Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Harga Tomat di Palu Melejit

Antara
22/1/2019 13:38
Harga Tomat di Palu Melejit
(ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

HARGA buah tomat di sejumlah pasar di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), dalam beberapa hari terakhir ini mengalami lonjakan tajam karena pasokan dari produsen berkurang. Tomat yang normalnya dijual Rp5.000 per kg, kini naik hingga mencapai Rp12 ribu per kg.

Menurut para pedagang kenaikan harga dikarena pasokan kurang dan juga harga di tingkat petani naik. Kebanyakan tomat yang dijual di pasar-pasar tradisional di Palu didatangkan pedagang dari Dataran Napu, Kabupaten Poso.

Hasil panen petani di Dataran Napu selain dijual di Palu, juga dikirim keluar daerah seperti Manado, Gorontalo, dan Kalimantan. Di Sulteng, kata Nunung, seorang pedagang, ada dua daerah penghasil sayur-mayur yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi.

Baca juga: BPBD Palu Buat Microzonasi sebagai Mitigasi Bencana

Hanya saja, kata dia, petani di Sigi selama tiga bulan pascagempabumi 7,4 SR yang terjadi pada 28 September 2018 tidak mengolah lahan karena selain mengalami likuifaksi, juga kesulitan air akibat irigasi rusak total diterjang gempa.

"Ini yang mengakibatkan harga tomat di pasaran bergerak naik cukup tajam," kata Nunung. Meski pasokan berkurang, tetapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di ibu kota Sulteng itu.

Hal senada juga disampaikan Lisnawati, pedagang tomat di kawasan itu. Ia juga mengaku kenaikan harga tomat sudah berlangsung lebih sepekan ini. Kenaikan itu dipicu pasokan yang berkurang dan permintaan yang  meningkat, di samping harga di tingkat petani juga naik.

Harga tomat pada saat penen raya biasnya hanya berkisar Rp1.000 per kg. Sulastri, seorang petani di Sigi mengatakan petani di sejumlah desa di daerah itu seperti di Sidera, Oloboju, dan Jono Oge, baru mulai kembali menggarap lahan pertanian setelah tiga bulan pascagempa diterlantarkan.

Sekarang ini, kata dia, petani sudah mulai membajak lahan pertanian untuk ditanami komoditas jangka pendek yang tidak membutuhkan banyak air. "Kalau menanam padi, tidak mungkin, sebab irigasi rusak total dan hingga kini belum juga diperbaiki oleh pemerintah," kata dia.

Agar lahan pertanian bisa menghasilkan, maka petani memilih menanam produk pertanian jangka pendek seperti cabai, tomat, bawang dan sayuran lainnya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya