Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Antisipasi Krisis Energi, Thailand Terapkan WFH dan Batasi Operasional SPBU

Basuki Eka Purnama
11/3/2026 05:36
Antisipasi Krisis Energi, Thailand Terapkan WFH dan Batasi Operasional SPBU
Ilustrasi--SPBU di Thailand(AFP/JACK TAYLOR)

PEMERINTAH Thailand resmi memberlakukan langkah-langkah penghematan energi besar-besaran bagi instansi pemerintah dan perusahaan milik negara. 

Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mulai mengancam stabilitas keamanan energi di Negeri Gajah Putih tersebut.

Salah satu poin utama dalam kebijakan ini adalah penerapan kerja jarak jauh atau work from home (WFH) bagi pegawai negeri sipil (PNS). 

Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand, Lalida Periswiwatana, menjelaskan bahwa Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah menginstruksikan setiap instansi untuk segera memetakan posisi yang memungkinkan untuk bekerja dari rumah.

"PM Thailand telah menginstruksikan instansi pemerintah dan perusahaan untuk segera menerapkan langkah-langkah yang memungkinkan karyawan bekerja dari rumah, ketika tugas mereka tidak berdampak terhadap penyediaan layanan publik," ujar Periswiwatana dalam konferensi pers di Gedung Pemerintah, Bangkok, Selasa (10/3).

Selain kebijakan WFH, pemerintah juga mengambil langkah tegas dengan menangguhkan seluruh perjalanan dinas luar negeri yang dibiayai negara. Kegiatan seperti kunjungan pendidikan hingga magang bagi pegawai kini wajib dilakukan di dalam negeri untuk menekan pengeluaran devisa.

Pembatasan Jam Operasional SPBU

Pemerintah Thailand saat ini tengah mematangkan program penghematan yang lebih luas, termasuk rencana penutupan harian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat.

Urgensi kebijakan ini didasari pada ketergantungan Thailand terhadap pasokan energi global. 

"Timur Tengah adalah pemasok energi terbesar di dunia dan konflik yang sedang berlangsung di sana menyebabkan volatilitas harga minyak dan energi global secara konstan. Pemerintah pun menganggap penanganan krisis energi yang mengancam sebagai prioritas utama," tambah Periswiwatana.

Protokol Konservasi Energi di Kantor

Di lingkungan perkantoran, Kementerian Energi Thailand mengusulkan sejumlah langkah konservasi. Pegawai didorong untuk mengatur suhu pendingin udara pada 25-26 derajat Celcius dan mengenakan pakaian lengan pendek daripada jas atau dasi, kecuali untuk acara resmi. 

Langkah pendukung lainnya meliputi pembatasan penggunaan lift serta mematikan peralatan elektronik dan komputer saat tidak digunakan.

Hingga 5 Maret, total cadangan minyak Thailand tercatat sekitar 2,1 miliar galon, sementara permintaan harian mencapai 32,7 juta galon. 

Saat ini, harga bensin dan solar masih dijaga melalui subsidi Dana Minyak Nasional yang berlaku selama 15 hari sejak awal Maret, meski pemerintah belum memutuskan apakah program subsidi tersebut akan diperpanjang atau tidak. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya