Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KELAINAN kaki datar atau kaki bebek (pes planus) kerap disepelekan. Bahkan, penderita sering kali tidak menyadari ia memiliki kelainan tersebut. Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Syarief Hasan Lutfie, mengatakan, hasil riset doktoralnya menemukan ada sekitar 20% orang Indonesia mengalami kaki datar.
"Kaki datar memengaruhi kemampuan kaki untuk berjalan, terutama dalam menapak yang menyebabkan kontraksi otot-otot tungkai akan bertambah. Tulang belakang, paha, hingga ke betis akan terpengaruh juga sehingga cepat mengalami capai otot atau fatigue," kata Lutfie dalam diskusi media di Jakarta, beberapa waktu
Ia mengatakan, salah satu faktor utama penyebab kaki datar dipengaruhi penggunaan alas kaki yang salah. Pasalnya, di Indonesia jarang alas kaki yang memiliki lapisan insole. Lapisan tersebut menyangga lekuk telapak kaki dan menopang kaki untuk berjalan dengan benar. Faktor risiko lainnya, antara lain obesitas, degeneratif karena pertambahan usia, dan diabetes.
Baca juga : Apakah Wajar Kaki si Kecil Berbentuk Huruf O?
"Berjalan dengan kondisi tidak benar dalam jangka panjang menyebabkan bentuk kaki yang tidak normal. Hal itu akan memengaruhi vaskularisasi jantung ke seluruh tubuh dan membuat orang cepat lelah. Risikonya bisa menimbulkan penyakit jantung rematik," terangnya.
Risiko mengalami kaki datar, imbuh Syarief, juga ia temukan pada kebanyakan jemaah haji Indonesia. Kebanyakan jemaah menggunakan alas kaki tanpa insole yang menyebabkan mereka juga cepat lelah.
"Jika diabaikan permasalahan kaki ini, jemaah akan mengalami kelelahan hingga kehabisan energi," jelas Syarief.
Baca juga : Mengukur Lingkar Kepala Anak Sebaiknya Jangan Dilupakan
Pada anak-anak, banyak orangtua cemas dengan bentuk kaki anaknya yang menyerupai huruf X atau O. Padahal, bentuk kaki yang tidak lurus itu belum tentu sebuah kelainan. Bisa jadi, bentuk kaki X maupun O merupakan bagian dari proses pertumbuhan si anak.
Dokter pakar ortopedi anak, dr Patar P Oppusinggu SpOT menjelaskan, dalam tumbuh kembangnya, secara alami kaki anak akan mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Normalnya, bayi baru lahir kakinya akan berbentuk O. Seiring bertambahnya usia, bentuk kaki berubah.
Di usia 1,5-2 tahun, kakinya lurus. Namun, di usia 3-4 tahun, kakinya akan berbentuk X. Bentuk X ini umumnya bertahan hingga anak berusia 7 tahunan. "Jadi, kalau liat kaki anaknya bentuk X atau O jangan panik dulu. Bisa jadi itu bagian dari proses tumbuh kembangnya," saran dr Patar pada seminar tumbuh kembang anak yang digelar Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB), Tangerang Selatan.
Baca juga : Kenali dan Atasi Kelainan Genital sejak Dini
Namun, lanjutnya, orangtua tetap perlu waspada terhadap tanda-tanda gangguan yang lebih serius. Misalnya, bentuk O dan X yang terjadi terlalu ekstrem, atau antara kaki kanan dan kiri tidak simetris, juga bila setelah 8 tahun kaki anak masih berbentuk X. Tanda lain yang perlu diwaspadai ialah ketika anak berjalan pincang atau berjinjit.
"Semakin dini kelainan dideteksi, koreksinya semakin mudah. Idealnya sebelum anak berusia delapan tahun," kata dr Patar yang berpraktik di RSPB itu.
Menurutnya, kelainan kaki X yang menetap hingga usia anak lewat dari 8 tahun bisa disebabkan kebiasaan duduk anak yang tidak benar, yakni saat anak duduk di lantai, posisi kakinya membentuk huruf W (lutut ditekuk, kedua betis ada di sisi luar paha, ujung jari kaki mengarah ke sisi kanan dan kiri tubuh).
Baca juga : Ketahui Penyebab Cerebral Palsy dan Sejumlah Gejalanya
"Jika dilakukan terus-menerus, kaki anak bisa jadi X. Kaki X ini bikin anak kerap terjatuh ketika berjalan karena kaki saling nyangkut. Bahkan ada akibat yang lebih parah dari kebiasaan duduk huruf W ini, yaitu kelainan pertumbuhan tulang pangkal paha, yang seharusnya berada dalam 'mangkuk' tulang panggul justru keluar dari 'mangkuk'," papar dr Patar.
Bagaimana jika anak telanjur berkaki X? Menurut Patar, sebelum anak berusia 8 tahun kelainan itu bisa dipulihkan tanpa operasi. Misalnya, dengan 'memaksa' anak untuk duduk bersila secara rutin. "Tapi jika usianya sudah lewat dari 8 tahun, biasanya perlu tindakan operasi," imbuh dr Patar.
Selain kaki X, ada juga kelainan kaki O yang biasa ditemukan pada bayi yang bisa berdiri dan berjalan di usia yang terlalu muda, yakni 7-9 bulan. Umumnya, early walking dialami bayi-bayi yang kurus. "Sebaiknya, cegah dengan tidak membantu dia berdiri, juga jangan memposisikan dia dekat dengan pegangan yang bisa membantunya berdiri," tutupnya. (H-2)
Data menunjukkan bahwa 20%–30% anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan secara global.
PERSAINGAN industri alas kaki nasional yang selama ini didominasi pemain berskala besar dan merek global menjadi semakin ketat.
Indonesia dan AS masih bernegosiasi tarif untuk beberapa komoditas yang tidak bisa diproduksi AS untuk dikenakan tarif 0%.
Alas kaki mencakup berbagai jenis seperti sepatu, sandal, sepatu boots, hingga sepatu olahraga.
Pada kuartal pertama 2025, nilai ekspor produk alas kaki Indonesia mencapai 1,89 miliar dolar AS, meningkat 13,80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Terinspirasi dari filosofi ikan koi, simbol ketangguhan dan keindahan yang tak bisa diduplikasi, Oscar Dainichi hadir dengan pola dan gradasi warna yang tidak pernah sama.
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
GANGGUAN tidur dan pernapasan semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan.
Sejumlah warga mengeluhkan demam yang disertai pegal, nyeri pada persendian, hingga rasa tidak nyaman pada tubuh.
Demensia adalah gangguan kesehatan yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, hingga berperilaku
Alergi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami banyak orang di berbagai usia. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat asing
Kesehatan anak adalah fondasi bagi masa depan yang cerah. Sayangnya, masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa selama anak tampak sehat, pemeriksaan rutin tidaklah perlu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved