Selasa 27 Oktober 2020, 23:00 WIB

Pariwisata Bergairah Lagi, Dorong Ekonomi Banyuwangi

Usman Afandi | Nusantara
Pariwisata Bergairah Lagi, Dorong Ekonomi Banyuwangi

MI/Usman Afandi
Pulau Merah, salah satu potensi pariwisata di Banyuwangi, Jawa Timur.

 

KABUPATEN Banyuwangi, Jawa Timur bertumbuh dengan cepat selama sepuluh tahun terakhir. Dari jumlah penduduk sampai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat peningkatan signifikan. Dengan angka pertumbuhan ekonomi yang lebih dari 5,8 persen, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi meningkat dari Rp32,46 triliun pada 2010 menjadi Rp55,9 triliun pada 2019.

Namun, adanya pandemi Covid-19 mengancam semuanya, apalagi terkait investasi dan pariwisata. "Pandemi Covid-19 berdampak kepada semua sektor, terutama sektor Pariwisata," kata Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyuwangi, Zaenal Muttaqin akhir pekan lalu saat ditemui Media Indonesia.

Tingkat hunian kamar (TPK) Banyuwangi telah sangat menurun sejak awal pandemi Covid-19. Pada Juni 2020, hanya 28,66 persen, Itupun sudah naik dari bulan sebelumnya, dimana TPK sebelumnya 12,36 persen. Secara umum, sebelum pandemi tercatat aktivitas kunjungan wisatawan ke Banyuwangi meningkat drastis dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada 2015 sekitar 1.773.527 orang mengunjungi Banyuwangi, termasuk 450.569 dari luar negeri. Sembilan tahun kemudian pada 2019, jumlah wisatawan sudah naik signifikan.

Lebih dari 5,4 juta wisatawan sempat datangi Banyuwangi, termasuk 100 ribu wisatawan mancanegara. Salah satu pendorong peningkatan tersebut adalah Banyuwangi Festival (B-Fest) yang menurut Disbudpar sangat berkontribusi pada ketertarikan orang untuk mengunjungi Banyuwangi.

Seiring meningkatnya aktivitas kunjungan wisatawan, jumlah sektor ekonomi kreatif pun mengalami pertumbuhan. Hingga 2019, BPS mencatat ada 296 ribu UMKM. Selain itu jumlah hotel berbintang, restoran hingga homestay juga mengalami pertumbuhan karena dampak dari sektor pariwisata.

"Banyuwangi banyak diminati investor, karena memiliki sumber daya alam melimpah, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, hingga sektor ekonomi kreatif," kata Tri Anggraini, Kabid Perencanaan dan Pengendalian Penanaman Modal, Dinas Penanaman Modal Banyuwangi.

"Jadi pemerintah memberikan kemudahan perizinan (serta) kenyamanan investasi. Sebelum sektor pariwisata ditetapkan sebagai sektor unggulan, minat investasi di Banyuwangi sangat rendah," ungkap Tri.

Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi memprioritaskan sektor pertanian, karena penyumbang PDRB terbesar memang dari sektor ini. Lalu beralih ke sektor pariwisata.

"Kita mengurai satu persatu dari permasalahan sebelumnya, setelah di inventarisasi, muncullah prioritas-prioritas unggulan. Kita mencoba di sektor pertanian, ternyata tidak berhasil. Akhirnya munculah sektor pariwisata, dan ternyata berhasil dari sinilah sektor pariwisata menggerakan sektor lainya," tambahnya.

Investor Dalam Negeri

Pada 2019, Kabupaten Banyuwangi telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai prioritas pengembangan wilayah Provinsi Jawa Timur. Hal itu berimbas terhadap nilai pertumbuhan investasi di Banyuwangi, sehingga tak heran jika Banyuwangi menempati peringkat ke-9 sebagai daerah tujuan investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terbesar di Indonesia.

Dari enam investor dengan nilai investasi Rp1.76 Miliar pada 2010, telah berkembang menjadi 18 investor dengan nilai investasi Rp310 M pada 2015. "Di Banyuwangi paling banyak investasinya itu PMDN," kata Tri.

Sampai 20 Oktober 2020, jumlah PMA Banyuwangi telah mencapai Rp79 mliar sementara PMDN sebesar  Rp477 miliar. Meskipun di tengah pandemi mengalami penurunan investasi, besaran investasi tersebut sudah 60 persen dari target yang telah ditetapkan oleh pemerintah Banyuwangi.

"Meskipun di masa pandemi, kita juga berupaya untuk menarik investasi. Tapi pengusaha masih wait and see, istilahnya menunggu karena memang pandemi ini berdampak pada semua sektor,"  ujarnya

Optimistis Ekonomi Cepat Pulih

Di Banyuwangi sendiri dampak Covid-19 berimbas terhadap sektor pariwisata, mengingat angka kasus Covid-19 yang terus mengalami kenaikan. Hingga Senin,19 Oktober 2020, Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 1.635 orang, dengan pasien dalam perawatan masih 181 orang dan pasien meninggal sebanyak 134 orang.

Namun, banyak kalangan pengusaha tetap optimistis bahwa ekonomi akan cepat kembali pulih.  Ketua PHRI Banyuwangi, Zaenal Muttaqin, mengatakan telah ada penerapan new normal sektor pariwisata serta jaminan sehat bagi wisatawan saat berkunjung. Pihaknya mengaku optimistis bahwa upaya itu akan mempercepat  pemulihan ekonomi Banyuwangi, termasuk kunjungan wisatawan.

"Awal pandemi memang terasa imbasnya, sekarang  sudah lumayan. Okupansi hotel juga sudah mulai membaik. Kalau dibandingkan dengan daerah lain, kita (Banyuwangi) masih aman," ujar dia.

Lantaran itu, dirinya optimis dengan pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah saat ini. Pihaknya berharap pembangunan benar-benar harus merata, tidak hanya berpusat di satu titik saja, karena Banyuwangi masih punya kekayaan lainnya yang belum tergarap.

"Banyuwangi perkembangnya memang baik, tapi masih berpusat di kota. Beberapa wilayah selatan masih banyak yang belum tercover. Padahal wilayah selatan potensinya juga sangat besar untuk dikembangkan," ujar Zaenal.

Tercatat ada 100 pemilik usaha, baik hotel maupun pengusaha restoran yang terhimpun dalam PHRI. Mereka tersebar di 25 kecamatan di Banyuwangi. Dia menceritakan, saat ada investasi yang  masuk di Banyuwangi seperti hotel maupun restoran, pihak pemerintah Banyuwangi memberikan pemberitahuan kepada pihak-pihak yang terlibat.

Baik itu pelaku seni, budayawan, pokdarwis, hingga kelompok-kelompok lainya untuk terlibat terhadap investasi tersebut. Sehingga kebijakan investasi tidak hanya dari pemerintah saja, namun semua pihak ikut terlibat memberikan masukan baik muatan kearifan lokal maupun hal-hal lainya yang dirasa penting untuk diperbaiki.

"Ini semua tergantung Bupati, SKPD kita mengapresiasi perkembangan Banyuwangi, dan mereka juga harus menerima saran kritik karena semua ini dalam rangka membangun untuk koreksi yang positif," katanya.

Besarnya nilai investasi yang masuk di Banyuwangi, berdampak positif terhadap pendapatan masyarakat, terutama mereka yang berada di pusat perkotaan yang dekat dengan wilayah objek Investasi.

Seperti halnya Nur Prasetyo, warga asal kelurahan Kebalenan, Banyuwangi. Seiring dengan perkembangan sektor pariwisata ia memanfaatkan rumahnya untuk berjualan makanan. Menu nasi tempong, nasi goreng, nasi pecel, ayam, dan aneka minuman ada di warung miliknya.

Dengan lokasi yang cukup strategis dekat dengan kantor pemerintah, kampus, dan hotel berbintang, membuat dirinya merasa optimistis usaha yang dirikan akan semakin tumbuh pesat. Dia, bahkan berencana untuk membuka cabang di beberapa lokasi yang dekat dengan kawasan industri.

"Dengan adanya investasi yang besar di Banyuwangi, daya beli masyarakat juga semakin tinggi," kata Nur saat di temui Media Indonesia di kedainya Rabu, (21/10) malam.

Perkembangan di Banyuwangi, diakui Nur, juga membuat harga-harga semakin melambung, seperti harga properti maupun harga kebutuhan lainya. "Upah minimum kabupaten (UMK) Banyuwangi memang naik Rp2,3 juta, tapi kalau harga kebutuhan saat ini naik, kan (akhirnya) sama saja," ucapnya dia.

Terlepas dari hal itu, dia tetap bersyukur. Sebab investasi di Banyuwangi membuat dirinya mampu menangkap peluang yang ada. Apalagi pemerintah sendiri juga sigap dalam membantu masyarakat yang saat ini terdampak Covid-19.

"Di Banyuwangi, aturan Covid-19 nya lunak, membuat ekonomi masyarakat terjaga, meskipun terjadi penurunan omzet," ungkapnya. (OL-13)

Baca Juga: Aturan Tarif Energi Terbarukan akan Diterbitkan

Baca Juga

MI/Gabriel Langga

Pertamina Maumere Pastikan Suplai BBM Aman Jelang Nataru

👤Gabriel Langga 🕔Jumat 04 Desember 2020, 06:54 WIB
Stok BBM di terminal BBM Maumere akan disalurkan ke wilayah Nusa Tenggara Timur II yang meliputi Larantuka, Kalabahi, Atapupu, Waingapu,...
MI/Djoko Sardjono

Pilkada, Polres Klaten Terjunkan 638 Personel Pengamanan TPS

👤Djoko Sardjono 🕔Jumat 04 Desember 2020, 06:41 WIB
Sebanyak 638 personel Polres Klaten, Jawa Tengah, akan diterjunkan untuk pengamanan tempat pemungutan suara (TPS) pemilihan bupati dan...
MI/Hijrah Ibrahim

835 Personel Polisi Amankan Pilkada Maluku Utara

👤Hijrah Ibrahim 🕔Jumat 04 Desember 2020, 06:13 WIB
Sebanyak 835 personel Kepolisian Daerah Maluku Utara diperbantukan ke 8 kabupaten Kota diprovinsi Maluku Utara untuk pengamanan TPS....

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya