Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BIDURAN atau urtikaria bisa disebabkan oleh sejumlah faktor pemicu seperti debu, cuaca terlalu dingin atau panas, dan lainnya.
Biduran merupakan reaksi tubuh kita terhadap alergen. Jadi ketika ada alergen (bahan yang bisa membuat alergi), tubuh kita bereaksi dengan mengeluarkan histamin.
Baca juga : Jalani Pengobatan Eksim, Jangan Fobia Steroid
"Histamin ini akan melebarkan pembuluh darah sehingga cairan darahnya bisa rembes ke jaringan kulit, jadi deh tuh bentol-bentol ataupun pulau pulau kemerahan yang gatal dan hangat," kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Arthur S., SpDVE, FINSDV, di Instagram @doktetkulitkucom.
"Pulau-pulau pada biduran terjadi karena ada pelebaran dari pembuluh darah sehingga darahnya bisa rembes keluar dan akhirnya menjadi pulau," lanjutnya.
Baca juga : Apakah Berendam di Kolam Renang Dihitung Sebagai Mandi?
Lalu, apakah anak boleh mandi ketika mengalami biduran?
Baca juga : Ajarkan Anak Cara Tidur Berkualitas, Ada Tiga Tahapan
Secara umum, orang-orang yang mengalami biduran boleh mandi, asal tidak mandi menggunakan air panas atau air hangat. "Jadi kalau lagi biduran yang gak boleh itu adalah mandi air panas atau anget," paparnya.
"Kalau mandi air dingin pun bisa membantu karena bisa membantu menciutkan pembuluh darah yang akan dipelebar dan juga membantu mengurangi rasa gatal," sambungnya.
Baca juga : 20 Pertanyaan Trivia untuk Tambah Wawasan Anak di Waktu Liburan
Lebih lanjut, dr. Arthur memperingatkan apabila kamu khawatir atau curiga biduran yang kamu alami terjadi karena faktor cuaca atau udara yang dingin, sebaiknya kamu tidak mandi dengan air dingin.
"Pakai yangg dingin-dingin tentunya jangan dilakukan kalau kamu curiga biduran mu adalah karena dingin," pungkasnya. (M-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved