Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DIABETES yang dulunya identik sebagai penyakit orangtua, kini semakin banyak menyerang generasi muda, bahkan anak-anak dan remaja. Perubahan pola makan, gaya hidup sedentari, dan tingginya tingkat stres disebut menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit kronis ini di kalangan generasi Z dan Alpha.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), diabetes tipe 2 yang sebelumnya nyaris hanya ditemukan pada orang dewasa kini sering terdiagnosis pada usia pra-remaja dan remaja. Pergeseran pola makan dari alami menjadi makanan olahan tinggi gula, lemak trans, dan garam, ditambah minimnya aktivitas fisik, mempercepat munculnya resistensi insulin. Kondisi ini juga diperparah oleh kebiasaan generasi muda menghabiskan waktu di kafe sambil mengonsumsi minuman manis, namun minim aktivitas fisik.
Jika diabetes menyerang di usia muda, tubuh akan terpapar kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu panjang, sehingga risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, bahkan amputasi meningkat tajam.
Selain masalah fisik, dampak psikologis seperti stigma, depresi, dan penurunan kepercayaan diri juga membayangi penderita muda. Kewajiban memantau gula darah dan membatasi pola makan kerap mengganggu interaksi sosial dan produktivitas mereka.
Faktor Penyebab dan Gejala
Adapun, beberapa faktor yang memicu diabetes pada generasi muda meliputi malnutrisi sejak lahir, pola makan tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, faktor genetik, serta perubahan gaya hidup modern. Gejala yang umum dialami antara lain haus berlebihan, sering buang air kecil, lapar terus-menerus, penurunan berat badan, penglihatan kabur, luka sulit sembuh, serta pusing dan lemas akibat fluktuasi gula darah.
Upaya Pencegahan
Kementerian Kesehatan telah mengampanyekan gaya hidup sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan program CERDIK, termasuk menerapkan pajak pada minuman berpemanis. Namun, para ahli menilai langkah ini perlu diperkuat dengan pembatasan iklan makanan tidak sehat, peringatan di kemasan, serta penyediaan fasilitas olahraga yang memadai.
Selain itu, sekolah pun juga diminta untuk mengintegrasikan edukasi gizi dan olahraga dalam kurikulum, sementara orangtua berperan sebagai teladan dalam membentuk kebiasaan sehat. Generasi muda juga diimbau mengurangi konsumsi gula, rutin berolahraga minimal 30 menit per hari, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, mengelola stres, dan rutin memeriksa gula darah. (M-2)
DINAS Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat bahwa saat ini banyak warga berusia remaja di Jakarta terancam mengidap penyakit diabetes.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, memaparkan lokasi 66 rumah sakit tersebut tersebar di berbagai wilayah.
Ia mengatakan sebagai upaya pencegahan virus Nipah maka yang bisa dilakukan yaitu menjaga protokol kesehatan, dan mengetahui cara penularannya.
Di Indonesia, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi tantangan serius.
Kemenkes bekerja sama dengan Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia sepakat untuk melakukan transfer teknologi dan produksi alkes berteknologi tinggi secara lokal.
Rencana ini mengemuka dalam Diseminasi Hasil Studi Implementasi Skrining HPV DNA yang digelar hari ini, Selasa (27/1/2026), di Kementerian Kesehatan RI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved