Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
Merespons dinamika harga dan pasokan cabai rawit merah di sejumlah wilayah, terutama di DKI Jakarta, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumpulkan para pemangku kepentingan komoditas cabai yang terdiri dari champion petani cabai dari Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Kemudian pedagang cabai di wilayah DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, serta Satgas Pangan Polri dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Cabai yang digelar secara daring pada Minggu (15/2).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa stabilisasi cabai memerlukan orkestrasi hulu hingga hilir. Menurutnya, sentra produksi yang sedang panen harus terhubung cepat dengan pasar-pasar di hilir, utamanya di wilayah konsumen seperti DKI Jakarta agar harga tidak mengalami lonjakan signifikan.
“Cabai adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap pasokan harian. Karena itu, penguatan distribusi dari sentra panen ke pasar utama harus kita percepat melalui koordinasi lintas daerah dan lintas kementerian,” ujar Ketut.
Ketut juga menegaskan bahwa pemerintah sejak awal telah memberi ruang kepada petani untuk mendapatkan keuntungan yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar harga di tingkat produsen maupun konsumen harus wajar dan baik. Jika tidak, sambung Ketut, pemerintah akan melakukan intervensi stabilisasi yang memberikan keseimbangan pada aspek hulu maupun hilir.
Berdasarkan Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026, harga cabai rawit merah di tingkat produsen secara nasional rata-rata berada pada kisaran Rp56.383 per kilogram (kg). Sementara di tingkat konsumen rata-rata nasional tercatat Rp73.339 per kg. Disparitas antarwilayah menjadi fokus intervensi distribusi agar selisih harga tidak melebar.
“Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya menunggu setelah Imlek atau beberapa minggu ke depan. Langkah distribusi harus segera dijalankan. Untuk itu, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dari daerah sentra di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta harus dilakukan untuk menekan biaya logistik dan menjaga keterjangkauan harga, sehingga kita bisa pastikan harga cabai mengalami tren penurunan,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Champion Petani Cabai Lombok Timur Subhan mendukung langkah pemerintah dalam menjaga keterjangkauan cabai melalui FDP maupun mekanisme kerja sama antardaerah.
“Kami berharap ada dukungan Bapanas melalui fasilitasi distribusi pangan ini. Dukungan ini penting agar pasokan tetap terjaga dan pergerakan harga dapat lebih terkendali,” ujarnya.
Suyono dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir aktivitas belanja memang meningkat karena bertepatan dengan momentum Imlek dan Puasa. Namun demikian, pihaknya memprediksi setelah periode Imlek, harga cabai rawit merah akan bergerak turun secara bertahap.
Menurutnya, sejumlah sentra produksi di Jawa Timur seperti Kediri, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi dalam waktu dekat mulai memasuki masa panen. Meski demikian, saat ini curah hujan di wilayah tersebut masih cukup tinggi sehingga berdampak pada proses petik.
Sementara itu, Guntur pedagang di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) menegaskan kesiapan pihaknya untuk menyerap pasokan cabai dari berbagai wilayah, termasuk Sulawesi Selatan, guna memperkuat ketersediaan dan membantu menstabilkan harga di pasar utama. Ia pun optimis harga cabai dalam beberapa hari ke depan akan melandai seiring bertambahnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Penguatan langkah stabilisasi ini sejalan dengan arahan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman agar kondisi stok yang kuat benar-benar tercermin pada stabilitas harga di tingkat konsumen, khususnya menjelang Bulan Suci Ramadan. Menurutnya, stok pangan nasional saat ini berada dalam posisi yang kuat. Oleh karena itu, tidak boleh ada pihak yang memanfaatkan momentum permintaan untuk kepentingan sepihak.
“Stok kita kuat dan dalam kondisi surplus menghadapi Ramadan. Kondisi ini harus tercermin pada harga yang baik dan wajar di masyarakat. Tidak boleh ada yang memainkan keadaan,” tegas Amran saat launching Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di Jakarta, pada Jumat (13/2).
Amran yang juga menjabat Menteri Pertanian memastikan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang merugikan masyarakat. Apabila ditemukan pelanggaran atau upaya memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar, Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan akan mengambil langkah tegas sesuai kewenangan yang dimiliki, termasuk pencabutan izin yang akan ditegakkan bersama Satgas Pangan Polri.
Melalui sinergi hulu sampai hilir, percepatan distribusi dari sentra produksi, serta pengawasan yang diperkuat, pemerintah optimistis harga cabai rawit merah dapat segera bergerak lebih stabil dan mencerminkan kondisi pasokan yang sesungguhnya di lapangan. (H-2)
Harga cabai rawit kini mencapai Rp50 ribu per kg, naik dari Rp35 ribu per kg. Harga cabai keriting berada di kisaran Rp35 ribu per kg, dari sebelumnya Rp20 ribu per kg.
Harga cabai merah kriting saat ini juga mengalami kenaikan hingga Rp56 ribu per kg dan harga cabai merah besar mengalami kenaikan Rp50 ribu per kg.
Lonjakan harga hingga 100 persen terjadi pada bawang merah dari Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu per kg, disusul cabai rawit merah sebelumnya Rp45 ribu menjadi Rp90 ribu per kg.
Berdasarkan data 10 komoditas dengan andil inflasi dan deflasi terbesar secara bulanan, cabai merah mencatat andil deflasi terbesar sebesar -0,31 persen, disusul cabai rawit -0,07 persen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan pokok strategis secara nasional masih aman dan memadai.
Harga cabai rawit kini mencapai Rp50 ribu per kg, naik dari Rp35 ribu per kg. Harga cabai keriting berada di kisaran Rp35 ribu per kg, dari sebelumnya Rp20 ribu per kg.
'Supaya tetap fit di bulan Ramadan, kami menggelar lebih dahulu Senam Berkah ini, senam yang Insya Allah mendatangkan banyak keberkahan
Tradisi munggahan merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.
Pada dasarnya, puasa tidak memberikan dampak buruk secara langsung terhadap sistem kelistrikan jantung pasien.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved