Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Percakapan Sunyi Imlek, Abu, dan Ramadan

Hendrikus Maku Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Mendalami Islamologi,  Konsentrasi Sejarah dan Peradaban Islam
19/2/2026 16:12
Percakapan Sunyi Imlek, Abu, dan Ramadan
(Dokpri)

ALI bin Abi Thalib pernah berkata bahwa manusia, seberagam apa pun, hanya terbagi dalam dua: saudara seiman dan/atau saudara dalam kemanusiaan. Pesan sederhana itu seolah kembali menggema belakangan ini, tepat ketika tiga perayaan suci--Imlek, Rabu Abu, dan Bulan Suci Ramadan--terbit hampir bersamaan. 

Seakan langit mengajak kita bertafakur sejenak: tiga tradisi dari jalan rohani berbeda justru memantulkan cahaya yang sama: harapan, pertobatan, dan solidaritas. Mungkin ini saatnya Indonesia bertanya ulang pada dirinya sendiri: sudahkah kita benar benar memahami bahwa keberagaman bukan soal membedakan diri, melainkan tentang bagaimana kita memilih hadir satu sama lain sebagai saudara dalam iman atau sesama dalam martabat manusia?

Imlek dan cahaya harapan

Imlek kembali hadir sebagai momen hangat yang merangkul keluarga. Lentera merah yang memenuhi ruang publik bukan sekadar ornamen, tetapi doa yang dinaikkan setinggi mungkin demi terang, kelapangan, dan keberkahan. Tahun ini, Imlek memasuki Tahun Kuda Api (TKA) sebagai simbol energi yang melaju, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menembus kebuntuan.

Menariknya, pekan ini cahaya Imlek bersilang dengan dua peristiwa sakral lainnya: Rabu Abu bagi umat Katolik dan awal Ramadan bagi umat Islam. Tiga tradisi yang lahir dari perjalanan iman berbeda justru bertemu dalam satu rentang waktu, seakan memberi pesan yang sama: Indonesia hanya dapat berdiri tegak jika ruang-ruang suci tiap umat dilindungi, bukan diperlakukan sebagai arena saling menunjukkan dominasi.

Karena itu, seruan FKUB Banten (12/02/2026) yang meminta perayaan Imlek dilakukan dengan penuh kepekaan, layak disambut sebagai pengingat, bukan pembatasan. Sukacita umat Konghucu sepenuhnya sah dirayakan, tetapi kegembiraan itu menjadi lebih bermakna ketika tidak mengusik saudara-saudara yang sedang memasuki hari-hari awal puasa. Toleransi, dalam makna yang paling sederhana, bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi mengelola ruang publik dengan kesadaran bahwa kita tidak hidup sendirian.

Rabu Abu: menundukkan kepala, menajamkan telinga

Dalam pesan masa Prapaskah 2026, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Prapaskah adalah undangan Gereja bagi umat untuk kembali memusatkan hidup pada Allah sebagai sumber keteduhan di tengah hiruk pikuk keseharian. Leo merangkum makna Prapaskah dalam tiga poros, yakni: belajar mendengarkan, melatih diri melalui puasa, dan melangkah bersama sebagai satu komunitas beriman.

Pertama, mendengarkan. Belajar mendengarkan berarti membuka hati selebar mungkin bagi Sabda, agar kita belajar menangkap suara yang sering tertelan bising dunia yaitu suara mereka yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Dengan mendengarkan Sabda, kita diajar untuk mendengarkan dunia sebagaimana Allah mendengarkan: dengan kelembutan dan kepedulian.

Kedua, puasa. Puasa menjadi latihan untuk kembali ke pola hidup yang sederhana berupa menyaring keinginan, memurnikan motif, dan membangkitkan lapar akan keadilan. Puasa tidak berhenti pada tubuh; ia menyentuh cara kita berkata, mengajak kita menahan caci, meninggalkan prasangka, dan menukar kata-kata yang melukai dengan tutur yang membuahkan kedamaian.

Ketiga, bersama-sama. Pertobatan bukan langkah soliter. Umat dipanggil untuk berjalan bersama sebagai satu komunitas: saling mendengar, saling menopang, dan berani ditantang oleh realitas. Pertobatan sejati justru bertumbuh ketika relasi diperbarui, dialog diperdalam, dan gaya hidup dipilih demi kemaslahatan bersama.

Pada akhirnya, Paus Leo XIV mengajak umat membuka telinga bagi Tuhan dan bagi mereka yang paling rapuh; membiarkan puasa menyentuh lidah agar kata-kata menjadi berkat; dan menjadikan komunitas sebagai ruang di mana tangisan didengar dan kasih menemukan jalannya. Itulah fondasi peradaban kasih, yakni hidup yang lebih manusiawi, lebih ramah, dan lebih setia pada panggilan Injil.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pesan dari Paus Leo menghadirkan makna yang lebih luas, bahwa mendengarkan juga berarti membuka ruang bagi pengalaman iman orang lain, puasa juga berarti menahan sikap yang melukai keyakinan sesama, dan berjalan bersama berarti merawat harmoni dalam keberagaman yang dianugerahkan Tuhan. 

Bulan suci Ramadan

Bagi kaum Muslim, puasa selama Ramadan merupakan ibadah wajib yang bertujuan untuk memurnikan diri. Mengutip surat Al-Baqarah (2) ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." 

Dalam tradisi Islam, makna dari puasa Ramadan tidak terbatas pada upaya menahan diri (al-imsak) dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak fajar hingga terbenam matahari, tetapi terutama sebagai latihan menyucikan diri secara penuh, lahir dan batin. 

MUI menegaskan, hakikat dari puasa mencakup menahan diri dari segala ucapan dan perbuatan yang dilarang, termasuk ghibah (menggunjing), namimah (adu domba) fitnah, dan kata-kata yang melukai sesama. Kemenag RI dan lembaga-lembaga tafsir menegaskan, puasa adalah ibadah lahiriah sekaligus batiniah: puasa menahan fisik, tetapi juga menuntun hati, pikiran, dan lisan untuk tetap bersih (shaum).

Karena itu, puasa dipahami sebagai pendidikan moral dan sosial. Puasa bertujuan mengasah empati terhadap mereka yang kekurangan, menumbuhkan solidaritas, serta meneguhkan akhlak yang lebih lembut dan bertanggung jawab. Puasa juga menjadi sarana untuk membebaskan diri dari dominasi syahwat dan membangun kesadaran spiritual yang lebih mendalam—hubungan yang lebih jernih dengan Allah, sesama, dan alam.

Puasa Ramadan adalah latihan pengendalian diri yang menyeluruh, yang membentuk manusia agar lebih bertakwa, lebih berempati, dan lebih berakhlak. Puasa selama bulan suci ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi perjalanan batin untuk memurnikan niat, memperhalus tutur kata, dan memperkuat kepedulian sosial.

Indonesia yang bertumbuh dari kebersamaan

Apabila Imlek, Rabu Abu, dan puasa Ramadan dibaca dengan lensa akulturasi, outputnya adalah etika sosial yang sungguh dibutuhkan oleh Indonesia hari ini. Mendengarkan sebelum menghakimi. Menahan diri dari konflik kecil. Memurnikan kata yakni puasa lidah dari ujaran kebencian, caci, dan hoaks. Menghargai ibadah orang lain. Menjaga ketertiban sosial. 

Imlek menawarkan harapan, Rabu Abu memberi arah bagi pertobatan, dan Ramadan menghidupkan solidaritas. Jika tiga cahaya ini dirangkai, bangsa ini sebenarnya memiliki fondasi moral yang kuat untuk merawat kerukunan. Pesan Paus Leo XIV dan seruan FKUB Banten, meski lahir dari konteks berbeda, saling bersambut: keduanya mengajak pada kebersamaan yang aktif, bukan pasif.

Pekan ini, ketika tiga cahaya keimanan menyala bersamaan, kita diingatkan bahwa merawat Indonesia bukan semata perkara doa, tetapi juga tanggung jawab etis dalam keseharian: mendengar dengan saksama, berbicara dengan tertata, dan bersikap dengan empati. Negeri ini tidak membutuhkan keseragaman untuk tegak, melainkan keberanian menjaga keragaman yang telah menjadi kehendak-Nya sejak awal.

Pesan ilahi yang kerap dipetik dari kitab suci, "Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal," bukan sekadar kutipan spiritual, melainkan pedoman etika publik. Di sanalah fondasi kebinekaan diletakkan: bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dihidupi. Dan ketika pesan itu dijalankan dengan kesadaran, perbedaan tidak lagi menjadi sumber curiga, melainkan jembatan yang menguatkan rumah kebangsaan ini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya