Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGGUNAKAN pompa dalam memberikan ASI, diketahui dapat memperpanjang waktu orangtua menyusui bayi mereka yang baru lahir.
Dalam sebuah penelitian, orang yang menggunakan pompa untuk memberikan ASI kepada anak-anak mereka selama 21 minggu lebih lama dibandingkan mereka yang tidak menggunakan pompa. Pada penelitian lainnya, peneliti melaporkan ASI lebih baik untuk perkembangan usus bayi dibandingkan susu formula.
American Academy of Pediatrics (AAP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah beberapa organisasi kesehatan yang merekomendasikan pemberian ASI setidaknya selama dua tahun atau lebih jika kedua pasangan menginginkannya. Namun, sulit untuk mencapai tujuan tersebut karena sejumlah faktor, termasuk kurangnya dukungan sosial dan sistem.
Baca juga : Ibu yang Minim Persiapan Bisa Sebabkan Proses Menyusui tidak Lancar
“Saya menganjurkan semua (orangtua) untuk menyusui atau memompa ASI untuk menyediakan ASI bagi bayi mereka dan untuk memberi kelonggaran kepada diri mereka sendiri jika mereka tidak dapat menyediakan ASI secara eksklusif untuk bayi mereka,” kata Jenelle Ferry, MD, seorang neonatologis bersertifikat dan direktur pemberian makan, nutrisi, dan perkembangan bayi di Pediatrix Medical Group.
“Kita beruntung memiliki alternatif yang aman dengan susu formula. ASI jelas memiliki manfaat yang tidak dapat digantikan oleh susu formula, dan susu formula akan tetap memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang tepat untuk tumbuh dan berkembang.”
Ferry menambahkan, “Saya rasa penting bagi (para orangtua) untuk menyadari bahwa berapa pun jumlah ASI yang dapat mereka berikan, termasuk dikombinasikan dengan susu formula, memberikan manfaat bagi bayi mereka, tidak harus semuanya atau tidak sama sekali”.
Baca juga : Cara Alami agar ASI Melimpah, Tips dan Trik untuk Ibu Menyusui
Dengan kata lain, ada berbagai cara untuk memberi asupan pada bayi, dan memilih cara yang sesuai. Sebagai bagian dari dukungan informasi adalah mendapatkan informasi yang tepat sehingga Anda dapat mengambil keputusan yang Anda inginkan.
Deanna Nardella, MD, dan timnya, yang bekerja di klinik perawatan primer pediatrik dan unit perawatan intensif neonatal, melihat masalah utamanya. Kata Nardella, "Kami sering merawat keluarga yang tidak dapat mengakses dukungan menyusui yang mereka butuhkan saat mereka sangat membutuhkannya”.
"Kami melihat hal ini menyebabkan kesulitan fisik dan mental bagi orangtua dan pada akhirnya, tujuan pemberian makan bayi pribadi tidak terpenuhi,” sambungnya.
Baca juga : Menyusui Langsung Jadi Cara Efektif Cegah Mastitis pada Ibu, Benarkah?
Nardella dan rekan-rekan penulisnya secara anekdot memperhatikan peningkatan dalam keluarga yang memompa ASI ketika Undang-Undang Perlindungan Pasien dan Perawatan Terjangkau mewajibkan cakupan asuransi untuk pompa ASI pada 2012, yang memberikan lebih banyak keluarga akses ke alat untuk mengeluarkan ASI ketika salah satu pasangan dipisahkan.
"Meskipun penggunaan pompa ASI meningkat selama dekade terakhir, masih sedikit yang memahami bagaimana penggunaan pompa ASI benar-benar memengaruhi hasil menyusui," kata Nardella. "Kami berupaya untuk lebih memahami hubungan antara penggunaan pompa ASI dan durasi menyusui."
Dengan menggunakan data dari Sistem Pemantauan Penilaian Risiko Kehamilan milik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, para peneliti memeriksa sampel hampir 20.000 ibu menyusui di AS dari tahun 2016-2021. Mereka menilai prevalensi penggunaan pompa dan berapa lama ibu memberikan ASI kepada anak-anak mereka.
Baca juga : Dukungan Moral untuk Ibu Menyusui Krusial agar ASI Lancar
Nardella mengatakan para peneliti menemukan:
Meski demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk kurangnya informasi spesifik tentang jenis pompa yang digunakan orang tua, yaitu tunggal atau ganda, serta eletktrik atau manual. Nardella juga mengatakan hubungan antara durasi menyusui dan penggunaan pompa bersifat tidak langsung.
“Kita tidak dapat menyimpulkan hubungan ini bersifat kausal, yang berarti penggunaan pompa secara langsung menyebabkan durasi menyusui yang lebih lama,” kata Nardella.
Meski begitu, hasilnya tidak mengejutkan para ahli luar. Demi Lucas, IBCLC dan Manajer Klinis di The Lactation Network , jaringan konsultasi laktasi yang ditanggung asuransi, mengatakan “di dunia yang ideal, bayi dan orang tua akan tetap bersama-sama menyusui di awal dan sering pada minggu-minggu ini untuk memfasilitasi proses tersebut, tetapi banyak faktor yang menyebabkan pemisahan atau penghentian pemberian makanan langsung melalui payudara pada minggu-minggu awal”.
Penyebab terjadinya pemisahan atau penghentian pemberian ASI pada minggu-minggu awal, di antaranya:
“Ketika gangguan atau penghentian itu terjadi, pompa dapat berperan dalam meningkatkan durasi menyusui dibandingkan dengan orangtua yang mengalami masalah ini dan tidak memiliki pompa ASI,” kata Lucas.
Nardella berharap penelitian ini akan menumbuhkan lebih banyak kesadaran dan upaya kebijakan yang dirancang untuk membantu orangtua yang memompa ASInya, serta untuk membantu mempromosikan hasil pemberian ASI yang adil. Karena, dengan meningkatnya kesadaran dapat menyebabkan lebih banyak orang mencari pompa, misalnya melalui perusahaan asuransi mereka, di mana ada banyak pompa di pasaran.
“ Pompa elektrik ganda sekelas rumah sakit akan menjadi pompa yang paling efisien bagi kebanyakan wanita,” kata Ferry.
“Pompa ini memungkinkan Anda memompa kedua payudara secara bersamaan. Sebagian besar asuransi kini menanggung biaya pompa yang bagus. Jika Anda menunggu pengiriman pompa atau hanya membutuhkannya untuk waktu yang singkat, sebagian besar rumah sakit dengan layanan persalinan ibu juga menyewakan pompa.”
Untuk memaksimalkan hasil, Ferry mengatakan dasar yang baik adalah mengeluarkan ASI melalui pompa setiap kali bayi makan (melalui botol), meskipun beberapa orang mungkin memerlukan sesi yang lebih sering.
“Memompa atau menyusui enam hingga 10 kali sehari penting untuk produksi ASI yang berkelanjutan,” kata Ferry.
“Jika Anda tidak yakin tentang cara terbaik menggunakan pompa atau mengalami kesulitan dengan pemasangan flens, konsultan laktasi setempat dapat menjadi sumber informasi yang penting.”
"Kami membuat organoid mini dari jaringan usus halus manusia dan menumbuhkannya di media biasa atau media yang diberi tambahan ASI, ASI donor, susu formula standar, atau susu formula yang dihidrolisis sebagian," kata Dr. Liza Konnikova, MD, PhD, penulis korespondensi untuk studi tentang kesehatan pencernaan di Yale School of Medicine.
Dari sana, para peneliti mengukur kesehatan usus mini berdasarkan faktor-faktor seperti:
“Kami menemukan bahwa suplementasi ASI menghasilkan usus mini yang lebih proliferatif dan lebih besar serta faktor-faktor yang distimulasi yang dibutuhkan untuk perlindungan imun usus,” kata Konnikova.
“ASI juga menstimulasi subtipe spesifik sel usus, sel-sel enteroendokrin, yang menghasilkan hormon-hormon yang dibutuhkan untuk motilitas dan fungsi metabolisme usus. Sebaliknya, suplementasi dengan susu formula menghasilkan organoid yang kurang berkembang, penurunan faktor-faktor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, dan peningkatan regulasi faktor-faktor inflamasi.”
Konnikova juga mengatakan menggunakan ASI dari satu sumber, dan mungkin ada beberapa variabilitas individual dalam bagaimana ASI memengaruhi kesehatan usus. Selain itu, ada variabilitas antara garis organoid yang dikembangkan dari sampel manusia yang berbeda.
Berdasarkan penelitian, hasilnya konsisten. Saat ini, penelitian hanya menggunakan ukuran sampel laki-laki, yang kemungkinan untuk penelitian selanjutnya akan mengevaluasi jaringan perempuan. Sehingga penelitian tersebut dapat menilai perbedaan berdasarkan jenis kelamin.
Meski begitu, para ahli luar mengatakan penelitian tersebut telah mendukung studi dan pemikiran sebelumnya tentang efek positif susu manusia terhadap kesehatan usus.
“ASI mengandung berbagai komponen bioaktif, seperti faktor pertumbuhan, hormon, dan antibodi, yang mendorong pertumbuhan dan diferensiasi sel usus,” kata Daniel Ganjian, MD, FAAP, dokter anak bersertifikat di Providence Saint John's Health Center. “Komponen-komponen ini membantu mengembangkan mikrobioma usus yang sehat dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.” (Parents/Z-3)
Pendekatan menu berbasis pangan lokal juga sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas gizi sekaligus memberdayakan masyarakat.
Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan urgensi pencegahan stunting sejak masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, khususnya ketika bayi masih berada dalam kandungan. MBG 3B
Kondisi ini disebut pitties dan merupakan fenomena adanya benjolan pada ketiak yang muncul ketika jaringan payudara berisi ASI mengalami pembengkakan.
Biasanya, dokter akan memberikan rekomendasi untuk memakai jenis kontrasepsi yang nonhormonal seperti kondom dan IUD.
Seorang perempuan di Filipina mengalami pembengkakan di ketiak yang ternyata jaringan payudara tambahan. Saat menyusui, cairan ASI keluar dari folikel rambutnya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ibu menyusui antara 12 dan 24 bulan memiliki risiko relatif stabil untuk penyakit kardiovaskular.
Seiring bertambahnya usia kehamilan, ukuran bayi yang semakin besar akan memberikan tekanan mekanis pada pembuluh darah di sekitar panggul.
Bidan menjadi garda terdepan yang memastikan perempuan mendapatkan layanan kesehatan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi dan balita.
Banyak yang mengira masa remaja adalah fase pertumbuhan tercepat manusia. Ternyata, bayi tumbuh jauh lebih pesat.
Karakteristik rambut seseorang, baik pada bayi maupun orang dewasa, ditentukan oleh faktor internal dan eksternal yang jauh lebih kompleks daripada sekadar dicukur.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Jakarta menegaskan bahwa mencukur rambut bayi tidak berkaitan dengan pertumbuhan rambut yang lebih lebat.
Pemberian ASI dan susu formula mungkin hal yang kelihatannya sepele. Namun kita harus menjamin kebutuhan ibu yang memiliki bayi dalam situasi bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved