Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dinilai belum menyentuh akar persoalan dalam upaya meredam maraknya aksi tawuran di ibu kota.
Meski berbagai langkah teknis telah dijalankan, pendekatan yang dominan bersifat seremonial dan keagamaan dinilai hanya menjadi penahan sementara, bukan penyelesai masalah.
“Pak Pram itu sudah mengambil langkah-langkah teknis, tapi kalau kita runut penyebab tawuran, itu pertama adalah kemiskinan. Enggak ada anak orang kaya yang tawuran di jalanan,” ujar Anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Justin Adrian Untayana, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (4/8).
Justin menyebut ada tiga faktor utama yang selama ini mendorong aksi tawuran di kalangan remaja Jakarta.
Selain faktor ekonomi dan tradisi, kini muncul motif baru seperti konten media sosial. Di era digital, kekerasan bahkan menjadi komoditas tontonan demi eksistensi daring.
Lebih lanjut, Justin menyampaikan, berbagai temuan di lapangan menunjukkan bahwa tekanan sosial dan kondisi hunian menjadi pemicu laten. Ia mencontohkan seorang remaja yang terlibat tawuran dini hari karena tak bisa beristirahat di rumahnya yang sempit dan penuh sesak.
“Ini sandwich generation. Satu rumah sempit diisi banyak orang, tidur pun harus bergiliran. Ini masalah populasi, perumahan, dan tidak adanya kebijakan kontrapopulasi yang jelas,” tegas Sekretaris Komisi E itu.
Kritik PSI ini seolah menggarisbawahi bahwa pendekatan moral dan keagamaan yang kerap dikedepankan Pemprov DKI, tidak akan menyentuh struktur penyebab utama. Justin bahkan mendesak adanya pembaruan dalam kebijakan sosial, mulai dari pengendalian populasi, perbaikan perumahan, hingga penegakan tanggung jawab orang tua.
“Kegiatan agama itu bagus, positif, kita mendukung. Tapi kalau tidak atasi akar penyebab seperti kemiskinan, pengendalian populasi, perumahan, dan kontrol orang tua, tawuran nggak akan pernah berhenti,” katanya.
Ia pun mengusulkan agar Jakarta mulai berani menerapkan sanksi bagi orang tua yang lalai dalam mengawasi anaknya. Menurutnya, di negara-negara lain, pengawasan orang tua menjadi bagian dari sistem hukum sosial.
“Saya kira sudah waktunya menerapkan sanksi kepada orang tua yang abai. Kemarin di Pondok Kelapa, dini hari, anak di bawah umur menyiram air keras ke temannya. Ini butuh pengawasan ketat dari keluarga,” ujarnya.
Terkait pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Anti Tawuran oleh Pemprov DKI, PSI menyambut baik, tetapi menegaskan efektivitasnya harus dilihat dari hasil di lapangan. Ia juga menilai ancaman pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) tak lagi cukup menakutkan bagi pelaku.
“Untuk siswa-siswa, pencabutan KJP sudah tidak efektif. Mereka mati saja tidak takut. Orang tua harus memikul tanggung jawab lebih besar terhadap anak-anaknya,” ucap Justin.
Di tengah makin brutalnya aksi kekerasan remaja, PSI berharap Pemprov tak hanya terpaku pada simbolisme dan ritus pencegahan yang normatif, tapi berani menyusun ulang kebijakan sosial Jakarta dari hulunya. Karena tawuran bukan sekadar persoalan moral, ia adalah potret dari kota yang gagal membentuk ruang aman bagi remajanya. (P-1)
Aksi tawuran bermula dari saling tantang antarkelompok remaja melalui media sosial. Pertemuan kedua kelompok terjadi pada Rabu (24/9) sekitar pukul 19.00 WIB
Polres Metro Jakarta Pusat menangkap tujuh remaja yang diduga hendak tawuran di dua lokasi berbeda, yaitu di Kecamatan Senen dan Kemayoran dengan menyita sejumlah barang bukti.
TAWUR ialah fenomena kekerasan yang belakangan ini banyak berkembang di kalangan kelompok remaja yang berasal dari sekolah dan wilayah yang berbeda.
pengamanan ini dilakukan oleh Tim Patroli Presisi Samapta dalam rangka patroli kewilayahan untuk mencegah aksi tawuran.
Penangkapan itu dilakukan setelah Tim Patroli Perintis Presisi menerima laporan dari masyarakat mengenai aksi tawuran yang terjadi di lokasi tersebut pada Minggu (1/6) pagi.
Anggota DPRD DKI Kevin Wu mendesak percepatan investigasi kebakaran di Teluk Gong yang menewaskan 5 orang.
Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta mengusulkan evaluasi hingga pencabutan bansos bagi keluarga pelaku tawuran sebagai langkah tegas menekan aksi kekerasan di Jakarta.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk disahkan menjadi perda.
ANGGOTA Panitia Khusus Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Pansus Raperda KTR) DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, mengusulkan agar pengesahan Raperda KTR ditunda.
ANGGOTA Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis menilai, banjir rob kawasan pesisir Jakarta merupakan peringatan serius. Ia meminta Pemprov DKI Jakarta mempercepat penanganan.
BELAJAR dari peristiwa kebakaran Terra Drone, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis, meminta agar pengawasan keamanan gedung dan bangunan di Jakarta diperketat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved