Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pasukan Israel Tahan Syekh Rani Abu Sbeih di Gerbang Masjid Al-Aqsa Saat Jemaah Hendak Ibadah

Haufan Hasyim Salengke
28/2/2026 11:19
Pasukan Israel Tahan Syekh Rani Abu Sbeih di Gerbang Masjid Al-Aqsa Saat Jemaah Hendak Ibadah
Warga Palestina menuju ke pos pemeriksaan Israel untuk menyeberang ke Yerusalem untuk melaksanakan salat Jumat kedua Ramadan di Masjid Al-Aqsa meskipun ada pembatasan dari Israel.(AA)

KETEGANGAN di Yerusalem Timur, Tepi Barat, Palestina, yang diduduki Israel kembali memuncak di bulan suci Ramadan. Pasukan Israel dilaporkan menahan seorang ulama terkemuka, Syekh Rani Abu Sbeih, tepat di gerbang Masjid Al-Aqsa saat ribuan jemaah hendak melaksanakan ibadah, Jumat (27/2) malam.

Menurut laporan dari Kegubernuran Yerusalem, Syekh Abu Sbeih dicegat di salah satu pintu masuk masjid sebelum dibawa ke pusat interogasi di area Bab al-Khalil. Penangkapan ini menjadi simbol eskalasi tindakan represif Israel di wilayah tersebut.

Sejak Jumat pagi, suasana di Kota Tua Yerusalem terpantau sangat ketat. Militer Israel mengerahkan personel tambahan dan memasang barikade besi di jalan-jalan utama menuju kompleks Al-Aqsa. Pembatasan ini menyasar warga dari Tepi Barat, termasuk lansia, yang banyak diputar balik di pos pemeriksaan Qalandia dan Bethlehem.

"Meskipun ada pembatasan ketat, sekitar 100.000 jemaah tetap berhasil melaksanakan salat Jumat di Al-Aqsa," tulis pernyataan resmi Kegubernuran Yerusalem.

Gangguan Ibadah dan Penargetan Jurnalis

Selain penangkapan tokoh agama, otoritas pendudukan Israel juga mengeluarkan lebih dari 280 perintah larangan masuk bagi warga Palestina. Mereka yang terusir terpaksa beribadah di Permakaman Bab al-Rahma yang berdekatan dengan kompleks masjid.

Eskalasi tidak berhenti di situ. Pasukan keamanan juga dilaporkan menghalangi pengiriman makanan untuk berbuka puasa (iftar) dan sahur, mengganggu operasional klinik medis di dalam kompleks, melarang pemasangan tenda pelindung bagi jemaah, dan elakukan pemeriksaan lapangan dan penahanan terhadap pemuda selama salat tarawih.

Pers juga tidak luput dari tekanan. Sejumlah jurnalis mengalami intimidasi, pemanggilan interogasi, hingga pengusiran dari lokasi untuk mencegah peliputan pelanggaran hak asasi manusia di lapangan.

Kegubernuran Yerusalem menegaskan bahwa tindakan ini adalah upaya sistematis untuk mengubah status hukum dan historis Masjid Al-Aqsa. Mereka menyerukan komunitas internasional untuk bertanggung jawab atas pelanggaran kebebasan beragama yang terus berulang di kota suci tersebut. (WAFA/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya