Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Israel Cegah Patriark Latin Jerusalem Masuki Makam Suci pada Minggu Palma

Wisnu Arto Subari
29/3/2026 21:52
Israel Cegah Patriark Latin Jerusalem Masuki Makam Suci pada Minggu Palma
Polisi Israel di Jerusalem.(Al Jazeera)

KEPOLISIAN Israel mencegah Patriark Latin Jerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, untuk memasuki Gereja Makam Suci guna merayakan Misa Minggu Palma. Demikian pernyataan Patriarkat Latin Jerusalem.

"Pagi ini, Kepolisian Israel mencegah Patriark Latin Jerusalem, Yang Mulia Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Kepala Gereja Katolik di Tanah Suci, bersama dengan Penjaga Tanah Suci, Yang Mulia Romo Francesco Ielpo, OFM, Penjaga resmi Gereja Makam Suci, memasuki Gereja Makam Suci di Jerusalem, saat mereka hendak merayakan Misa Minggu Palma," demikian pernyataan dari Patriarkat.

Disebutkan bahwa keduanya dihentikan saat berjalan secara pribadi tanpa ciri-ciri prosesi atau upacara, dan harus berbalik.

"Akibatnya, dan untuk pertama kali dalam beberapa abad, para Pemimpin Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Insiden ini merupakan preseden yang serius dan mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia, yang selama pekan ini, menantikan Jerusalem."

Minggu Palma, yang membuka Pekan Suci bagi umat Kristen, menandai masuknya Kristus untuk terakhir kalinya ke Jerusalem, beberapa hari sebelum penyaliban dan kebangkitannya, menurut Injil.

Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran memicu perang Timur Tengah pada 28 Februari, otoritas Israel telah melarang pertemuan besar, termasuk di sinagoge, gereja, dan masjid. Pertemuan publik dibatasi sekitar 50 orang.

Polisi Israel pada Minggu mengatakan semua tempat suci di Jerusalem ditutup sejak awal perang.

"Permintaan Patriark ditinjau kemarin dan diklarifikasi bahwa permintaan tersebut tidak dapat disetujui karena ada pembatasan," demikian pernyataan yang disampaikan kepada AFP.

"Kota Tua dan tempat-tempat suci merupakan area kompleks yang tidak memungkinkan akses bagi kendaraan darurat dan penyelamatan berukuran besar yang secara signifikan menantang kemampuan respons dan menimbulkan risiko nyata bagi nyawa manusia jika terjadi insiden korban massal," kata pihak berwenang. 

Prosesi Minggu Palma dibatalkan

Patriarkat Latin sebelumnya mengumumkan pembatalan prosesi Minggu Palma tradisional yang biasanya berlangsung dari Bukit Zaitun ke Jerusalem dan menarik ribuan umat setiap tahun.

"Para pemimpin gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan," kata Patriarkat.

"Mencegah masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, merupakan tindakan yang jelas-jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional," katanya.

"Keputusan yang tergesa-gesa dan pada dasarnya cacat ini, yang diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat, merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo."

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik tindakan polisi Israel. Menurutnya, insiden tersebut merupakan penghinaan bukan hanya terhadap umat beriman tetapi juga terhadap komunitas mana pun yang menghormati kebebasan beragama.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani secara terpisah mengatakan di media sosial X bahwa ia telah memanggil duta besar Israel terkait insiden tersebut.

Paus Leo XIV, berbicara setelah doa Angelus di Roma pada Minggu (29/3), memberikan penghormatan kepada umat Kristen di Timur Tengah, yang menderita akibat konflik mengerikan dan dalam banyak kasus tidak dapat sepenuhnya menghayati ritual hari-hari suci ini.

Di Kota Tua Jerusalem, toko-toko tutup dan jalanan sebagian besar sepi, karena umat Kristen mengungkapkan kesedihan atas pembatalan prosesi Minggu Palma tradisional.

"Tahun ini sangat menyedihkan. Karena kami selalu terbiasa dengan prosesi yang dimulai dari Bukit Zaitun, tetapi tahun ini karena tindakan pencegahan perang, hal itu dilarang," kata Andre, 51, yang hanya menyebutkan nama depannya, kepada AFP.

Simon Hosh, 25, seorang penduduk Kota Tua, juga sependapat. "Tahun ini karena perang, kami tidak dapat merayakan di jalanan seperti biasanya. Jadi, tahun ini kami hanya merayakan di gereja. Ini buruk." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya