Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
POLRES Metro Jakarta Pusat akhirnya membuka suara mengenai alasan tidak mengungkap kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap NF. Remaja pelaku pembunuhan balita lima tahun di Sawah Besar, akhir Maret lalu.
Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto, hal tersebut dilakukan semata untuk melindungi masa depan NF. Karena pelaku masih di bawah umur.
"Proses ini tidak kami blow up karena NF masih di bawah umur, 15 tahun. Dan kondisinya memang sangat labil, psikologisnya terganggu, oleh karena itu kami mohon maaf kepolisian selama ini tidak mempublis karena untuk kepentingan diri NF dan untuk keselamatan masa depannya," dalih Heru saat dikonfirmasi, Sabtu (16/5).
Di sisi lain, Heru memastikan bahwa selain sebagai tersangka kasus pembunuhan, NF juga merupakan korban atas kekerasan seksual yang dilakukan oleh tiga orang pria. Dua di antaranya, yakni F dan R masih kerabat dari ibu tiri NF, sedangkan A, pelaku lainnya adalah kekasih NF sendiri.
Baca Juga : Tiga Pemerkosa Remaja NF Tinggal Tunggu Persidangan
"Benar bahwa NF menjadi tersangka dan korban. Sedangkan tersangka untuk kasus yang menimpa NF sudah kami tangani, kasus ini sudah P21 sampai tahap 2 di kejaksaan," papar Heru.
Penangkapan para pelaku kekesaran seksual dilakukan setelah pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap NF. Ketiganya ditangkap tidak lama pasca pembunuhan yang dilakukan NF.
"Tanggal 10 Maret, 16 Maret dan 17 Maret, berdekatan saat pembunuhan terjadi," ujar Heru.
Sebelumnya, kasus kekerasan seksual terhadap NF tidak diketahui publik. Kepolisianpun berdiam soal ini, sampai pihak Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial mengungkapnya pada Selasa (12/5) lalu. Dirjen Rehabilitasi Sosial Harry Hikman menilai, keputusan pihaknya sudah tepat agar opini masyarakat tidak terlalu memojokan NF.
"Jadi selama ini opini yang terbangun di masyarakat atas apa yang dilakukan NF untuk melakukan tindak kekerasan dengan cara yang sadis, itu membuat NF menjadi terpojokan, sehingga menimbulkan stigma yang sangat buruk bagi NF," papar Harry. (OL-13)
Baca Juga: Tim Dokter Hati-hati Periksa Kejiwaan Remaja Pembunuh Balita
Baca Juga: Banyak Faktor Pengaruhi Tindakan Remaja Pembunuh Anak
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Utara mencatat lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang didominasi oleh kekerasan seksual sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved