Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Bantah Jenderal Dan Caine Tolak Serang Iran, Trump: Saya yang Putuskan

Media Indonesia
24/2/2026 18:15
Bantah Jenderal Dan Caine Tolak Serang Iran, Trump: Saya yang Putuskan
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara tegas membantah laporan media yang menyebut Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menentang rencana serangan militer AS terhadap Iran. Trump menegaskan bahwa otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan perang berada sepenuhnya di tangannya.

Melalui platform media sosial Truth Social pada Senin (23/2/2026), Trump melabeli laporan tersebut sebagai berita tidak akurat. Ia memperingatkan bahwa tanpa adanya kesepakatan yang dinegosiasikan, Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius.

"Banyak cerita dari media berita palsu yang beredar menyatakan bahwa Jenderal Daniel Caine, yang kadang disebut Razin, menentang kita untuk pergi berperang dengan Iran. Cerita tersebut tidak menyebutkan sumber yang memiliki pengetahuan yang begitu besar itu, dan itu 100 persen tidak benar," tulis Trump.

Klarifikasi Posisi Militer AS terhadap Iran

Pernyataan keras Trump ini muncul sebagai respons atas laporan media lokal yang mengeklaim Jenderal Caine menyarankan risiko signifikan dari kampanye militer terhadap Teheran kepada pejabat tinggi Gedung Putih.

Meskipun mengakui bahwa Caine dan jajaran pemerintahannya lebih memilih jalur diplomasi untuk menghindari perang, Trump memastikan bahwa militer AS dalam posisi siap tempur jika perintah operasi dikeluarkan.

"Jenderal Caine, seperti kita semua, ingin tidak melihat perang. Tetapi, jika keputusan dibuat untuk melawan Iran pada tingkat militer, menurut pendapatnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan," tambah Trump.

Trump juga menyinggung rekam jejak kepemimpinan Caine dalam operasi Midnight Hammer musim panas lalu, misi yang menargetkan infrastruktur pengembangan nuklir Iran. Ia memuji Caine sebagai pejuang hebat yang memimpin kekuatan militer paling tangguh di dunia.

Otoritas Tertinggi di Tangan Presiden

Dalam narasinya, Trump berulang kali menegaskan posisinya sebagai Panglima Tertinggi (Commander-in-Chief). Ia menepis ada keraguan atau perpecahan di dalam kepemimpinan militer terkait opsi serangan terbatas.

"Saya yang membuat keputusan. Saya lebih memilih ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu (Iran)," tegasnya.

Trump juga menyampaikan rasa simpatinya kepada rakyat Iran, menyebut mereka sebagai masyarakat yang luar biasa tetapi terjepit dalam situasi yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Ketegangan ini memuncak menjelang pertemuan krusial antara delegasi Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pada Kamis mendatang. Pertemuan tersebut bertujuan melanjutkan pembahasan mengenai potensi kesepakatan nuklir baru di tengah spekulasi perang yang terus meningkat di kawasan tersebut. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya