Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHELATAN PON XX di Papua telah berakhir dan para atlet kembali ke daerah masing masing. Beragam sambutan dan apresiasi pemerintah daerah memberi perhatian para atletnya yang meraih prestasi.
Namun kondisi itu berbeda di wilayah kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten.
"Kami berharap pemerintahan kota atau Pemkot Tangsel dapat menggandeng pihak swasta dalam hal pembinaan dan apresiasi atlet. Pemda Lebak saja bisa memberi apresiasi yang tinggi pada atlet berprestasi masa Pemkot Tangsel tidak bisa," ungkap Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Dayung Tangsel, Dodi Haryanto saat dihubungi Media Indonesia, kemarin
Menurut Dodi, pihak Tangsel masih berwacana dan belum ada kepastian nominal bonus bagi atlet peraih medali PON XX Papua, tidak seperti daerah lain seperti Lebak dan Tangerang.
Padahal, lanjut dia, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan potensi pihak swasta di Tangsel jauh diatas daerah lain.
Dia menyarankan Pemkot Tangsel khususnya Dinas.Pendidikan Olahraga (Dispora) juga KONI melakukan konfrensi pers dalam menanggapi polemik tersebut serta ada kepastian untuk atlet.
"Jangan dibikin ngambang kaya gini, dalam artian belum ada jawaban pasti terkait bonus atlet. Berapa nominalnya ada yang bilang nanti diberikan pada saat HUT Tangsel,, ada juga yang bilang baru mau dirumuskan," tandasnya seraya mengingatkan pada tahun 2022 akan ada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Banten.
"Jangan sampai atlet yang kita bina hijrah ke daerah lain yang lebih memperhatikan kesejahteraan atlet, " tukasnya.
Baca juga : Tommy Sugiarto Berpotensi Lawan Anthony Ginting di Denmark Terbuka
Sementara itu Dimas Antariksa, satu dari lima atlet cabang olahraga Dayung Tangsel yang meraih medali perunggu bagi Provinsi Banten mengaku hanya bisa mengelus dada atas perhatian pemerintah daerahnya.
Ia merasa cemburu juga karena seluruh atlet tidak dilepas oleh pejabat daerah seperti kabupaten/kota lainnya yang tergabung dalam kontingen Provinsi Banten. Ia Juga tidak disertai dukungan dana pendampingan atau uang saku selama berjuang di PON Papua.
Dimas bersama empat rekan lainnya terpaksa harus "puasa" selama berada di Bumi Cendrawasih.
Ditanya uang dari mana para atlet tak menerima uang saku?. "Minjam ke teman untuk jajan," ungkapnya.
Ia berharap Pemkot Tangsel bersikap adil kepada atlet, tidak pilih kasih. Ia mencontohklan atlet taekwondo mendapat uang saku, dan setibanya di Kota Tangsel mendapat bonus dari prestasi medali yang sama.
Seharusnya, lanjut Dimas, Pemkot lebih perhatian juga pada bidang olahraga. Seperti peralatan yang kurang memadai, anggaran kecil.
"Jika atlet didukung semuanya bakal semangat juga.
"Bagaimana kami mau berkembang jika tidak ada dukungan dari pemkot, " tandasnya.
Lebih lanjut ia mencontohkan fasilitas untuk olahraga Dayung di Tangsel saja belum mempunyai tempat tersendiri. Jadi masih numpang, perizinan untuk tempat latihan agar tidak numpang masih dipersulit," pungkasnya.(OL-7)
Data lapangan menunjukkan bahwa pada Jumat (16/1/2026), di Pos Ciputat dan Pasar Cimanggis, masih banyak warga yang tidak membawa identitas (KTP) saat terjaring.
Pemkot tidak akan mengambil langkah sepihak atau memaksakan kerja sama tanpa adanya kesepakatan bersama dengan wilayah terkait.
PEMERINTAH Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meluncurkan Rencana Capaian 100 Hari Tim Percepatan Pengelolaan Sampah sebagai langkah darurat mengatasi keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
Sistem pengelolaan sampah belum dirancang untuk menghadapi situasi darurat, padahal kota dengan kepadatan tinggi seperti Tangsel sangat rentan terhadap gangguan layanan dasar.
Penanganan dilakukan setelah warga melaporkan tumpukan sampah yang menggunung hingga mendekati atap bangunan pasar.
Yayang juga menyoroti kondisi TPA Cipeucang yang sudah melampaui kapasitas (overload) telah mengganggu aktivitas warga.
Kasus itu diduga melibatkan oknum pejabat-pejabat di lingkungan Pemprov Papua langsung maupun tidak langsung.
Meskipun sudah melakukan upaya hukum, proses persidangan masih berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Julita berharap agar penyelesaian kasus ini memiliki titik terang.
"Saya kira desertasi ini luar biasa untuk kebangkitan olahraga di Papua. Bahkan saya langsung tanyakan langkah konkretnya untuk ke depan."
utang Pemerintah kepada pihak ketiga yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah
Pesepak bola asal Merakuke, Papua, itu dikontrak selama tiga tahun dan menjadi pemain baru kelima Macan Kemayoran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved