Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Strategi Mengatur Pompa ASI bagi Ibu Menyusui Saat Berpuasa Ramadan

Basuki Eka Purnama
20/2/2026 07:30
Strategi Mengatur Pompa ASI bagi Ibu Menyusui Saat Berpuasa Ramadan
Ilustrasi(Freepik)

MENJALANKAN ibadah puasa Ramadan bagi ibu menyusui memerlukan strategi khusus agar produksi ASI tetap terjaga dan kebutuhan nutrisi buah hati tetap terpenuhi. 

Bidan sekaligus doula pendiri Bumilpamil, Jamilatus Sa’diyah, membagikan sejumlah tips praktis bagi para ibu untuk menjaga kelancaran pengosongan payudara selama berpuasa.

Menurut lulusan Poltekkes Kemenkes Jakarta 3 ini, kunci utama kelancaran produksi ASI terletak pada manajemen waktu memompa yang konsisten serta pemenuhan hidrasi tubuh. 

Jamila menyarankan ibu menyusui untuk tetap memompa ASI setiap dua hingga tiga jam sekali, atau sekitar 8 hingga 12 kali dalam sehari jika usia bayi masih sangat kecil.

"Waktu yang sering terasa optimal adalah setelah sahur, siang hari, menjelang berbuka, dan malam hari sebelum tidur," kata Jamila kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Teknik Stimulasi dan Pengosongan Optimal

Selain menyusui langsung (direct breastfeeding), konsistensi dalam memompa sangat krusial untuk mengosongkan payudara. 

Jamila mengingatkan para ibu untuk memastikan ukuran corong pompa sudah sesuai dengan ukuran payudara agar proses pengosongan berjalan optimal.

Ia juga menyarankan penerapan teknik kompresi payudara, yakni meremas payudara secara lembut dengan tangan untuk merangsang refleks pengeluaran ASI. Pijatan ringan sebelum dan saat memompa juga sangat dianjurkan untuk menstimulasi sekresi hormon oksitosin.

"Stimulasi oksitosin kondisi rileks, lingkungan nyaman, melihat foto atau video bayi, skin-to-skin contact saat DBF (menyusui langsung), serta sentuhan atau pijat ringan dapat membantu refleks pengeluaran ASI," jelasnya.

Kapan Harus Membatalkan Puasa?

Meski ingin menjalankan ibadah, Jamila menekankan bahwa kesehatan ibu dan bayi adalah prioritas utama. 

Mengingat produksi ASI sangat dipengaruhi oleh status cairan tubuh, ibu harus segera memenuhi kebutuhan cairan saat waktu berbuka dan sahur tiba.

Ibu menyusui disarankan untuk tidak memaksakan diri dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul tanda-tanda dehidrasi, seperti urine berwarna pekat, jarang buang air kecil, pusing hebat, hingga lemas. 

Tanda-tanda hipoglikemia seperti tubuh gemetar dan berkeringat dingin juga menjadi sinyal kuat untuk segera membatalkan puasa.

Dampak penurunan kondisi ibu juga bisa terlihat pada bayi, di antaranya bayi menjadi rewel, bibir kering, serta frekuensi buang air kecil yang menurun (kurang dari enam kali ganti popok sehari).

"Dalam prinsip kesehatan ibu dan anak, keselamatan ibu dan kecukupan nutrisi bayi adalah prioritas utama. Dalam Islam pun terdapat keringanan bagi ibu menyusui untuk tidak berpuasa bila dikhawatirkan berdampak pada dirinya atau bayinya," pungkas Jamila. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya