Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bergerak cepat merespons bencana lingkungan yang melanda Sungai Cisadane. Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan pihaknya akan segera mempelajari lebih lanjut kasus pencemaran yang kini tengah meluas di wilayah Banten tersebut.
"Untuk Cisadane segera, nanti saya dengan tim akan belajar," ujar Arif usai menghadiri seminar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2).
Arif mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan personel di lapangan guna memetakan kronologi dan dampak eksis dari peristiwa tersebut secara akurat. Langkah ini diambil untuk menentukan intervensi teknologi atau kajian ilmiah yang tepat dalam memitigasi dampak zat kimia di aliran sungai.
"Saya masih ingin memanggil dari tim yang sudah bergerak, seperti apakah case-nya, nah kemudian kita akan selesaikan segera," imbuh Arif.
Dampak Meluas hingga 22,5 Kilometer
Berdasarkan data terkini, polusi di Sungai Cisadane dilaporkan telah menjangkau radius kurang lebih 22,5 kilometer. Pencemaran ini mencakup tiga wilayah administratif utama, yakni Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.
Krisis lingkungan ini dipicu oleh kebakaran hebat yang melanda sebuah gudang perusahaan pupuk. Insiden tersebut menyebabkan cairan pestisida dalam volume besar mengalir ke Sungai Jeletreng, yang merupakan anak Sungai Cisadane di wilayah Tangerang Selatan.
Ancaman Ekosistem dan Kesehatan Masyarakat
Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, sebelumnya mengonfirmasi bahwa residu kimia yang masuk ke aliran sungai telah memicu kematian massal biota akuatik. Berbagai jenis ikan seperti mas, baung, patin, nila, hingga ikan sapu-sapu ditemukan mati di sepanjang aliran terdampak.
"Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya," jelas Hanif pada Rabu (11/2).
Pemerintah saat ini tengah melakukan pengujian laboratorium mendalam untuk mengukur tingkat toksisitas air. Sebagai langkah preventif, otoritas terkait meminta warga di sepanjang bantaran sungai untuk menghentikan aktivitas penggunaan air sungai sementara waktu.
"Kami akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah. Untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup," tegas Hanif. (Ant/P-2)
KLH melakukan pemeriksaan atas insiden kebakaran gudang milik Biotek Saranatama yang mengakibatkan cairan pestisida mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane.
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) merilis temuan terbaru terkait insiden pencemaran Sungai Cisadane.
KLH melakukan pemeriksaan mendalam terkait insiden kebakaran gudang milik PT Biotek Saranatama di Tangerang Selatan pada Februari 2026 yang menyebabkan pencemaran sungai Cisadane.
WARGA di wilayah Tangerang kini dibayangi ancaman kesehatan serius setelah hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya peningkatan drastis cemaran pestisida di aliran Sungai Cisadane.
KLH/BPLH periksa PT Biotek Saranatama usai kebakaran 20 ton pestisida cemari Sungai Cisadane hingga 22,5 km dan sebabkan ikan mati massal.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
PKS meraih penghargaan terbaik Indeks Integritas Partai Politik (IIPP) 2025 dari Kemenko Polkam dan BRIN dalam Rakor Evaluasi di Bali.
Menurutnya, kepercayaan publik yang sudah terbentuk perlu dijaga agar tidak menurun di tengah dinamika kebijakan dan tantangan pemerintahan.
PENELITI BRIN NiLuh Putu Indi Dharmayanti, mengatakan penyakit zoonosis virus nipah (NiV) bisa saja terjadi di Indonesia karena ada banyak faktor pendorongnya.
BRIN menilai pendekatan kebijakan berbasis risiko menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kontribusi ekonomi industri olahan tembakau dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved