Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Serangan ke SD Minab di Iran Memantik Investigasi dan Tuntutan Tanggung Jawab

Ferdian Ananda Majni
04/3/2026 19:43
Serangan ke SD Minab di Iran Memantik Investigasi dan Tuntutan Tanggung Jawab
Ledakan di Teheran.((NDTV))

SERANGAN udara yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan, menewaskan ratusan orang dan memicu gelombang kemarahan di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Tragedi ini menjadi sorotan internasional karena besarnya korban sipil, mayoritas anak-anak. Pihak sebuah sekolah dasar menghubungi seorang ibu dengan pesan singkat namun mendesak tentang putranya.

"Perang telah dimulai. Datanglah menjemputnya," ucapnya.

Perempuan yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan ia baru saja mengantar anaknya ke sekolah dan tidak dapat segera kembali karena tengah menangani pasien dalam pekerjaannya sebagai bidan. Tak lama berselang, guncangan keras terasa. Ia pun bergegas menuju sekolah.

Namun semuanya sudah terlambat. Sebanyak tiga serangan udara menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan. Wali Kota Minab menyebutkan 168 orang tewas dalam peristiwa tersebut, sebagian besar adalah anak-anak. Putranya itu termasuk di antaranya.

"Saat kami tiba, seluruh sekolah telah runtuh menimpa anak-anak. Orang-orang menarik lengan dan kaki anak-anak. Orang-orang menarik kepala yang terpenggal," ujarnya kepada NBC News.

Empat hari setelah kejadian, duka dan kemarahan terus menguat. Tragedi di sekolah itu menjadi simbol penolakan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel. Hingga kini, belum ada pihak yang secara terbuka mengakui tanggung jawab atas insiden dengan korban sipil terbesar sejak perang dimulai.

Rekaman video dan foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan ribuan pelayat menghadiri pemakaman massal pada Selasa (3/3). Barisan panjang liang kubur digali berdampingan untuk menguburkan para korban.

Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menyerang ribuan target di Iran. Menurut Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran, hampir 800 orang tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Teheran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel serta sejumlah negara sekutu AS di kawasan, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Bahrain.

Enam personel militer AS dilaporkan tewas dalam serangan balasan tersebut, bersama 11 orang di Israel. Puluhan korban lain juga dilaporkan tewas akibat serangan Israel terhadap Hizbullah di Libanon.

Saat ditanya mengenai korban sipil, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pasukan AS tidak akan sengaja menargetkan sekolah, serta menambahkan bahwa "Departemen Pertahanan akan menyelidiki hal itu jika itu adalah serangan kami,". Komando Pusat AS pada akhir pekan menyatakan tengah menyelidiki laporan korban sipil. Sementara itu, militer Israel belum memberikan komentar resmi.

Pejabat Minab dan ibu korban menyebut kompleks sekolah tersebut berdiri di atas bekas pangkalan Garda Revolusi Iran yang telah ditutup sekitar 15 tahun lalu, dengan seluruh personel militer dipindahkan. Meski demikian, sekolah tetap beroperasi. Citra satelit 2011 memperlihatkan bangunan tersebut berada dalam satu kompleks sebelum kemudian dipisahkan pagar.

Juru Bicara Kementerian Pendidikan Iran, Ali Farhadi mengatakan tiga serangan menghantam sekolah yang memiliki 264 siswa. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pada hari Sabtu bahwa sekolah itu dibom pada siang bolong, saat penuh dengan murid-murid muda.

"Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan begitu saja," pungkasnya. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya