Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pola Gangguan Kesehatan Berulang di Awal Ramadan: Mengapa Tubuh Kaget?

Basuki Eka Purnama
21/1/2026 18:30
Pola Gangguan Kesehatan Berulang di Awal Ramadan: Mengapa Tubuh Kaget?
Ilustrasi(Freepik)

SETIAP tahun, kedatangan bulan suci Ramadan membawa perubahan signifikan pada ritme hidup masyarakat, mulai dari pola makan, jam tidur, hingga aktivitas fisik. Namun, perubahan yang terjadi secara mendadak ini sering kali memicu fenomena yang disebut sebagai Health Adjustment Gap. 

Berdasarkan Indonesia Health Insights Report Edisi Q1 2026 yang dirilis Halodoc, kondisi ini terjadi ketika kesiapan tubuh tidak sepenuhnya sejalan dengan perubahan gaya hidup selama Ramadan hingga Idulfitri.

Data menunjukkan bahwa minggu pertama Ramadan merupakan fase adaptasi yang paling aktif sekaligus periode paling rentan. 

Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir. Salah satu lonjakan yang paling mencolok terjadi pada waktu sahur, yakni antara pukul 00.00 hingga 05.59, saat konsultasi kesehatan meningkat tajam hingga 150%.

Dominasi Gangguan Pencernaan dan Vertigo

Masalah pencernaan, seperti maag dan gastroesophageal reflux disease (Gerd), tetap menjadi keluhan utama dengan kenaikan konsultasi mencapai 21% dibandingkan rata-rata mingguan sebelum puasa. 

Selain pencernaan, laporan tersebut juga menyoroti peningkatan keluhan vertigo dan radang tenggorokan. Faktor pemicunya beragam, mulai dari kurangnya asupan cairan, perubahan jam tidur, hingga konsumsi jenis makanan tertentu.

Dr. Irwan Heriyanto, MARS, dari Board of Medical Excellence Halodoc, menjelaskan bahwa keluhan ini adalah respons alami tubuh.

“Di awal puasa, tubuh masih beradaptasi. Jam makan berubah, lambung menjadi lebih sensitif, sementara kurang tidur dan hidrasi juga memengaruhi keseimbangan tubuh. Karena itu, keluhan seperti maag, GERD, dan vertigo sering muncul bersamaan,” ujar Irwan.

Strategi Persiapan dan Adaptasi

Guna meminimalkan risiko tersebut, masyarakat disarankan untuk melakukan persiapan sejak dini. Langkah praktis yang dapat diambil meliputi peningkatan asupan serat dan cairan, serta menjaga pola makan seimbang saat sahur dan berbuka. Penting juga untuk membatasi makanan berlemak, pedas, dan berkafein.

Untuk menjaga hidrasi, metode minum 2-4-2 (dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur) dinilai sangat membantu mencegah dehidrasi. Sementara untuk menghindari vertigo, masyarakat diimbau menjaga kualitas tidur dan bangun secara perlahan saat waktu sahur tiba.

Peran Teknologi dalam Pendampingan Kesehatan

Menyadari bahwa kebutuhan informasi kesehatan sering muncul di waktu yang tidak biasa, Halodoc menghadirkan Hilda (Halodoc Intelligent Digital Assistant). Asisten digital berbasis AI ini berfungsi sebagai rujukan awal bagi masyarakat.

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, menegaskan, “Ramadan adalah periode perubahan gaya hidup yang signifikan. Kami ingin memastikan masyarakat memiliki rujukan berbasis data dan pandangan medis agar lebih siap menjaga kesehatannya, kapan pun dibutuhkan."

Dengan memahami pola kesehatan yang berulang dan melakukan antisipasi lebih awal, masyarakat diharapkan dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih nyaman dan sehat. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya