tegasnya. (RO/Z-10)

Artikel ini adalah salah satu dari 25 artikel dalam rangkaian cerita penerima manfaat Tanoto Foundation. Sepanjang Desember 2025, kami menghadirkan sosok-sosok inspiratif yang membawa dampak bagi sesama lewat karya, ketekunan, dan perjalanan mereka. Nantikan setiap kisahnya



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya