Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Di sebuah rumah sederhana di Kota Jambi, 7 Mei 1980, Zulva Fadhil tumbuh sebagai anak perempuan yang gemar membaca. Majalah Bobo, tabloid anak-anak, hingga kumpulan majalah lama yang ia koleksi hingga sekarang, menjadi pintu kecil tempat ia menjelajahi dunia. Hobi membacanya bukan sekadar kegemaran; itu adalah cara ia “nyambung” dengan sang ayah, sahabat diskusinya sejak kecil.
Kini, jelang usia 50 tahun, Zulva memegang dua amanah besar di Kabupaten Batang Hari, Jambi: Bunda PAUD dan Bunda Literasi. Dua peran yang menurutnya bukan sekadar gelar, tetapi jalan hidup untuk “memanusiakan manusia”.
Akar yang Dibentuk dari Perjalanan Panjang
Zulva menamatkan pendidikan di Universitas Jambi, Fakultas Ekonomi. Zulva memulai karier dari kasir supermarket dengan gaji terendah walaupun milik orang tuanya.
“Orang tua saya ingin mendidik anaknya menapaki tangga karier dari paling bawah” tuturnya.
Pengalaman itu justru membuka banyak pintu: ia belajar literasi numerasi secara praktis, belajar memimpin, dan menjadi manajer dari karyawan yang sebagian besar laki-laki. Dari sinilah ia belajar empati, komunikasi, dan ketegasan yang kelak menjadi fondasi kepemimpinannya.
Ketika mengikuti suami tinggal di desa yang menjabat sebagai camat, Zulva bersentuhan langsung dengan masyarakat, memahami denyut desa, dan membangun kemampuan membawa diri sebagai role model perempuan di ruang publik.
“Di tengah masyarakat desa saya banyak belajar memanusiakan manusia,” ujarnya.
Pandangan tentang PAUD: “Menanam Buah yang Kelak Kita Petik”
Bagi Zulva, pendidikan anak usia dini adalah investasi paling panjang sekaligus paling penting. Pemerintah pusat, menurutnya, kini memberi perhatian besar terhadap PAUD, dan itu harus disambut serius di daerah.
“Kalau kita ingin memetik buah yang baik, maka bibitnya harus dirawat sejak dini,” tegasnya.
Ia berharap generasi masa depan Indonesia menjadi anak-anak super Tangguh, mampu beradaptasi, memiliki akhlak baik, kreatif, sekaligus inovatif. Semua itu bermula dari tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak.
Sebagai Bunda PAUD Kabupaten Batang Hari, Zulva bersama sang suami memilih bergerak langsung, bukan sekadar wacana. Ia turun ke lapangan, mengadvokasi para guru, mendatangi desa-desa, hingga memimpin gerakan bersama berbagai pemangku kepentingan. Target utamanya adalah peningkatan kualitas guru PAUD.
Pada 2025, Batang Hari menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Jambi yang memberikan kesempatan program beasiswa untuk para guru PAUD. Zulva menyebut program ini sebagai “amal jariyah pendidikan” yang manfaatnya akan dirasakan anak-anak sepanjang hayat.
Isu pentingnya peran ayah juga menjadi fokus perhatiannya. Terinspirasi dari pengalaman masa kecil dan kondisi “fatherless” yang sering ditemui di masyarakat, Zulva menginisiasi aturan agar ayah turut hadir ketika anak mengambil rapor, menghadiri posyandu, hingga sesi parenting singkat.
“Anak adalah tanggung jawab bersama. Ayah harus hadir,” tegasnya.
Kolaborasi dengan Tanoto Foundation
Zulfa juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk isu pendidikan anak usia dini, salah satunya adalah Tanoto Foundation. Ia masih menyimpan memori bertahun-tahun lalu ketika pertama kali melihat program-program Tanoto Foundation hadir nyata di lapangan.
Baginya, Tanoto Foundation memberikan dua manfaat seperti penguatan kapasitas sebagai Bunda PAUD dan Bunda Literasi. Melalui pelatihan, pendampingan, dan berbagai kegiatan literasi-numerasi, Zulva merasa mendapat banyak perspektif baru tentang pengasuhan, pembelajaran, dan manajemen komunitas PAUD.
Selain itu juga menjadi jembatan kolaborasi yang menggerakkan seluruh ekosistem. Program-program yang diinisiasi Tanoto Foundation mendorong kolaborasi lintas sektor, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, hingga orang tua sehingga gerakan literasi dan PAUD tidak berdiri sendiri.
“Harapan saya, kolaborasi ini bukan momentum sesaat, tetapi terus melibatkan semua unsur masyarakat,” katanya.
Gerakan Kreatif: Mendekatkan Kebijakan dengan Dunia Anak
Salah satu inovasi Zulva yang mendapat sorotan publik adalah cara kreatifnya mensosialisasikan Program 13 Tahun Wajib Belajar. Ia mengemasnya melalui banyak pendekatan, diantaranya mendongeng, bermain peran, lagu edukatif, pojok baca bergerak, dan aktivitas menarik lainnya.
Pendekatan ini membuat anak antusias, sementara orang tua dan guru mendapatkan pemahaman yang lebih jernih tentang pentingnya PAUD. “Bahasa kepada anak itu harus sederhana dan berbasis pengalaman langsung,” katanya.
Dukungan para guru, pegiat literasi, dan berbagai komunitas pendidikan membuat program ini semakin berkembang.
Zulva mengutip kalimat bijak dari Tan Malaka: Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.
Bagi Zulfa, pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab semua. Ia ingin melihat anak-anak Batang Hari dan Indonesia tumbuh sebagai generasi yang adaptif, berakhlak baik, kreatif, inovatif, dan tangguh.
SEJUMLAH ibu terlihat berkumpul di sebuah ruang dengan ukuran sekitar 7 x 5 meter dari keseluruhan bangunan dengan luas sekitar 63 meter persegi.
Tidak banyak kepala desa yang mau melanjutkan program setelah masa pendampingan berakhir. Namun kondisi itu tidak berlaku bagi Saeful Muslimin, Kepala Desa Tuwel, Tegal, Jateng.
Di SDN 015 Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pembelajaran numerasi tidak selalu dimulai dari buku dan papan tulis.
Program tersebut nantinya jika memang memberikan dampak yang nyata akan dibuatkan sebagai program nasional oleh pemerintah.
Ruang sederhana di SDN 015 Marang kayu, yang dulu penuh debu dan dinding retak, kini telah bertransformasi menjadi perpustakaan ramah anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved