Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Imlek Momentum Refleksi, Kebersamaan, dan Penguat Harmoni di Jakarta

Naufal Zuhdi
17/2/2026 11:03
Imlek Momentum Refleksi, Kebersamaan, dan Penguat Harmoni di Jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI Bun Joi Phiau.(Dok Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta )

PERAYAAN Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Tionghoa bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender lunar. Imlek juga menjadi momentum refleksi, penguatan ikatan keluarga, serta peneguhan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Di tengah masyarakat urban yang beragam seperti Jakarta, Imlek hadir sebagai simbol kebersamaan lintas budaya dan agama.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menilai Imlek memiliki makna universal yang relevan bagi seluruh warga ibu kota, bukan hanya komunitas Tionghoa.

“Imlek adalah momentum untuk memperkuat semangat persatuan dan gotong royong di tengah dinamika kota besar,” ujar Bun Joi Phiau dalam keterangannya di Jakarta.

Tradisi Kuno Sarat Makna

Imlek berakar pada tradisi masyarakat Tiongkok kuno yang telah berlangsung ribuan tahun. Dalam kalender lunar, perayaan ini jatuh pada bulan baru pertama antara akhir Januari hingga pertengahan Februari dan dikenal pula sebagai Festival Musim Semi.

Di Indonesia, tradisi Imlek telah hadir sejak kedatangan komunitas Tionghoa ratusan tahun lalu. Perayaan ini sempat dibatasi pada masa Orde Baru, sebelum akhirnya kembali dirayakan secara terbuka pada era Reformasi. Sejak 2003, pemerintah menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, menandai pengakuan resmi terhadap keberagaman budaya Nusantara.

Kebersamaan hingga Penghormatan Leluhur

Imlek sarat simbol dan filosofi kehidupan. Malam pergantian tahun biasanya diisi dengan jamuan makan bersama keluarga besar sebagai lambang persatuan dan keharmonisan. Warna merah mendominasi perayaan karena dipercaya melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara tradisi berbagi angpao dimaknai sebagai doa untuk rezeki dan keselamatan.

Selain itu, tradisi membersihkan rumah menjelang Imlek melambangkan pembuangan energi buruk dan pembukaan lembaran baru. Sebagian keluarga juga melakukan sembahyang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur.

Menurut Bun Joi Phiau, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut bersifat universal.

“Nilai kerja keras, penghormatan kepada orang tua, dan solidaritas sosial dalam tradisi Imlek adalah nilai yang relevan bagi seluruh warga Jakarta,” katanya.

Jakarta dan Wajah Keberagaman

Sebagai kota metropolitan yang multietnis, Jakarta menjadi salah satu pusat perayaan Imlek di Indonesia. Kawasan pecinan seperti Glodok serta berbagai vihara dihiasi lampion merah, pertunjukan barongsai, dan beragam kegiatan budaya yang menarik masyarakat dari berbagai latar belakang.

Perayaan ini juga berdampak ekonomi, mulai dari pelaku UMKM, seniman, hingga sektor pariwisata lokal yang ikut bergeliat selama musim Imlek.

Lebih jauh, Bun Joi Phiau menekankan bahwa Imlek mencerminkan semangat toleransi yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

“Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan simbol harapan akan masyarakat yang semakin harmonis serta Jakarta yang maju dan inklusif bagi semua,” ujarnya.

Dalam konteks kebangsaan, Imlek membawa pesan penting tentang harmoni, saling menghormati, dan kebersamaan di tengah perbedaan. Jakarta, sebagai miniatur Indonesia, menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan.

Menutup pernyataannya, Bun Joi Phiau menyampaikan harapan bagi seluruh masyarakat yang merayakan.

“Semoga Tahun Baru Imlek membawa kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh warga. Gong Xi Fa Cai,” tutupnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik