Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGOMPOL saat tidur merupakan hal yang biasa terjadi pada anak. Namun, jika anak sudah menjalani toilet training atau jarang mengompol tetapi tiba-tiba kembali sering mengompol, hal ini dapat menjadi perhatian bagi orang tua.
Sebab, kebiasaan mengompol tersebut mungkin saja menjadi tanda adanya penyakit diabetes.
Diabetes, atau diabetes mellitus, adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi secara optimal.
Pada anak-anak, jenis diabetes yang paling sering terjadi adalah diabetes tipe 1.
Pada diabetes tipe ini, pankreas anak tidak dapat memproduksi insulin, hormon yang berfungsi mengubah glukosa menjadi energi.
Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat. Menurut laman Diabetes.co.uk, ketika kadar glukosa terlalu tinggi, tubuh berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine.
Hal ini menyebabkan volume urine anak meningkat karena adanya kandungan gula di dalamnya. Cairan dari sel-sel tubuh juga keluar karena keberadaan glukosa, yang membuat anak lebih sering buang air kecil.
Jika anak tidak mampu menahannya, terutama saat tidur, ia bisa mengalami ngompol meskipun sudah diajarkan toilet training. Selain itu, kebiasaan mengompol yang disebabkan oleh diabetes juga dapat dikaitkan dengan kerusakan pada ginjal atau kandung kemih.
Mengompol akibat diabetes pada anak, khususnya diabetes tipe 1, sering kali disertai gejala lain yang menunjukkan peningkatan kadar gula dalam tubuh. Berikut adalah beberapa gejala yang biasanya terkait dengan diabetes pada anak:
Anak sering buang air kecil, termasuk di malam hari, yang dapat menyebabkan ngompol meskipun sebelumnya sudah berhenti.
Anak cenderung merasa sangat haus, sehingga meningkatkan konsumsi cairan dan frekuensi buang air kecil.
Anak sering merasa lelah karena tubuhnya tidak mampu mengolah glukosa menjadi energi dengan baik.
Jika anak yang sebelumnya jarang atau tidak pernah ngompol kembali mengalami hal ini, terutama disertai gejala-gejala tersebut, bisa jadi itu adalah tanda diabetes yang belum terdeteksi.
Sebagian besar kasus anak mengompol tergolong normal. Namun, orang tua perlu mewaspadai kondisi tertentu yang bisa menjadi indikasi adanya penyakit, seperti diabetes. Berikut tanda-tanda mengompol yang mungkin berhubungan dengan diabetes:
Anak masih sering mengompol setelah usia 7 tahun, meskipun sudah menjalani toilet training.
Anak tiba-tiba kembali mengompol, baik saat tidur maupun beraktivitas di siang hari, setelah setidaknya enam bulan tidak mengalaminya.
Gejala lain yang muncul meliputi rasa haus dan lapar berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan, serta perubahan perilaku yang tidak sesuai dengan usianya.
Mengompol pada anak umumnya normal, namun bisa menjadi tanda diabetes jika terjadi kembali setelah toilet training dan disertai gejala seperti haus berlebihan, kelelahan, atau penurunan berat badan.
Oleh karena itu, jika anak Anda mengompol disertai faktor risiko dan gejala yang telah disebutkan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan membantu mengidentifikasi penyebab di balik kebiasaan mengompol tersebut. (Z-10)
Penderita diabetes berisiko tinggi mengalami masalah kaki akibat kerusakan saraf dan aliran darah. Lakukan pemeriksaan kaki rutin untuk mencegah infeksi serius dan amputasi.
Kaki merupakan bagian tubuh yang paling rawan terluka karena fungsinya sebagai penumpu utama beban tubuh.
Pemahaman mengenai klasifikasi diabetes melitus sangat penting karena setiap tipe memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda.
Penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadan 2026.
Penderita diabetes tetap dapat berpuasa dengan aman asalkan melakukan persiapan yang tepat.
IDAI mencatat peningkatan kasus diabetes anak mencapai 70 kali lipat sejak 2010. Sebagian besar penderita berada di kelompok usia 10-14 tahun, dengan risiko komplikasi gagal ginjal.
Lonjakan kasus diabetes pada anak menjadi perhatian serius. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2023 mencatat peningkatan kasus diabetes anak hingga 70 kali lipat.
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat secara global, tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga anak-anak.
IDAI melaporkan lonjakan signifikan kasus diabetes pada anak, meningkat 70 kali lipat pada 2023 dibandingkan 2010.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengaku kaget soal banyaknya kasus diabetes yang diderita anak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved